• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Pulau Goree, Saksi Bisu Perbudakan dan Harapan Baru di Afrika Barat

18 December
21:53 2018
3 Votes (5)

KBRN, Dakar :Gemuruh suara ombak dan burung camar semakin riuh, seiring dengan semakin mendekatnya Ferry yang saya tumpangi dengan beberapa rekan media nasional, yang mengikuti program kunjungan jurnalis dari kementerian luarnegeri RI tiba ke pulau Goree di kota Dakar, Senegal.

Sebagaimana diketahui Pulau Goree telah menjadi warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1978 silam.

Pulau yang memiliki luas 27 hektare tersebut, terkenal akan situs bersejarahnya yang disebut “House of Slaves” atau “Rumah Para Budak”.

Seperti turis kebanyakan yang datang ke pulau Goree, grup kamipun menyewa jasa pemandu wisata dan pilihan kami jatuh kepada Abdou.

Ia juga merupakan penduduk setempat.

Abdou menceritakan bahwa “Rumah Para Budak” didirikan oleh bangsa Portugis pada tahun 1536 dan sejak itu jutaan budak datang ke pulau Goree dari seluruh penjuru Afrika Barat.

“Pulau ini ditemukan oleh seorang navigator asal Portugis pada tahun 1440. Sejak itu diawali dengan sekitar 28 budak dibawa ke pulau ini. Kemudian, diikuti dengan pembangunan “Rumah Para Budak” pada tahun 1536 oleh Portugis,”jelas Abdou.

Belasan ruangan terdapat di “Rumah Para Budak” dan masing-masing memiliki luas sekitar 3x4 meter, yang kemudian diisi oleh puluhan orang sebelum akhirnya mereka diberangkatkan menuju Amerika Serikat, Kuba, Brazil, maupun kepulauan Karibia sebagai budak.

“Ini adalah ruangan bagi para budak pria. Mereka dituntut untuk memiliki berat badan tidak lebih dari 60 kilogram. Mereka dirantai satu sama lain dengan kaki beri beban besi baja mencapai 5 hingga 10 kilogram pada masing-masing kaki. Sehingga, mereka harus berjalan bersama-sama kemanapun itu, termasuk ketika harus ke toilet. Di ruangan sempit dan kurang udara segar, dengan sangat cepat menyebabkan infeksi maupun penularan penyakit. Terlebih, ketika itu tidak ada dokter di sini,”papar Abdou sambil menunjukkan ruangan yang hanya memiliki satu lubang udara berukuran sekitar 30 cm x 30 cm tersebut.

Yang membuat saya tersentak sedih adalah ketika Abdou menunjukkan kami suatu ruangan berukuran tidak lebih dari 2x3 meter dan ruangan tersebut diperuntukkan bagi anak-anak.

Menurut Abdou, anak-anak yang menjadi budak ketika itu juga diperlakukan sama layaknya orang dewasa.

“Mereka juga dirantai satu sama lain dengan kaki yang dipasang beban besi, dengan berat yang dapat mencapai 5 kg pada masing-masing kaki,”imbuhnya.

“The Door of No Return” atau “Pintu Tanpa Kembali” menjadi saksi bisu dari keberangkatan para budak ke luar Afrika.

Abdou menjelaskan, setidaknya sekitar 15 – 20 juta budak satu persatu melewati pintu yang memiliki tinggi 3 meter dan lebar 1 meter yang menghadap ke Samudera Atlantik tersebut, untuk menuju kapal yang akan membawa mereka.

“Sayangnya, sekitar 16 juta budak juga turut meninggal di “Rumah Budak”, dikarenakan sakit dan tidak adanya dokter kala itu,”terang Abdou.

“The Door of No Return” dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1776 silam.

Sementara, dalam kurun waktu 5 abad, bangsa Eropa mengambil alih “Rumah Para Budak”, diawali oleh Portugis, Belanda, Perancis, Inggris dan kemudian kembali ke Perancis.

Sedangkan, pada tahun 1960 pemerintah Senegal membeli “Rumah Budak” dari seorang warga lokal.

Beribu-ribu tahun berlalu dari masa perbudakan, Pulau Goree hingga kini masih ditinggali oleh masyarakat yang berjumlah mencapai sekitar 1800 jiwa.

Bersyukur sore itu saya sempat bertemu dengan seorang remaja asli Pulau Goree bernama Ahmad Dou.

Remaja berusia 13 tahun itupun dengan bangga bercerita kepada saya bahwa ia sangat mencintai Pulau Goree.

“Saya sangat senang berada di pulau Goree. Di sini saya lahir dan tinggal bersama orangtua, saudara serta teman-teman saya,”ungkap Ahmad Dou.

Ahmad Dou menyatakan, pulau Goree merupakan tempat yang penuh kedamaian dengan suasana yang tenang menjadikan siapapun betah di sana.

“Di sini suasananya tenang dan damai. Setiap Minggu saya selalu pergi ke pantai bersama teman-teman untuk berenang dan memancing ikan. Kemudian, kami akan bermain sepakbola. Kami gemar sekali bermain sepakbola dan saya merupakan penggemar klub bola Real Madrid dan Liverpool,”tambahnya.

Memasuki zaman modern seperti saat ini ternyata tidak menjadikan Pulau Goree lantas dilupakan oleh dunia.

Beberapa tahun lalu bahkan pemerintah setempat mengadakan festival yang dikhususkan bagi para keturunan budak Afrika Barat dari penjuru dunia, untuk melakukan kilas balik perjalanan nenek moyang mereka sebagai budak.

Serta, besar wisatawan yang datang ke pulau Goree merupakan keturunan para budak yang sebelumnya diberangkatkan dari “Rumah Para Budak”.

Sisi lain dari pulau Goree adalah dimana masyarakatnya meski berbeda agama, baik muslim maupun kristiani hidup berdampingan dengan damai.

Selain, warga setempat juga percaya bahwa terdapat “Setan Penjaga” pulau yang disebut “Coumba Castel”.

Konon “Setan Penjaga” berjenis kelamin perempuan itu pula yang menghancurkan jembatan yang dibangun oleh Perancis saat masa perbudakan berlangsung. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00