• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Duri Dalam Lensa HP Android

30 November
19:23 2018
0 Votes (0)

Hidup di zaman digital membuat urusan selfi-selfi atau potret memotret super mudah dan praktis, karena handphone (HP) android menawarkan beragam aplikasi camera dengan fitur-fitur yang canggih. Namun jangan sembarang mengambil gambar, karena camera HP android menyimpan sebuah ‘duri’ yang dapat menusuk penggunanya sendiri. 

KBRN, Ambon :  Kamis, 29 November 2018. Rumah Kopi Lela di Jalan Sam Ratulangi Kota Ambon Provinsi Maluku, seperti biasa ramai dengan pengunjung. Ada ASN,  politisi, aktivis, orang dengan berbagai profesi, juga pers. Masing-masing sibuk dengan urusannya. Ada yang celoteh-celoteh, ada yang ngakak, ada yang membaca koran, namun banyak yang lebih suntuk dengan handpone-nya tanpa menghiraukan keadaan sekitar. 

Rumah Kopi Lela berada di sekitar pusat perbelanjaan Ambon Plaza, Kantor Walikota Ambon dan Kantor Gubernur Maluku. Selain lokasinya strategis, cita rasa kopi khas Lela, digandrungi banyak orang, sehingga menarik penikmat kopi untuk datang berleha-leha sambil berbicara bisnis, membahas pekerjaan atau berdiskusi soal politik. Ada juga yang datang khusus untuk bermain Ludo bersama rekan-rekan sejawat.

Mungkin sebuah kebetulan, jika ASN, tokoh-tokoh politik dan pejabat daerah sekelas gubernur hingga bupati walikota, memilih Rumah Kopi Lela sebagai tempat yang nyaman untuk berbagi cerita. Para awak media pun, ikut-ikutan nongkrong di rumah kopi lela sambil mengerjakan tugas peliputan, atau menanti nara sumber yang akan diwawancarai.   

                                                                        ******  

Hari baru beranjak petang atau sekitar pukul 17.00 WIT, ketika sejumlah jurnalis yang memasuki Rumah Kopi Lela dari arah depan. Di antara mereka, terdapat jurnalis Harian Umum Rakyat Maluku Sam Usman Hatuina dan Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Kota Ambon Abdul Karim Angkotasan, disapa Abu. Tanpa basa basi, mereka langsung mencari meja yang mungkin belum terisi untuk ditempati. 

Secara kebetulan, dari belasan meja yang ada pada ruangan bagian depan Rumah Kopi Lela, hanya tersisa satu meja yang masih kosong, yakni meja di bagian sudut yang berdekatan dengan meja kasir. Buru-buru, mngkin kuatir didahului sekelompok orang yang juga baru masuk, Sam dan kawan-kawan jurnalis langsung menduduki lima buah kursi yang ada di meja tersebut.  

Meja tempat Sam dkk duduki, mengingatkan orang pada sebuah tragedi yang dialami oleh mereka sendiri, meja yang memicu insiden antara insan jurnalis dengan salah satu kontestan Pilkada Maluku 2018, calon petahana Said Assagaff. Terjadi pada jam, hari, tanggal dan tahun yang sama, cuma beda bulan, maret dan november. 

Namun Sam dkk sepertinya sudah melupakan tragedi yang membuat mereka tidak muncul-muncul di Rumah Kopi Lela selama beberapa bulan tersebut. Indikasinya terlihat dari sikap mereka yang duduk santai tanpa beban dan berkelakar dengan sekelompok ASN dan politisi yang bersebelahan dengan meja mereka.

“Siapa bilang katong (kita) sudah melupakan insiden Rumah Kopi Lela? Katong kan sudah lapor ke Polda Maluku, jadi katong tetap menunggu perkembangan proses penyidikan di Polda Maluku. Laporan itu sampai kapan pun katong tidak akan cabut,” tegas Sam, diaminkan Abu.   

Camera Android  Sumber Insiden    

Ya, masih segar dalam ingatan, delapan bulan lalu, Kamis 29 Maret 2018, sekitar pukul 17.30 WIT, calon petahana Said Assagaff dan sejumlah tim pendukung datang ‘ngopy sore’ bersama beberapa kepala dinas, termasuk sekda. Entah apa yang dibahas, namun pemandangan ‘langka’ seperti itu, tentu sangat menarik  diabadikan karena Aparatur Sipil Negara (ASN) dilarang berbicara soal politik dengan kontestan pilkada selama masa kampanye.

Sam pun bersiap mengambil gambar dengan HP androidnya. Apes, belum sempat memotret, gelagatnya telah tercium oleh Husen Marasabessy, Staf Ahli Gubernur. Husen berteriak "Eii, jang foto-foto,”. Sam kaget, Assagaff marah besar.

 “Woe ose kanapa foto? (kamu kenapa foto). Ose hapus foto itu. (kamu hapus foto itu). Beta di sini seng kampanye, beta di sini minum kopi saja. (saya disini tidak kampanye, saya cuma datang minum kopi)” 

Sam langsung diintimidasi oleh orang yang diduga tim pendukung Assagaff. HP milik Anang Angkotasan, rekan jurnalis, yang dipinjam oleh Sam untuk memotret, dirampas dan diperiksa. Abu Angkotasan pun berteriak dari meja sebelah “Kamong (kalian} kenapa". 

Teriakan Abu memecah perhatian mereka ke Sam. Beberapa pemuda mulai bergerak menghampiri Abu dan 4 rekan jurnalis yang berdiri menantang dengan sikap reaktif.  Untungnya, ketegangan tidak berlanjut sampai ke adu fisik karena calon petahana dan pendukungnya buru-buru meninggalkan Rumah Kopi Lela.  

Lapor ke Polisi

Pasca kejadian, Sam dkk meninggalkan Rumah Kopi Lela dengan perasaan terluka dan sakit hati. Sam langsung pulang ke kos-kosannya di kawasan Batumerah dengan perasaan shock. Psikologinya terganggu, hasratnya untuk pergi ke kantor mengerjakan tugas jurnalistiknya hilang seketika.

Geram dan sakit hati, tak kurang dirasakan oleh Abu Angkotasan. Melalui akun facebooknya, kronologis kekerasan di Rumah Kopi Lela diposting, langsung mendapat reaksi dari publik. Dukungan dan simpati mengalir dari berbagai kalangan. Dalam dua jam, kasus kekerasan di Rumah Kopi Lela telah dibagikan oleh lebih dari seratus akun, hingga menjadi viral di media sosial.

Tiga jam setelah kejadian, Abu menghubungi Sam untuk ikut bersama dirinya dan rekan-rekan jurnalis, melaporkan insiden Rumah Kopi Lela ke Polda Maluku dengan dua perkara, tindakan menghalang-halangi kerja jurnalistik dan tindak pidana penganiayaan.   

Jurnalis senior Rudi Fofid mengunggah sebuah catatan kaki pada dinding facebooknya, Apa yang Mesti Dilakukan para Jurnalis Pascainsiden itu? Tentu saja jurnalis sebagai sebuah profesi mulia dan jurnalis sebagai warga negara perlu melakukan langkah legal, lapor polisi. Langkah itu sudah ditempuh, sehingga proses hukum harus terus berjalan.

Menurut Rudi Fofid, langkah hukum memang harus dilakukan, supaya supremasi hukum ditegakkan, kebebasan pers ditinggikan. Hal ini sungguh sangat wajar, karena jurnalis di Maluku masih menghadapi jalan terjal kebebasan pers. Orang-orang di level suprastruktur masih menempuh cara-cara tidak bermartabat untuk menghalangi kebebasan pers, dan jurnalis di Maluku punya memori pahit tentang itu. 

Ridwan Salamun dan Alfred Mirulewan adalah dua jurnalis Maluku yang dibunuh saat melaksanakan tugas jurnalistik di Maluku, demi kepentingan publik. Padahal, jurnalis punya impian besar agar kebebasan pers terjamin, kepentingan publik disuarakan, kontrol terhadap penyelenggaraan pemerintahan dapat dilakukan secara elegan.

Dan ternyata, dukungan kepada Sam dan Abu untuk menempuh jalur hukum mengalir dari berbagai kalangan, lebih-lebih dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Ketua AJI Abdul Manan melalui siaran pers, mengecam keras sikap calon gubernur petahana dan tim pendukungnya. AJI bahkan membenarkan tindakan Sam mengambil foto calon petahana di ruang publik seperti di Rumah Kopi Lela. 

AJI memastikan, mengambil foto seorang pejabat publik di tempat umum, termasuk yang masih berstatus calon, adalah hak jurnalis yang dilindungi oleh Undang Undang, khususnya pasal 4 Undang Undang Pers.  Sebaliknya, upaya menghalang-halangi kerja jurnalis bisa dijerat dengan pasal 18 Undang Undang Pers, yang pidananya bisa sampai 2 tahun penjara. 

Lempar Batu Sembunyi Tangan

Tiga hari setelah insiden, calon petahana melalui kuasa hukumnya Fachry Bachmid, menyampaikan klarifikasi. Fachry menyebut insiden Rumah Kopi Lela terjadi secara spontan atas dasar kesalapahaman dan itu terjadi di luar kendali Assagaff sebagai pribadi maupun calon gubernur Maluku.  

“Kejadiannya bersifat ‘by accident’ yang muaranya adalah sesuatu yang tidak dikehendaki secara bersama oleh kita semua. Beliau sebagai pribadi dan calon gubernur Maluku juga sangat menyayangkan serta menyampaikan rasa keprihatinan yang sangat mendalam atas peristiwa tersebut,” kata Fahri dalam surat klarifikasinya tanggal 1 April 2018.

Menurut Fachry, Assagaff  secara pribadi maupun sebagai calon gubernur adalah sosok yang paling menghargai profesi jurnalis dan mendukung kebebasan pers sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 dan Peraturan Dewan Pers tentang Standar Perlindungan Pers. Olehnya Fachry berharap, insiden di Rumah Kopi Lela dapat didudukkan secara konstekstual dan objektif, serta bebas dari anasir-anasir politis.

Namun klarifikasi kuasa hukum petahana dianggap pepesan kosong karena kesannya seperti lempar batu sembunyi tangan dengan memposisikan kliennya seolah-olah tidak bersalah. Ungkapan keprihatinan dan pernyataan sangat menyayangkan, menurut banyak kalangan, justru yang harus keluar dari mulut jurnalis, karena mereka berada dalam posisi teraniaya.  

Jurnalis senior Rudi Fofid membedah kronologis kejadian Rumah Kopi Lela dalam akun facebooknya, tanggal 30 Maret 2018. Kandidat Gubernur Said Assagaff  bertemu sejumlah pejabat yang berstatus pegawai negeri sipil. Pertemuan ini, walau sekadar minum kopi di ruang terbuka, patut dicium jurnalis sebagai pelanggaran asas netralitas. 

Dalam asas ini, sambung Rudi Fofid, setiap PNS tidak berpihak dari segala bentuk pengaruh manapun dan tidak memihak kepada kepentingan siapapun (UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara Pasal 2 Huruf f).

Selanjutnya, dalam hal etika terhadap diri sendiri, sergah Rudi Fofid, PNS wajib menghindari konflik kepentingan pribadi, kelompok ataupun golongan, makanya PNS dilarang melakukan perbuatan yang mengarah pada keberpihakan untuk salah satu calon atau perbuatan yang mengindikasikan terlibat dalam politik praktis/berafliasi dengan partai politik (PP Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Pasal 11 Huruf c).

Nah, menurut Rudi Fofid, apa yang dilakukan oleh Sam  pada saat itu adalah kegiatan jurnalistik. Menurut UU Nomor 40 Tahun 1999, kegiatan jurnalistik itu meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Sam adalah jurnalis yang hendak memperoleh gambar pertemuan Kandidat Gubernur Maluku Said Assagaff dengan sejumlah pejabat berstatus PNS. Kegiatan ini tidak boleh dihalangi siapapun. Pasal 8 UU Nomor 40 Tahun 1999 menyebutkan secara jelas dan tegas:  "Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum". 

Pasal 4 ayat (1) UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menyebutkan, kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Ayat (3) menegaskan, "Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi."

Artinya pejabat bernama Husein Marasabessy menghalangi aktivitas jurnalistik  dengan kata-kata: "Eik, jangan foto-foto". Teriakan Said Assagaff yang memerintah seorang pemuda dari timnya: "Periksa dia pu HP itu", dan perampasan alat-alat kerja jurnalistik milik jurnalis Sam oleh beberapa orang yang duduk minum kopi dengan Said Assagaff, semuanya adalah tindakan yang nyata-nyata menghalangi kerja jurnalistik.

Pasal 18 ayat (1) UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menyebutkan, setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).

Nah, yang harus dilakukan Said Assagaff, Husein Marasabessy, sejumlah pemuda dan PNS di lingkaran Assagaff saat itu adalah harusnya minta maaf. Ya, minta maaf secara terbuka. Kalau sudah minta maaf, juga minta damai. Kalau jurnalis, medianya, dan organisasi profesinya bersedia berdamai, maka damailah sudah. Kasus dicabut, kasus ditutup.

Kalau jurnalis menolak upaya damai, berarti proses hukum silakan berjalan. Ikut saja, dan jangan menghindar. Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, demi kebenaran dan keadilan, hakim yang mulia akan menjatuhkan vonis sesuai pertimbangannya yang merdeka.

Caci Maki, UU Pers Diadu 

Pascainsiden Rumah Kopi Lela yang berujung laporan polisi, Sam menjalani hari-harinya yang keras. Keluarganya di Kampung Seith, Jazirah Leihitu, sekira 75 kilometer dari Kota Ambon, panik dan gelisah karena kuatir dengan keselamatannya. Mereka baru tenang setelah diberi penjelasan secara baik dan benar.

Sam sendiri, pascainsiden, mendapatkan banyak panggilan dari orang yang tidak dikenal, tetapi tidak digubris atau dijawab, begitu juga dengan Abu. Upaya pendekatan untuk berdamai telah dilakukan dengan berbagai cara, namun Abu dan Sam tidak terpikat karena memang Assagaff belum menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada pers.       

Dan untuk menguatkan satu sama lain sekaligus menghindari teror, Sam menumpang di kos-kosan Abu, yang berada di kawasan Batumerah. Di saat yang sama, hujatan dan cacian  kepada Sam melalui media sosial meningkat tajam. Ada yang bahkan menggunakan jasa media online di Jakarta untuk mempublikasikan pernyataan kebencian mereka dalam sebuah  konferensi pers.      

Pada tanggal 12 April 2018, sebuah situs online di Jakarta, RedaksiKota.Com, menurunkan judul berita ‘Kader Parpol Berkedok Wartawan Curi Foto, Pemuda Maluku Protes. Berita yang isinya mengkambinghitamkan Sam sebagai kader parpol berbaju pers, langsung dishare ke grup-grup facebook anak-anak Maluku dan menuai beragam tanggapan. 

Para penghujat yang diduga ‘pemuda bayaran’, menyalahkan Sam karena mengambil gambar tanpa izin dari petahana. Mereka lalu mencap Sam sebagai kader partai yang menyamar sebagai pekerja pers untuk kepentingan partai politiknya. Hebatnya lagi, dengan rasa percaya diri, mereka menyatakan siap mengajari Sam tentang kode etik jurnalistik agar ke depan lebih berhati-hati dalam menggunakan camera handphone. 

“Ado e, sebaiknya kawan-kawan muda jangan mau jadi cheerleaders, pemandu sorak untuk serang jurnalis baik-baik bernama Sam. Setuju wartawan aneh-aneh, harus keluar dari gelanggang. Saya juga ingin singkirkan Sam dari jurnalisme kalau dia merusak, tapi saya sudah cek ricek kroscek dia menjalankan tugas jurnalistik secara baik, dia bukan anggota parpol, dia bukan anggota tim pemenangan pasangan kandidat  manapun, bukan orang bayaran ” tulis jurnalis senior Rudi Fofid dalam dinding facebooknya.

“Untuk hak demokrasinya, untuk hak politiknya, untuk kebebasan pers, saya bersama Sam. Oh ya, kawan-kawan muda, cermati ya.  Aktivis maupun wartawan yang menulis berita ini, mari menulis dengan jemari yang dipimpin oleh akal budi, bukan dipimpin fasilitas copy paste jadi tinggal salin tempel. UU Nomor 49 Tahun 1999 tentang pers, itu sudah salah di pengacara, salah di aktivis, salah di berita ini. Jadi kesalahan menular,” tambah Fofid. 

“Hari ini ada mediasi yang baik oleh Dewan Pers dari Jakarta ke Ambon. Mestinya didukung dan disambut. Bukun diberi peluru hampa model berita seperti ini,” tutup Rudi Fofid, 12 April 2018. Namun, seperti si buta menerangkan soal jalan kepada mereka yang normal, tanggapan miring ‘pesorak’ terhadap UU Pers dan UU IT, dianggap seperti membuang garam di laut.  

Buruk Rupa Media Dibelah

Gubernur Said Assagaff  sejatinya punya riwayat buruk dengan insan jurnalis di Maluku, meski tidak dominan. Sebelum insiden Rumah Kopi Lela tahun 2018, pada pertengahan tahun 2014 lalu, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) dan Wakil Gubernur Maluku ini, bermasalah dengan wartawan Info Baru, Fuad Pulu. Pokok masalah sebetulnya sepele, tapi ditanggapi over acting oleh pengawal gubernur hingga membias.

Masalah antara gubernur dengan wartawan Info Baru mencuat usai Peresmian Kantor Desa Batumerah. Kala itu, jurnalis Fuad yang baru bergabung dengan Info Baru, bertanya kepada gubernur mengenai alasan penempatan Benny Gaspersz sebagai Kepala Dinas Perhubungan Provinsi, karena menurut KNPI Maluku yang bersangkutan sedang mengalami masalah hukum.          

Pertanyaan itu langsung menyulut emosi gubernur, namun tetap dijawab dengan baik, meski nadanya sangat kasar. “Itu hak saya,” sergah gubernur. “Tapi yang bersangkutan diduga manipulasi data perjalanan KM Siwalima,” tambah Fuad, dan dijawab gubernur “Itu berita bohong, jangan main tuduh,” ujar Fuad meniru ucapan Assagaff.

Dampak dari dua buah pertanyaan, yakni penempatan Gasperz sebagai kepala dinas perhubungan dan dugaan manipulasi data berbuntut panjang. Fuad langsung diamankan pengawal gubernur di salah satu rumah warga, sebelum digelandang ke Polres Ambon Lease. Fuad yang baru bergabung dengan  Info Baru dicurigai sebagai wartawan siluman.

Kabar penahanan Fuad pun sampai ke telinga Redaksi Info Baru. Hampir dua jam ditahan, barulah Pimpinan Redaksi Info Baru datang menjelaskan bahwa Fuad Pulu adalah benar wartawan Info Baru sehingga dibebaskan. Besoknya, kejadian saat wawancara dan penahanan Fuad menjadi berita headline di Harian Info Baru.

Namun sekitar pukul 13.00 WIT, Redaksi Harian Info Baru di kawasan Galunggung Batumerah kedatangan seorang oknum anggota Polres Ambon Lease. Oknum polisi tersebut mengeluarkan kata-kata ancaman dan perkataan yang tidak baik kepada Fuad yang secara kebetulan tidak ada di ruang redaksi. 

Peristiwa itu direkam oleh salah satu Redaksi Info Baru, kemudian diproduksi menjadi berita headline pada hari berikutnya. Dampak dari pemberitaan itu menyebabkan Info Baru diboikot Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku dan Polres Ambon Lease dengan memutus langganan. 

Setelah peristiwa itu, Info Baru akhirnya mengambil keputusan untuk melaporkan kasus pengancaman oleh oknum polisi ke Polda Maluku agar dapat diproses secara hukum. Oknum polisi tersebut diduga sengaja berbuat demikian agar perhatian media tidak lagi fokus ke masalah gubenur, tetapi langsung ke oknum polisi. 

Dan seperti yang sudah diduga, proses penanganan kasus ini pun terkesan diperlambat. Setelah dilakukan penekanan melalui aksi unjuk rasa yang dimotori AJI Kota Ambon, kasus pengancaman itu pun diproses sesduai prosedur. Hasil dari sidang kode etik menyatakan oknum polisi bersalah dan mendapatkan hukuman berupa antara lain penahanan kenaikan pangkat dan pemotongan gaji. 

Memilih Jumpa di Pengadilan

Kabid Humas Polda Maluku Kombes Polisi Roem Ohoirat dikonfirmasi RRI, Rabu 21 November 2018 mengakui, pada pelaksanaan Pilkada Maluku kemarin, terjadi insiden di Rumah Kopi Lela, dimana seorang jurnalis hendak mengambil gambar salah satu calon gubernur, lalu terjadi salah pengertian, kemudian kasusnya dilaporkan ke Polda Maluku untuk ditangani.

Ketua AJI Kota Ambon yang juga korban insiden Rumah Kopi Lela Abu Angkotasan memastikan laporan ke Polda Maluku tidak akan dicabut sampai kapan pun, agar nanti menjadi pelajaran bagi yang lain untuk bertindak kasar atau menghalang-halangi kerja-kerja jurnalistik.

“Sudah dua kali terjadi kasus pembunuhan jurnalis di Maluku. Alfred dan Ridwan meninggal saat menjalankan tugas jurnalistik. Kasus intimidasi dan menghalang-halangi kerja jurnalistik sudah banyak, Info Baru contohnya. Ini tidak boleh dibiarkan terus, jadi biarkan proses hukumnya tetap jalan agar ada efek jera, dan kami akan terus menunggu prosesnya sampai kapan pun,” tegas Abu.

Menurut Abu, apa yang dilakukan oleh dirinya dan Sam dengan tidak mencabut laporan polisi adalah untuk kepentingan kemerdekaan pers di Maluku, apalagi semua organisasi pers, utamaya  Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), AJI dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) mendukung proses hukum.     

“Pers di Maluku tidak terbelah untuk kasus di Rumah Kopi Lela, apalagi ada penjelasan dari Dewan Pers bahwa Sam benar saat itu sedang melaksanakan tugas jurnalistik. Cuma kemarin karena pilkada, banyak yang memilih safety, biar dinilai tetap netral, tidak dicap mendukung calon ini atau itu. Dan kita prinsipnya akan terus menunggu proses hukumnya sampai kapan pun,” tuntas Abu. 

Hidup, memang penuh misteri, berputar seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Dan itu terjadi pada Pilkada Maluku 28 April lalu, di mana pasangan calon yang merangkak dengan elektablitas terendah di bawah 10 persen, mampu mengubah peta politik dalam waktu tiga bulan hingga menjadi kampiun. 

Bermula dari handphone android, jangan sembarang membidik gambar, media sosial tak lagi ramah, ada  UU IT, ada duri dibalik lensa android. (abdullah leurima)   

  • Tentang Penulis

    Abdullah Leurima

    Reporter RRI Bula peraih Anugerah Pesona Bahari Indonesia 2016 (best of the best) dari Menteri Pariwisata RI

  • Tentang Editor

    Nanang Adrany

    Editor RRI Ternate

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00