• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Cermat Memilih Investasi Online, Pastikan Terdaftar di OJK

10 November
21:11 2018
0 Votes (0)

KBRN, Batam: Petang itu Ali Akbar berkumpul dengan rekan sejawatnya. Obrolan mereka terlihat begitu cair. Sesekali canda dan tawa pun keluar dari lisan Ali. Namun dibalik senda gurau itu, siapa sangka ia memiliki pengalaman pahit terjebak dalam investasi online. Kerugian yang dialaminya mencapai Rp. 600 juta.

"Akhirnya bulan Juli 2013, saya putuskan tidak akan menempuh bisnis seperti itu lagi. Meski sempat jatuh, istri tidak pernah menyalahkan. Saya justru didukung untuk bangkit," kata Ali di Batam, Kamis (8/11/2018). 

Pria yang berprofesi sebagai arsitek itu menceritakan perkenalan pertamanya dengan bisnis investasi online bernama Speedline. Ia ikut bisnis Multi Level marketing (MLM) berskema ponzi itu sejak tahun 2011. Speedline menjanjikan investornya untuk balik modal dalam tempo singkat. Diawal keikutsertaannya, Ali yang berinvestasi Rp. 7,5 juta sudah memiliki saldo lebih dari Rp. 20 juta hanya dalam 4 bulan.

"Kalau mau diambil itu istilahnya withdraw. Tapi karena mulai tergiur justru malah kita tambah lagi investasinya, saya sampai gadai mobil 3 unit. Selain untung berlipat dari modal, bisa juga dapat bonus kalau rekrut orang jadi downline," jelas dia. 

Sayangnya keuntungan dari investasi Ali tidak berjalan mulus di bulan selanjutnya. Proses withraw pun mulai sering terhambat. Apalagi setelah beredar kabar yang menyebut Speedline sebagai SCAM atau penipuan.

"Awal 2013 saya putuskan berhenti main di Speedline. Tapi ikut lagi investasi online yang namanya Investasi Amanah 1 (IA1). Ini investasi Rp. 10 juta bisa langsung dapat Rp. 30 juta. Setiap bulan 3 kali lipat." ungkapnya.

Kembalinya Ali dalam berinvestasi online karena melihat adanya peluang untuk menutupi kerugiannya sebelumnya. Sayangnya, IA1 tak beda jauh dengan Speedline. Keduanya sama-sama penipuan yang berujung pada kerugian. Bahkan Ali juga harus menanggung beban kerugian dari downline-nya. Namun, ia tidak lari dari tanggung jawab.

"Saya minta doa dan minta maaf ke mereka agar diberikan waktu untuk mengembalikannya. Saya pun bernazar agar dapat segera menyelesaikan segala masalah dengan teman-teman. Alhamdulillah, ternyata ada jalan,"  kenang dia.

Ali tak larut lama dengan kerugiannya berinvestasi online, ia segera kembali fokus menjalani profesinya sebagai seorang arsitek. Hasilnya, Ali berhasil bangkit dari keterpurukan. Ia mulai mengembalikan kerugian orang yang pernah direkrutnya sebagai downline.

"Akhirnya saya juga bisa beli mobil lagi, bahkan umroh. Selama berjalan tidak menyentuh investasi online seperti itu lagi ternyata hidup jadi lebih santai," ujarnya tertawa.

Dampak Investasi Bodong

Menurut Ali, dampak berinvestasi online ilegal sangat merugikan. Bukan hanya kerugian materi, namun juga merusak citra diri dan hubungan dengan tetangga maupun kolega. Dari pengalaman pahitnya, Ali kini memiliki visi baru untuk terlibat dalam investasi online.

"Sekarang kalau diajak orang bisnis online MLM di grup atau pertemuan saya tetap ikut. Tapi bukan ingin jadi anggota. Saya ingin katakan berhenti bisnis online yang menipu," ujarnya.

Ketika muncul investasi bernama Dream for Freedom, Ali termasuk salah satu orang yang giat menyerukan agar masyarakat lebih berhati-hati bila bergabung. Sebab ia melihat adanya kesamaan skema dan pola dengan dua investasi yang sebelumnya pernah menjerumuskannya dalam kerugian. 

"Saat saya mengingatkan di pertemuan mereka, otomatis saya dibully. Tapi saya hadapi dengan senyum saja. Karena dulu saya juga begitu, ketika diingatkan orang. Kasihan mereka yang mudah terjebak, ada yang akhirnya jual rumah bahkan rusak hubungan dengan keluarga," ungkap dia.

Ali mengingatkan masyarakat untuk bisa lebih teliti dalam memilih investasi. Salah satu caranya memastikan pihak yang menawarkan investasi memiliki perizinan dari otoritas yang berwenang sesuai dengan kegiatan usaha yang dijalankan. Selain itu bila terdapat pencantuman logo instansi atau lembaga pemerintah dalam media penawarannya perlu dipastikan kebenarannya.

"Kalau berinvestasi pastikan itu legal terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hati-hati pencatuman izin atau logo palsu. Kemudian memang berinvestasi harus ada perhitungan, karena apa pun bisa terjadi," pesannya.

Cek Investor Alert Portal Sebelum Investasi

Awal September 2018, Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan Investasi atau Satgas Waspada Investasi kembali menemukan penawaran produk atau kegiatan usaha dari 10 entitas yang diduga melakukan kegiatan usaha tanpa izin pihak berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat.

10 entitas itu terdiri dari lima entitas berkegiatan pialang berjangka tanpa izin yaitu PT Investasi Asia Future, PT Reksa Visitindo Indonesia, PT Indotama Future, PT Recycle Tronic dan MIA Fintech FX. Selanjutnya ada dua entitas berkegiatan penjualan produk secara multi level marketing (MLM) tanpa izin, yakni PT Berlian Internasional Teknologi dan PT Dobel Network Internasional (Saverion). 

Sementara tiga entitas lainnya terdiri dari PT Aurum Karya Indonesia berkegiatan usaha penjualan emas sistem digital, Zain Tour and Travel berkegiatan travel umrah tanpa izin dan yang terakhir entitas penipuan dengan modus undian berhadiah mengatasnamakan Whatsapp.

"Satgas telah melakukan analisis terhadap kegiatan usaha entitas tersebut dan berdasarkan aturan hukum yang berlaku menyatakan bahwa entitas tersebut harus menghentikan kegiatannya" kata Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing dalam keterangan persnya kepada RRI.

Menurutnya, pelaku memanfaatkan minimnya pemahaman sebagian masyarakat terhadap investasi dengan menawarkan keuntungan yang tidak wajar. 10 investasi ilegal ini tergolong berbahaya dan berpotensi mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap industri jasa keuangan. 

"Satgas Waspada Investasi meminta kepada masyarakat selalu berhati-hati menggunakan dananya. Jangan sampai tergiur dengan iming-iming keuntungan yang tinggi tanpa melihat risiko yang akan diterima," ujarnya.

Di era digital ini, OJK mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan informasi daftar perusahaan yang tidak memiliki izin dari otoritas berwenang dapat diakses melalui Investor Alert Portal. Melalui portal ini OJK secara proaktif memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat atas karakteristik, produk, dan layanan sektor jasa keuangan.

Investor Alert Portal ini dibuat untuk mendorong kesadaran masyarakat dalam melakukan kegiatan investasi yang aman, sehingga kerugian akibat praktik investasi yang belum jelas legalitasnya dapat dicegah. Investor Alert Portal dapat diakses melalui www.sikapiuangmu.ojk.go.id.

"Jika menemukan tawaran penawaran investasi yang mencurigakan, masyarakat dapat melaporkan melalui email atau kontak OJK 157," pungkas Tongam.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00