• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Pariwisata, Arah Baru Pembangunan Batam

5 December
23:36 2018
1 Votes (5)

KBRN, Batam : Selly (28), seorang wanita yang bekerja di salah satu instansi di Batam Center. Menempuh perjalanan dari Batam Center menuju Sekupang sudah menjadi rutinitas pekerjaannya. Satu hal yang sering membuatnya kesal adalah ketika harus berangkat pada pagi atau sore hari. Kekesalannya bukan tanpa alasan. Sebab di waktu itu ia selalu bertemu kemacetan yang panjangnya kerap lebih dari satu kilometer saat melewati Simpang Jam. 

Sekarang kekesalannya hanyalah kenangan. Sejak ruas jalan menuju simpang jam diperlebar dan flyover Laluan Madani dioperasikan pada akhir tahun 2017 lalu, arus lalu lintas di Simpang Jam telah lancar. Berangkat pagi maupun sore bukanlah masalah lagi bagi Selly. 

"Jalannya lebar, lampu merahnya juga jadi lebih cepat, semakin hemat waktu kalau mau ke Sekupang atau balik ke kantor," ujarnya, Rabu (5/12/2018).

Sejak dua tahun terakhir ini, pembangunan infrastuktur menjadi prioritas pemerintah kota Batam, khususnya pelebaran jalan. Sedikitnya ada 20 titik pelebaran jalan yang digesa pemerintah kota Batam sejak awal tahun 2018. 

Titik itu antara lain Jalan Raja Haji Fisabilillah, dari BNI Sei Panas menuju fly over Laluan Madani Simpang Jam, jalan Laksamana Bintan dari BNI Sei Panas ke Underpass Pelita, dari BNI Sei Panas ke Simpang Frengki, dan dari Simpang Frengki ke Grand Niaga Mas Batam Centre. Bahkan pelebaran jalan juga menyentuh ruas Jalan Laksamana Bintan dari simpang Patung Kuda Sei Panas sampai ke Bengkong Second.

Perubahan ruas jalan di Batam yang terlihat signifikan juga mulai dirasakan oleh pengunjung kota Batam. Selamet (56), pria asal Jakarta mengaku takjub melihat perubahan kota Batam beberapa tahun ini. Menurutnya, setiap tahun pembangunan infrastruktur di Batam terbilang pesat.

"Sudah mirip Jakarta nih Batam sekarang jalannya luas-luas," ujarnya.

Tujuan utama Selamet dari Jakarta sebenarnya bukanlah ke Kota Batam, melainkan ke Tanjungpinang untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Ia sengaja selalu menyempatkan diri singgah ke Batam, untuk mencari oleh-oleh buat kerabatnya di Jakarta. 

"Kalau pulang dari Tanjungpinang, pasti ditanyain kawan-kawan, mampir ke Batam atau egak. Batam ini ada banyak pilihan kuliner yang bisa dijadikan oleh-oleh," jelasnya.

Ketenaran nama Batam sudah dikenal di tingkat nasional maupun internasional. Batam tercatat sebagai pintu masuk ke-3 terbesar wisatawan mancanegara (wisman) masuk ke Indonesia. Hingga September 2018, dari total jumlah 1,870,317 kunjungan wisman di Kepri, Batam menyumbang angka kunjungan terbesar, yaitu sebanyak 1,375,471 orang.

Potensi pariwisata ini tak disia-siakan pemerintah kota Batam. Masifnya pembangunan infrastruktur juga bertujuan untuk membangun sektor pariwisata sebagai pendukung pertumbuhan ekonomi kota Batam, selain dari sektor industri. 

Kepariwisataan merupakan salah satu sektor yang dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan. The World Tourism Organization (UNWTO) sebagai bagian dari PBB telah menetapkan bahwa pembangunan kepariwisataan adalah pembangunan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan (Sustainable and Responsible Tourism).

Pelaksana Tugas Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata mengatakan Batam tengah menerapkan konsep 3A dalam mengembangkan daerah sebagai destinasi wisata, yakni aksesibilitas, amenitas dan atraksi. Pembangunan infrastruktur diharapkan mampu menjadi daya dukung Batam sebagai kota wisata dalam hal aksesibilitas.

"Hingga 2024 akan terus dilebarkan jalannya, targetnya minimal 2 jalur 3 lajur. Pedesteriannya juga dibenahi. Pengusaha kita ajak menggunakan CSR-nya untuk memperindah kota Batam dengan membangun taman atau mural. Ini tentunya akan menjadi daya tarik wisata. Apalagi kita punya anugerah berupa letak yang strategis berdekatan dengan Singapura dan Malaysia," jelasnya.

Sementara untuk amenitas, Ardi mengatakan Batam memiliki fasilitas yang dapat dimanfaatkan wisatawan selama berwisata di suatu destinasi. Fasilitas itu diantaranya hotel, ballroom, rumah sakit, toilet umum, restoran, toko cenderamata dan sarana ibadah.

"Kita sekarang juga sedang membangun Masjid Agung di Batu Aji, kapasitasnya bisa menampung sampai 25.000 jamaah. Kita akan membenahi beberapa spot untuk membuat kunjungan wisatawan lebih lama. Ke depan atraksi yang dihadirkan juga bukan hanya pagelaran tapi kalau perlu setiap hari ada atraksi," ujar dia

Selain giat dengan infrastruktur, Walikota Batam, HM. Rudi juga mengajak masyarakat menumbuhkan rasa memiliki terhadap kota Batam. Sejak Oktober 2018, Walikota Batam menggaungkan tagar #BataMiliKita (Batam Milik Kita) dalam berbagai kesempatan. 

“Batam ini masyarakatnya majemuk, terdiri dari multi etnis, multi agama, multi suku dan multi profesi. Beragam budaya ada disini. Semuanya harus bertekad untuk bersatu karena Batam Milik Kita," ujarnya kepada RRI.

Menurut pegiat pariwisata, Eddy sutrisno tagar Batam Milik Kita merupakan upaya positif dari pemerintah kota membangun kecintaan masyarakat terhadap daerahnya. Dengan adanya rasa cinta, maka setiap warga akan menjadi duta untuk menjaga dan merawat Batam.

"Kalau kita kurang peduli akan sulit mengembangkan pariwisata, ini terkait sadar wisata. Saya yakin semangat ini akan mampu merevitalisasi sektor pariwisata Batam. Kita dulu pernah menjadi tujuan wisata terbesar kedua di Indonesia sekitar tahun 1998 hingga 2000," ungkap dia.

Dalam catatan sejarah, BJ Habibie mulai membangun Batam pada tahun 1978  dengan membawa master plan sebagai kawasan industri, jasa, perdagangan, alih kapal dan turisme. Konsep pengembangan Batam menuju kota wisata sudah ada sejak dulu, meski belum menjadi prioritas utama.

"Hanya diam saja sebenarnya Batam sudah akan dikunjungi wisman dari Malaysia atau Singapura, tapi bukan itu konsepnya. Dengan pengelolaan dan infrastruktur yang baik, saya yakin Batam bisa mendatangkan wisatawan hingga 7 juta orang per tahun bukan mustahil. Bayangkan Batam ini pulau kecil tapi ada 5 pelabuhan ferry. Jarang ada di Indonesia. Bila kita kerja keras kita bisa melampaui Bali dan Jakarta," kata dia.

Penulis buku Wonderfull Batam ini berharap pemerintah kota Batam turut mengembangkan potensi wisata bahari. Sebab Batam memiliki kepingan surga berupa  400 lebih pulau yang tersebar di luar wilayah mainland. Menurutnya, wisata bahari akan meningkatkan jumlah kunjungan dan masa kunjungan wisatawan di Batam.

"Ke Jodoh, Nagoya dan Nongsa itu ritual wajib bagi wisatawan domestik dan asing. Tapi cobalah untuk luangkan waktu juga 1 hingga 2 hari untuk eksplorasi pulau-pulau wisata di Batam. Disana ditawarkan banyak hal, keramahan penduduk, atmosfir laut dan lingkungan yang orisinal serta pengalaman yang berbeda," paparnya.

Kesiapan pemerintah kota Batam untuk menjadikan kota Batam semakin terlihat dengan adanya pengajuan Rancangan Awal (Ranwal) Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Batam tahun 2016 - 2021 ke DPRD Batam. Sesuai peraturan menteri dalam negeri (permendagri) nomor 86 tahun 2017, perubahan RPJMD dapat dilakukan saat masa berlaku RPJMD tidak kurang dari 3 tahun.

Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kota Batam, Sukaryo membenarkan adanya rencana perubahan RPJMD. Ia mengatakan berdasarkan Ranwal terdapat perubahan pada tujuan, sasaran dan program pemerintah kota Batam. 

"Diajukan ke pimpinan DPRD tanggal 16 November, pembahasan di DPRD sudah dilakukan tanggal 26 November kemarin. Rancangan awal itu hendaknya mendapat nota kesepakatan DPRD melalui paripurna," ujar politisi itu.

Perubahan itu terkait kondisi perekonomian Nasional, Provinsi Kepri serta Kota Batam tahun 2016-2017 sehingga memerlukan penyesuaian terhadap target kinerja pembangunan. Target RPJMD harus lebih realistis menyesuaikan dengan kemampuan anggaran.

"Ada 6 isu strategis, diantaranya adalah peningkatan kualitas produk kepariwisataan, jasa dan perdagangan sebagai unggulan kota Batam. Titik fokus dari isu pariwisata, pemerintah akan mengembangkan ekowisata bahari, wisata kuliner, wisata historis dan budaya, meningkatkan iklim investasi pariwisata dan promosi pariwisata," jelasnya.

Dalam perubahan RPJMD pemerintah kota Batam memiliki sasaran meningkatkan pengembangan pariwisata dengan program prioritas pengembangan sektor pariwisata serta program pelestarian pengembangan seni dan budaya. 

"Selama ini parwisata belum menjadi isu utama. Membangun infrastruktur pariwisata ini butuh kerjasama seluruh pihak di Batam. Target infrastruktur pendukung sebagai kota wisata akan lebih cepat terwujud bila ada dukungan kuat dari APBD provinsi Kepri dan APBN. Ada baiknya BP Batam juga didorong turut bangun infrastruktur dibanding event," ujarnya.

Sektor pariwisata menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi di Kota Batam. Pengembangan sektor ini diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Batam yang hanya sebesar 3,08 persen di tahun 2017. Selain menggerakkan ekonomi, pariwisata juga memberdayakan masyarakat.

"Kita memang tidak bisa hanya punya bertumpu ke sektor industri saja. Pariwisata mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi yang strategis bagi Batam. Seiring dengan itu dengan telah hadirnya Mall Pelayanan Publik, kita terus tingkatkan pelayanan menjaring investasi," kata Sukaryo.

Optimisme menjadikan Batam sebagai kota wisata dan membangun infrastrukturnya juga disampaikan Anggota Komisi II DPRD Batam, Hendra Asman. Menurutnya, keberhasian pemerintah menjadikan pariwisata sebagai arah baru pembangunan akan sangat ditentukan dengan kemampuan pemerintah mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Karena pembangunan tergantung PAD. Kita sudah bikin target untuk pendapatan 2019. Dengan kesungguhan stakeholder, khususnya BP2RD yang bertanggung jawab penuh, kami mendorong dan mengawasi mereka agar mencapai target agar tidak muncul rapot merah," ungkapnya.

Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Batam, Raja Azmansyah mengatakan saat ini sektor pariwisata di Batam menyumbang 30 persen PAD kota Batam melalui pajak hotel, restoran dan hiburan. Sisanya sebagian besar berasal dari retribusi dan pajak yang menjadi kewajiban masyarakat. 

Saat ini komposisi sumbangan terbesar dalam pembangunan kota Batam masih berasal dari pajak BPHTB, pajak penerangan jalan umum dan PBB P-2. Hingga awal Desember 2018 ini, pencapaian target ketiga pajak itu sudh mencapai kisaran 70 hingga 85 persen. Pemerintah kota Batam memudahkan masyarakat mengetahui pencapaian target retribusi maupun pajak melalui situs www.siependa.batam.go.id sebagai bentuk penyelenggaraan pemerintah yang transparan.

"Hampir 90 persen pembangunan kota Batam itu sumbernya dari pajak. Mulai dari pembangunan jalan hingga infrastruktur di kelurahan itu sumber terbesar dari PAD kita. Ada juga dari pusat biasanya ada Dana Alokasi Khusus (DAK) atau dari provinsi, tapi tidak dominan. Kesadaran masyarakat Batam membayar pajak sangat menentukan keberhasilan pembangunan di Batam," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00