• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kuliner Nusantara

Di Gunungkidul Hama Tanaman Diolah Menjadi Makanan Lezat

4 December
20:29 2018
1 Votes (5)

KBRN, Gunungkidul : Munculnya hewan dengan nama ‘Puthul’ di Gunungkidul akhir-akhir ini, bagi sebagian warga setempat menjadi berkah tersendiri. Mereka yang suka, biasa memburu hama tanaman ini untuk dijadikan makanan tambahan.

Puthul dan belalang merupakan salah satu kuliner ekstrim di Gunungkidul, karena memiliki banyak protein dan rasanya enak dan gurih. Tak heran jika hewan jenis serangga ini banyak diburu untuk dijadikan pundi-pundi rupiah.

Bagi penggemarnya, kedua sajian ini bagai klangenan, tak jarang orang yang sudah merantau keluar dari Gunungkidul sesekali merindukan Belalang dan Puthul goreng, serangga ini menjadi makanan yang renyah saat digigit setelah digoreng.

Salah satu penikmat Puthul, Agus, warga Kranon, Kepek, Wonosari mengatakan, Puthul akan mudah dijumpai saat memasuki musim hujan. Hewan berwarna coklat dan memiliki sayap ini biasa hinggap pada ranting dan daun yang berada di area persawahan.

“Pencarian Puthul tidaklah sulit, kita hanya membutuhkan lampu penerangan. Hewan yang memiliki panjang 1,2-1,4 cm ini akan keluar setelah matahari terbenam,” katanya, Selasa (4/12/2018).

Saat berburu Puthul, Agus tidak sendiri. Ada 3-4 orang yang menemaninya, satu orang bertugas membawa lampu, teman lainya bertugas mengamankan hasil tangkapan dan melaksanakan perburuan.

Setelah hewan ini terkumpul langsung membawanya pulang dan memasaknya dengan cara dibacem. Sebelum proses dilaksanakan, Puthul tersebut di masukan ke dalam air mendidih agar mati dan bulu yang ada pada tubuh Puthul terlepas.

“Saat proses perebusan, diberi bumbu garam dan bawang putih yang telah dihaluskan, setelah itu dibacem dan digoreng, rasanya hampir mirip sama belalang,” ungkap Agus sembari menunjukan hasil masakannya.

Pecinta Puthul lainya, Raharjo Gunardi mengaku, Puthul bacem sangat cocok dimakan dengan nasi hangat, dia mengaku cita rasa Puthul hampir mirip dengan belalang. Ardi menerangkan, berburu Puthul sering dilakukan usai hujan turun.

“Rasanya renyah, banyak yang bilang kaya dengan protein, kegiatan berburu Puthul ini sering kita lakukan bersama teman-teman,” ulasnya.

Selain dimakan sendiri, Ardi mengaku banyak mendapat pesanan Puthul dari luar kota. Tidak tanggung-tanggung, 1/4 kilogram Puthul dijualnya dengan harga Rp25 ribu. Meski harganya mahal, pesanan Puthul dari luar kota terus mengalir.

“Karena banyak yang cari saat ini habitatnya agak berkurang, beda dengan saat awal musim penghujan dulu. Tetapi jika mau teliti, masih bisa kita dapatkan 1/2 kilogram setiap malamnya,” katanya.

Puthul atau Phyllophaga hellery adalah salah satu hama yang menjadi musuh besar petani. Hewan yang merupakan famili Scarabaeidae sub famili Melolonthinae dari ordo Coleoptera ini aktif menyerang perakaran tananan padi.

Penyuluh Pertanian Gunungkidul Budi Kuncoro mengatakan, puthul mempunyai siklus hidup sempurna (metamorfose sempurna) dari telur, larva (uret), kempompong, dan serangga dewasa atau kumbang (puthul).

Puthul meletakkan telur ke tanah pada kedalamaan 5-20 cm dengan ukuran kecil berwarna putih bening. Telur menetas menjadi uret bersamaan dengan perkecambahan padi. Uret berkembang baik yaitu ditempat yang banyak mengandung bahan organik. Telur menetas pada waktu 1-2 minggu.

“Hama uret yang paling merugikan pada fase larva, karena pada fase ini aktif menyerang tanaman padi. Gejala serangan yang ditimbulkan hama uret yaitu tanaman padi kelihatan layu, dan tanaman mudah dicabut karena sebagian atau seluruh akar dimakan,” kata Budi saat ditemui sepekan lalu.

Ia menjelaskan, setelah cukup memakan tanaman petani, uret menuju kedalaman tanah kurang lebih 10-30 cm. Lamanya uret didalam tanah berkisar kurang lebih 4-6 bulan. Bila suhu tidak sesui atau sangat kering, uret dapat mengalami proses inaktif yang disebut berdiapause.

Setelah berada di dalam tanah selama 2 bulan, uret ini akan bermetamorfosis menjadi kepompong. Saat berada dalam tanah, kepompong mampu bertahan sampai umur 2 bulan. Larva inaktif dan kepompong akan berkembang menjadi puthul setelah ada kelembaban yang cukup.

“Jadi, benar jika puthul ini akan kita jumpai pada masa awal musum penghujan. Pada kelembaban yang cukup, puthul akan keluar dan terbang mencari pasanganya untuk kawin,” jelasnya.

Budi menambahkan, pada musim penghujan pertama, merupakan saat pesta pora bagi hama puthul untuk melakukan musim kawin, setelah itu meletakan telur pada tanah-tanah yang gembur. Umumnya umur puthul kurang lebih 30 hari.

“Hama petani ini akan aktif pada malam hari, antara pukul 18.00–20.00 WIB. Tidak hanya padi, inang lain yang diserang uret ini antara lain tanaman jagung, kedelai, sorgum dan kacang tanah,” katanya.

Cara lainya pengendalian hama puthul dapat dilakukan dengan melibatkan semua komponen mulai petani, kelompok tani, dan aparat terkait. Cara penangkapanya dilakukan dengan penangkapan masal serempak di beberapa kawasan.

“Berburu puthul yang dilakukan masyarakat sebenarnya salah satu upaya pemutusan siklus puthul. Cara tersebut sangat efektif dan efisien dalam pengendalian hama puthul,” terangnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00