• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Pilih yang Cantik dan Ganteng

30 November
22:03 2018
0 Votes (0)

KBRN, Cirebon : Afi hanya bisa tertawa kecil dan bergumam kurang jelas, ketika mendengarkan penjelasan dan cerita gurunya.

Remaja putri berkebuhutuhan khusus, usia sekitar 17 tahun itu juga merasa girang,ketika diberitahu gurunya untuk mengikuti Pemilu 2019.

 “Buu… aku pilih yang ganteng…..yang cantik juga ada,” ucap Afi dengan suara agak kurang jelas, karena keterbatasannya dalam berbicara.

Saat itu Afi dan teman-teman dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Sayange Cirebon sedang diajak jalan-jalan di sekitar sekolah oleh gurunya. Mereka mendapatkan penjelasan gurunya tentang gambar-gambar yang ada di sepanjang jalan, yakni berupa gambar calon legislative dan calon presiden.

Sedangkan celoteh anak-anak berkebutuhan khusus lainnya juga ramai dan penuh kegembiraan, karena merasa mendapat kesempatan untuk melakukan pemungutan suara pada pemilu 2019, meski terkesan pula, apa yang mereka ucapkan kurang begitu jelas maksudnya.

Fita Fitriani, guru yang mendampingi dan memberi penjelasan tentang Pemilu kepada Afi dan remaja berkebutuhan khusus lainnya di SLB itu, dengan sabar dan penuh pengertian selalu merespon celoteh dan sikap anak didiknya.

Ketika ditemui RRI, pada jam istirahat , Jumat (30/11/2018), Guru SLB Fita Fitriani menyampaikan, di sekolahnya terdapat  2  siswa yang tercatat sebagai pemilih pada Pemilu 2019 karena sudah memasuki usia 17 tahun. Sedangkan usia anak berkebutuhan khusus di sekolah itu sekitar 15 anak dengan usia bervariasi antara 7 tahun sampai 17 tahun.

“Anak-anak memang senang sekali ketika kami beritahu bahwa mereka boleh ikut mencoblos dalam Pemilu, karena itu akan menjadi pengalaman pertama mereka. Tapi mereka tahunya hanya yang cantik dan ganteng. Ya… saya katakan, boleh saja pilih siapa saja, tapi  tapi hanya satu yang dicoblos, tidak boleh dua, tidak boleh dicloblos semua dan jangan sampai tidak ada yang dicoblos,”  jelas Fita.

Menurut Fita, tidak mudah dalam memberi pengertian tentang pemilu bagi penyandanga disablitas. Bahkan istilah-istilah dalam pemilu merupakan bahasa tingkat tinggi, yang harus diterjemahkan dan digambarkan dengan sesederhana mungkin. Meski demikian, mereka sangat senang ketika diberi penjelasan tentang pemilu dan gambar-gambar calon. 

“Legilatif itu bahasa tingkat tinggi, mereka tidak paham sama sekali. Presiden dan program, mereka tidak tahu. Saya sampaikan seserhana mungkin, bahwa legislative, presiden itu pemimpin yang dipilih orang banyak, jadi kalian bisa ikut memilih,” ujar Fita.

Dari beberapa jenis keterbatasan para disabilitas, kata Fita, hanya para tuna netra yang lebih mudah memahami tentang Pemilu. Sebab, mereka hanya terkendala pada penglihatan, namun mampu berbicara lancar, mendengar dan  bergerak biasa.

Sedangkan yang berkebutuhan ganda seperti tuna rungu dan tuna wicara, meski bisa melihat namun harus menggunakan bahasa isyarat.

“Mereka itu memahami istilah makan, lari , jalan saja , sangat sulit. Dengan bahasa isyaratpun kadang sulit. Namun mereka tetap warga yang memiliki hak pilih,” tuturnya.

Menurutnya, anak-anak berkebutuhan khusus seperti tuna netra, tuna grahita, tuna rungu, merupakan warga masyarakat yang juga perlu mendapat penjelasan tentang Pemilu. Sebab banyak gambar-gambar atau alat peraga kampanye bertebaran dimana-mana, dan anak-anak berkebutuhan khusus juga senang jika dijelaskan hal-hal yang ada disekitarnya.

 “Ya, anak-anak berkebutuhan khusus kan juga warga negara Indonesia yang sama-sama memiliki hak dalam Pemilu. Jadi saya sebagai guru merasa terpanggil untuk tetap menjelaskan walau dengan bahasa yang sangat sederhana,” ujar Fita.

Kepada  keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus juga diharapkan tidak perlu malu untuk mengajak anak bersosialisasi dan ikut serta dalam pemilu bagi yang sudah memiliki hak pilih.

Ditempat terpisah, seorang penyandang tunanetra Indra, 23 tahun, warga Cirebon yang masih kuliah S1 di Bandung, juga mengatakan, fasilitas bagi disabilitas dalam pemilu masih kurang.

“Disabilitas mendapat kesempatan dan peluang yang sama sebagaimana warga masyarakat lainnya. Bahkan disabiliats juga punya hak untuk memilih dan dipilih,” ujar Indra.

Sementara itu Komisioner KPU Kabupaten Cirebon Husnul Khatimah ketika dikonfirmasi RRI mengakui bahwa belum secara menyeluruh melakukan pengawasan terhadap penyediaan akses kemudahan bagi disabilitas.

Sejauh ini KPU Kabupaten Cirebon juga belum menghitung pasti jumlah disabilitas yang memiliki hak pilih. Namun seberapapun jumlahnya tetap memiliki kontribusi dalam menentukan hasil pemilu.

“Aksesbilitas bagi disabilitas akan menjadi perhatian KPUUntuk pemilih dari disabilitas sekitar 5 persen. Tapi bukan soal signifikan dalam pemilu atau tidak, yang jelas bahwa satu suara pun adalah menjadi penting untuk diakomodir sebagai hak warga negara,” tandas Husnul.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00