• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sorotan Kampus

Founder Aku Pintar: Siswa SMK Perlu Diberi Bekal dalam Perencanaan Masa depan

10 November
23:45 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Pelajar lulusan SMK perlu dibekali pengetahuan yang mencukupi agar mampu bersaing di masa yang akan datang. Karenanya siswa dituntut agar merencakan pendidikan ke depan. 

Apalagi saat ini banyak anak lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menjadi pengangguran. Selain tidak memiliki skill, banyak pelajar yang salah pilih jurusan.

"Ada 87 persen pelajar yang salah memilih jurusan, baik saat SMK maupun perguruan tinggi. Ini data riset loh ya bukan kata saya. Selain itu 71,7 persen pekerjaan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan pekerja," kata Lutvianto Pebri Handoko selaku CEO Aku Pintar dalam diskusi Warung Daun bertema SMK, Pengangguran dan Pendidikan di Era Milenial, Sabtu (10/11/2018).

Hal tersebut menjadi pemicu banyak lulusan SMK maupun perguruan tinggi kebingungan karena tidak menguasai bidang pekerjaan yang dilamar.

Startup IT usia 25 tahun ini mencontohkan dirinya yang saat SMA mengambil jurusan IPA. Kemudian S1 Teknik Kimia, S2 Manajemen tapi akhirnya berbisnis IT.

"Lah bagaimana bisa pintar anaknya kalau guru yang mengajar salah jurusan. Guru adaptif-normatif dipaksakan ke produktif. Hanya karena kekurangan 91 ribu guru produktif. Mestinya kalau ingin lulusan SMK berkualitas, pengajarnya harus ahli di bidangnya," tandasnya

Dari kasus ini menunjukkan, kalau ada yang salah dari sistem pendidikan di Indonesia. Siswa tidak diajarkan bagaimana merencanakan pendidikannya ke depannya seperti apa.

"Makanya saya buat aplikasi Aku Pintar untuk membantu pemerintah dan industri untuk menghasilkan lulusan yang benar-benar ahli. Karena dengan aplikasi ini siswa bisa tahu minatnya di mana dan bidang apa. Jadi tidak asal pilih jurusan karena desakan orang tua atau pengin cepat cari kerja," bebernya.

Yang menarik, bukan hanya pelajar salah jurusan. Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Didi Suprijadi mengungkapkan, guru-guru SMK yang mengajar banyak tidak kompeten. Sebab, mereka diambil dari guru adaptif dan normatif.

Contohnya, guru Bahasa Indonesia yang jumlah cukup banyak dialihkan ke guru produktif. Mereka hanya diberikan pelatihan beberapa bulan dan kemudian langsung mengajar anak SMK. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00