• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kesehatan

Gubernur Diminta Copot Direktur RSUDZA, Soal Penelantaran Pasien IGD

10 December
17:35 2018
1 Votes (5)

KBRN, Banda Aceh : Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mendesak Pelaksana Tugas Gubernur Aceh untuk Mencopot Direktur Rumah Sakit Umum Dokter Zainoel Abidin (RSUDZA), terkait penelantaran pasien oleh dokter di ruang IGD rumah sakit tersebut pada Senin (10/12/2018) dini hari. 

Sekretaris YARA, Fakhrurrazi, kepada wartawan mengatakan, desakan ini bukan tidak beralasan dimana saat salah seorang Masyarakat yang kebetulan Paralegal YARA sekitar pukul 1.30 dini hari di bawa berobat melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) mendapatkan pelayanan yang buruk dan tidak sesuai seperti slogan slogan yang terpasang di beberapa dinding bangunan RSUDZA.

"Saya melihat sendiri bagaimana pelayanan yang diberikan walaupun saat pertama masuk sudah meminta tolong kepada para dokter di IGD ada pasien tidak mendapat respon, bahkan saat meminta bantuan kepada petugas pengamanan di IGD agar si pasien  mendapatkan penanganan dari dokter itu pun tidak terwujud," kata Fahrurazi yang juga merupakan keluarga pasien. 

"Sampai lebih kurang hampir setengah jam pasien terjatuh dari kursi roda ke lantai itu pun hanya menjadi tontonan dari sekian banyak dokter di IGD, setelah saya berdebat dan bersuara keras baru ada pelayanan yang diberikan untuk pasien," ceritanya. 

Menurut Fahrurazi, penghargaan prestisius yang diraih oleh Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) patut dipertanyakan. Pasalnya rumah sakit ini mendapat sederet prestasi diantarnya sukses meraih prestasi tertinggi untuk pelayanan kesehatan di level nasional, yaitu predikat ‘Best of The Best’ atau terbaik dari yang terbaik untuk kategori RSUD Tahun 2018 dimana sebelumnya juga telah meraih Akreditasi Paripurna lima bintang, yang diberikan oleh SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit).

"Jika seperti ini layanan yang diberikan untuk apa penghargaan setinggi langit dan pemberian penghargaan sebesar itu patut dipertanyakan bagaimana cara mendapatkannya," tegasnya. 

Fahrurazi mengungkapkan, dari beberapa temuan pihaknya, masih ada masalah terutama terkait pelayanan yang diberikan RSUDZA terhadap masyarakat Aceh yang terkesan tidak sepenuh hati. 

"Masih jauh dari standar pelayanan yang baik," ujarnya lagi. 

"Untuk apa penghargaan jika hak hak pasien diabaikan, Rumah sakit ini pelayanannya menyangkut nyawa orang bukan pelayanan mengurus KTP," timpalnya dengan nada kesal. 

Sebelumnya diberitakan, seorang pasien bernama Samsul Bahri (38) warga Aceh Timur diduga mendapat perlakuan tidak baik saat berada di IGD RSUDZA. Pasien yang mengalami sakit demam tinggi itu tidak mendapatkan pelayanan dari dokter, bahkan sampai terjatuh ke lantai dari kursi roda. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00