• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Ketika Medsos Picu Amarah, Ini Sebetulnya yang Terjadi

5 December
08:04 2018
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : Suatu malam di sebuah warung angkringan, Kirun menumpahkan kemarahan pada Marwoto. Kirun yang juga seniman itu merasa kesal, karena sahabatnya itu membuat sebuah tulisan di media sosial, yang isinya mengharamkan seni tradisi.

"Maksudmu apa nulis wayang itu haram, kethoprak haram, kalau pemain wayang tidak bisa pentas nggak bisa makan," kata Kirun.

Menanggapi kemarahan sahabatnya, Marwoto pun menjelaskan maksud tulisan yang ia buat dan publish di sebuah grup whattsapp, salah satu media sosial yang sangat populer di kalangan masyarakat.

"Lho aku kan cuman nulis saja, lha wayang iku kan dipentaskan, nek di putar-putar yo haram", jawab Marwoto, yang sontak disambut tawa ratusan pasang mata milik warga, saat menyaksikan obrolan mereka berdua di atas panggung.

Itulah sepenggal fragmen dialog antara Kirun dan Marwoto, dua orang pelawak yang dikenal luas masyarakat DIY, saat memeriahkan acara Angkringan Kebangsaan, di Pedukuhan Ngabean Wetan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta, Selasa (4/12/2018) malam.

Acara dikemas cukup santai, di atas panggung terdapat beberapa kursi, serta properti sebuah warung angkringan, lengkap dengan kuliner nasi kucing dan jajanan serta minuman.

Angkringan berbentuk gerobag dorong, biasa digunakan menjual menjual makanan dan minuman di pinggir-pinggir jalan, serta menjadi tempat bersosialisasi yang cukup populer di kalangan masyarakat.

Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai penggagas acara ini, memiliki sebuah tujuan untuk memperkokoh persatuan dengan toleransi dalam kebhinekaan, menyikapi tsunami informasi di medsos, yang belakangan ini dirasa memicu sikap permusuhan di kalangan anak bangsa.

"Ini ada hubungannya dengan bagaimana cara kita bertoleransi terhadap perkembangan jaman," ucap Fery Radian Wicaksono, dari Kemenkominfo saat menyampaikan pidato sambutan, mewakili Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik yang berhalangan hadir di acara tersebut.

Ia menganggap, media sosial yang bisa diakses lewat ponsel pintar, bisa membawa pengaruh buruk di kalangan generasi muda, jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Untuk itu, perlu sikap kehati-hatian dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi dewasa ini.

"Kita memanfaatkan teknologi informasi, tetapi kita juga harus toleransi dgn lingkungan sekitar, dan diri sendiri, bagaimana menyaring hal baik dan yang buruk dari medsos, jika tidak bisa ini akan sangat bahaya," lanjutnya.

Kepala Multi Media Training Center (MMTC), Noor Iza, sebagai salah satu pembicara dalam acara tersebut mengingatkan seluruh lapisan masyarakat, agar bisa lebih arif dan bijaksana, saat menggunakan media sosial agar manfaat positifnya bisa dirasakan secara luas.

Menurutnya, seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi hingga sekelas profesor pun, belum tentu bisa bersikap arif dan bijaksana, ketika memasuki dunia maya di internet.

"Maka di sini pentingnya literasi digital, dan kita juga harus mengenal yang dinamakan hoax, ciri-cirinya informasi yang sebetulnya tidak benar, tetapi sengaja dibikin-bikin," terangnya.

Pembicara lainya, Pakar Komunikasi Lukas Ispandriarno menganggap, persatuan dan kesatuan bangsa yang telah terbangun selama 73 tahun ini, bisa rusak jika masyarakat tidak memiliki sikap kehati-hatian terhadap sebaran informasi di medsos.

"Berita bohong atau hoax seringkali memecah-belah kita, karena berita itu seringkali menonjolkan pandangan sempit yang mengatakan bahwa dirinya paling benar, yang lain salah, itu tidak menghargai perbedaan," terangnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00