• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Tolak Jual Suara

2 December
19:00 2018
2 Votes (3)

KBRN,Kendari: Warga Desa Lalonggaluku Timur Kecamatan Bondoala Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), kini bersiap menyalurkan hak suaranya pada Pemilu Legislatif dan Presiden 17 April 2019.

201 wajib pilih di desa kategori tertinggal ini, mencari sosok wakil rakyat yang amanah dan memiliki komitmen kuat membangun sarana prasarana publik.

Salah seorang warga Desa Lalonggaluku Timur Yuliana menuturkan, sosok caleg yang akan dipilih nanti adalah calon pemimpin terbaik dan bersedia membangun kekurangan di desa.

Selama ini, banyak caleg yang sudah menemui warga, namun belum terlihat serius menjawab aspirasi. warga desa diwilayah perbatasan Kota kendari dan kabupaten Konawe ini, sangat mengharapkan adanya perbaikan infrastruktur jalan dan pelayanan air bersih. 

“Ya, melihat yang terbaik to, yang bisa memimpin, melihat kekurangan yang ada di desa sini, itu yang harus dibangkitkan, itu saja. disini yang kurang jalanannya, air bersih juga,” tutur Yuliana, kepada Radio Republik Indonesia Kendari, Minggu (2/12/2018).

Kepala Desa Lalonggaluku Timur Husen Arini, berharap kepada seluruh wajib pilih di desanya, untuk memilih calon wakil rakyat yang cerdas dan memiliki visi misi jelas memakmurkan desa.

ia juga berpesan kepada warganya, untuk menolak pemberian uang maupun barang dari calon siapapun, yang akan mempengaruhi pilihan hati. 

“ Kalau kita memilih, kita liat dulu orang yang bisa membangun kampung ini. karena di kampung ini, sudah berapa tahun definitive, belum disentuh oleh pemerintah akan bangunan-bangunan yang layak kita gunakan dengan baik, terutama masalah jalan. Apa saya katakan, uang haram itu, karena sudah jelas, apabila ada dua caleg yang datang, lalu kamu terima juga uangnya, tapi kamu pilih hanya satu. Jadi pemilihan ini, jujur, kejujuran yang utama,” ujar Husen Arini. 

Meski waktu pemungutan suara masih beberapa bulan lagi, namun warga desa Lalonggaluku Timur sudah teguh menentukan pilihan, tanpa tergoda rayuan si pembeli suara.

Warga tidak ingin lagi salah memilih wakil, agar kampung yang mereka tempati ini, juga maju berkembang seperti desa-desa lainya. 

“Ya, tergantung dari hatinya kita sendiri, yang mana yang terbaik, yang membantu, karena kita ingin kampung kita ini bangkit juga, jangan seperti ini, aduh, terus jembatanya ini harus diinginkan, supaya jalanya kita bagus juga, jangan ini terus, janji-janji belum ditepati,” imbuh Ibu Jumria salah seorang petani di desa Lalonggaluku Timur.

Mendekati waktu pelaksanaan Pemilu, warga desa Lalonggaluku Timur, terus dihimbau memelihara adiministrasi kependudukan dan persyaratan memilih, sehingga saat hari H Pemilu, dapat menyalurkan hak suaranya tanpa kendala.

Kepala Desa Husen Arini kembali berharap kepada warga yang memiliki hak suara, agar memilih caleg yang tepat, dapat dipercaya serta mampu menjawab aspirasi dan tuntutan masyarakat yang lebih baik.

“Jangan kita terpaku karena uang, tidak ada gunanya, karena banyak-banyak kita dikasi uang, tidak juga berhasil. Karena kita sudah pengalaman ini, sejak tahun 1971 kita mengikuti pemilu, jadi kasian kita ini, jangan kita dibodo-bodohi. dikecamatan Bondoala ini, jalan inimi yang rusak, padahal dibibir kota,” tambah  Husen Arini.

Pengawas Pemilu Kecamatan Bondoala Kabupaten Konawe, selama ini juga terus memberikan pendidikan politik kepada warga, untuk menyalurkan hak suaranya secara jujur tanpa paksaan. 
Jika warga menemukan indikasi adanya praktek politik uang atau upaya pemaksaan kehendak dari oknum caleg, diminta langsung menyampaikan aduan untuk ditindaklanjuti. 

“Dari awal senantiasa kita himbau kepada masyarakat bahwa pilihlah pemimpin, yang cerdas kemudian tidak menjual segala harga dirinya, misalnya money politik, saya kira itu itulah keterpurukan kita kalau ada hal-hal seperti itu. jadi kita menghindari itu dengan senantiasa turun ke masyarakat untuk menghimbau supaya jangan suara itu kita jual dengan mislamnya dua puluh lima ribu, lima tahun kita hambur kita punya suara tapi hasilnya tidak ada,” harap M. Ruddin, Ketua Panwascam Bondoala.

Pemilu yang berintegritas, demokratis dan bermartabat, juga harus tercipta dipelosok desa. Pemilu tak berintegritas dapat  menciderai hakikat pesta demokrasi lima tahunan, dengan menjamurnya praktek serangan fajar atau politik uang. 

Meminimalisir tindakan tersebut, penyelenggara pemilu ditingkat bawah, aktif bersosialisasi, dengan memberi pemahaman kepada warga, agar azas pemilu yang berlangsung bebas, adil dan jujur  dapat tercipta. 

“Kita sekarang masih mensosialisasikan wajib pilih yang belum terdaftar, diantaranya itu wajib pilih pemula. Kita juga sosialisasi kepada masyarakat bahwa kita laksanakan ini pemilihan secara jujur, adil dan integritas yang tinggi,” kata Habri ketua Panitia Pemilihan Kecamatan Bondoala.

Dari berbagai riset yang ada, kecenderungan kecerdasan pemilih untuk menerima imbalan uang atau barang dari calon legislative, cukup berpotensi. Namun tidak ada jaminan bagi pemilih untuk memilih calon yang sudah memberi imbalan, karena masyarakat telah pandai melihat rekam jejak calon, menjadi wakilnya di parlemen.
 
Pengamat politik Sultra Prof. Eka Suaib berharap, masyarakat wajib pilih harus menolak politik uang, karena praktek kotor tersebut akan menghilangkan esensi demokrasi di Indonesia yang sebenarnya.

“Kita himbau sebetulnya agar para kandidat calon, tidak mengandalkan  pemberian uang itu sebagai salah satu strategi yang ampuh untuk dapat mendorong ataupun meninggkatkan elektabilitas mereka karena saya kira ada strategi yang lain. Jadi kita harapkan para calon juga untuk tidak mudah melakukan hal-hal yang seperti itu, karena sebetulnya langkah-langkah seperti itu adalah dapat menghilangkan nilai-nilai mendasar didalam praktek-praktek demokrasi yang ada,” terang Prof. Eka Suaib.

Yang mesti dilakukan untuk meraih dukungan pemilih, adalah dengan membuat inovasi atau terobosan positif, yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam waktu  jangka panjang. 

“Saya dalam beberapa waktu terakhir, slogan-slogan anti money politik, anti hoax itu adalah upaya sistematik dari penyelenggara KPU untuk menghilangkan praktek-praktek yang seperti ini. hanya memang sekarang ini harus dicarikan metode-metode yang lebih inovasi karena misalnya terdapat banyak segmen-segmen pemilih yang milenial pemilih pemula yang itu sebetulnya adalah perlu untuk disentuh dengan metode-metode yang lebih inovasi bentuk-bentuk sosialisasi yang lebih menyentuh ataupun dapat mengubah prilaku-prilaku dan mainset yang ada dikalangan pemilih,” papa Eka Suaib.

Pemilu legislative 2019, menjadi arena pertarungan gagasan –gagasan besar, sehingga para pemilih dapat melihat treck record atau rekam jejak calon. Pemilih diminta tidak mudah tergoda dengan iming-iming pemberian uang atau barang, kerena tindakan tidak terpuji itu, tergolong kejahatan demokrasi . 

Kitapun berharap, Pemilu Legislative dan Presiden 17 April 2019, mewujudkan wakil rakyat amanah dan pemimpin yang mampu memakmurkan rakyat. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00