• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

51 Tahun Berdiri, ASEAN Tetap Perlu Waspada Ancaman Tradisional dan Non Tradisional

6 December
22:04 2018
1 Votes (4)

KBRN, Jakarta : ASEAN sebagai organisasi 10 negara di kawasan Asia Tenggara, tahun ini telah merayakan kebersamaan selama 51 tahun.

Dalam usia yang lebih dari setengah abad tersebut, keberadaan ASEAN oleh dunia internasional dipandang sangat memiliki peran terutama dalam menjaga stabilitas kawasan.

Meski demikian, ASEAN dianggap tetap perlu mewaspadai berbagai tantangan serta ancaman yang berpotensi terjadi.

Direktur jenderal Kerjasama ASEAN dari kementerian luarnegeri RI, Jose Tavares, mengatakan, masyarakat ASEAN perlu mewaspadai berbagai ancaman baik bersifat tradisional maupun non tradisional.

“Tentu saja banyak tantangan, misal internal yang boleh dikatakan “given”. Yaitu, keanekaragaman yang ada, sistem politik yang beragam, agama, suku bangsa. Disamping itu juga ada tantangan eksternal. Ada juga hal-hal yang bersifat ancaman yang bersifat tradisional maupun nontradisional,”ungkap Jose Tavares ketika dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Jose Tavares mencontohkan, misalnya saja ancaman bersifat tradisional salah satunya adalah sejumlah sengketa batas negara yang terjadi diantara anggota ASEAN.

“Tradisional misalnya, sengketa territorial masih ada diantara negara-negara anggota ASEAN selama 51 tahun. Perbatasan diantara satu negara dengan negara lain, tidak semuanya selesain. Artinya, masih ada misalkan batas antara Thailand dan Kamboja, Indonesia dan Malaysia, dan sebagainya. Ancaman non tradisional seperti kejahatan lintas negara, terorisme, narkoba, dan keamanan siber,”imbuhnya.

Jose menjelaskan ASEAN sebagai organisasi di kawasan Asia Tenggara, tetap berkomitmen pada prinsip penyelesaian masalah secara damai “Peaceful Settlement of Dispute”.

“Secara perlahan-lahan ASEAN akan menyelesaikan masalah itu secara baik-baik (Peaceful Settlement of Dispute”) dan secara kolektif untuk bekerjasama mengaddress ancaman-ancaman di kawasan. Misal mengenai kejahatan lintas negara,”ujar Jose.

Dibagian lain Jose Tavares menyatakan, diusianya yang telah memasuki 51 tahun, tidak dapat dipungkiri bahwa ASEAN berhasil mencapai kemajuan signifikan.

“Hal itu dapat dilihat dari berbagai kerjasama di kawasan yang dijalin antar anggota. Serta, ASEAN yang sebelumnya merupakan “Loose Organisation” atau suatu “Organisasi yang Longgar”, melangkah menjadi “Rules Organisation” atau “Organisasi Aturan” dan saat ini merupakan “ASEAN Community” atau “Komunitas ASEAN”. Jika dikatakan ada kemajuannya namun perlahan, memang kerjaan organisasi kawasan seperti itu. Karena, kita menyangkut 10 negara anggota dan masing-masing punya posisi. Sehingga, itu harus disinergikan. Banyak sekali negara yang mau bermitra dengan ASEAN,”tutup Jose.

Sementara, ASEAN juga telah meluncurkan “Visi Komunitas ASEAN 2025” dengan tema besar “ Melangkah Maju Bersama”.

ASEAN 2025 merupakan dokumen pengganti “Peta Jalan” menuju Masyarakat ASEAN (2009-2015), yang telah telah berakhir pada 31 Desember 2015.

Dokumen ini merefleksikan langkah-langkah strategis implementasi Masyarakat ASEAN dalam sepuluh tahun ke depan.

Serta, sejumlah elemen baru ditambahkan guna memastikan ASEAN 2025 tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00