• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Slaman, Sang "Profesor" Mangrove di Pamekasan

5 November
14:11 2018
0 Votes (0)

KBRN, Pamekasan : Hembusan angin kencang, hempasan ombak hingga cibiran orang-orang di sekitarnya, tidak menyurutkan semangat Slaman warga Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, untuk menghasilkan hutan bakau atau yang juga disebut mangrove yang kini luasnya mencapai 44 hektar. 

Menurut Slaman, awal merintis hutan mangrove itu saat masih duduk dibangku SMA bersama almarhum ayahnya. Saat itu tahun 1986 kondisi hutan mangrove di pesisir pantai desanya mengalami kerusakan akibat penebangan liar, sehingga terjadi abrasi, yang berdampak sering masuknya air laut ke perkampungan warga yang membuat petambak garam dan ikan gagal berproduksi.

“Saya berangkat dari rasa keikhlasan, dan rasa ketulusan dan kecintaan terhadap wilayah pesisir ini, karena pada waktu saya merintis itu, kawasan pesisir Desa Lembung itu rusak, dari hutan awalnya seluas 19 hektare itu hanya ada satu dua tanaman, sering kali wilayah pesisir bagian timur itu sering dilanda abrasi,” ucapnya, Senin (5/11/2018). 

Pria kelahiran 14 Desember 1970 itu mengaku mengalami banyak rintangan dalam merintis hutan mangrove tersebut. 

“Cemoohan ada, intimidasi ada, bahkan 2016 kemarin ada pengumpulan tanda tangan dari masyarakat yang dimotori oleh salah satu perangkat desa di wilayah saya, itu tidak menyetujui terhadap kegiatan saya. Alhamdulillah sampai sekarang tantangan itu saya lalui, dan saya anggap sebagai motivasi saya untuk melangkah selanjutnya, alhamdulillah sampai sekarang ternyata orang-orang yang kemarin membenci dan menghalangi pekerjaan saya, sekarang dia mau belajar juga terhadap saya,” tuturnya. 

Ia menerangkan, ada dua cara penanaman yang diterapkan yaitu dengan cara propagul dan polybag, masing-masing ada lima jenis mangrove. 

“Ada jenis rhizopora stylosa, rhizopora mucronata, sonneratia alba, avicennia dan ada bruguiera,” jelasnya. 

Lanjut ayah dari dua anak itu, dengan adanya konservasi hutan mangrove itu, saat ini kondisi pesisir sudah di desanya sudah  aman, terbukti dengan adanya banyak masyarakat luar menanamkan modalnya dengan cara membudidaya udang vaname sekaligus menyelamatkan sekitar 211 hektar lahan pegaraman. 

Laki-laki berusia 48 tahun itu menambahkan, seiring perkembangan zaman, dirinya mencoba berinovasi dengan membentuk kelompok usaha bersama yang menjual hasil olahan tanaman mangrove berupa kopi, teh dan madu.

Menurut Slaman, dalam proses produksi, dirinya memberdayakan masyarakat setempat yang didominasi kaum perempuan. Meskipun hanya menggunakan alat-alat tradisional namun penjualan produknya sudah menjangkau luar negeri yaitu Jepang, hasil kerja sama dengan OISCA International.     

“Ternyata inovasi saya diterima oleh masyarakat lokal, provinsi, bahkan dunia pun mengakui,” ujarnya. 

Salah satu karyawannya, Hasanah menyatakan, kalau Slaman adalah sosok yang mampu menginspirasi orang-orang disekitarnya untuk peduli terhadap wilayah pesisir. 

“Saya bekerja di sini sejak tahun 2012, bikin kopi mangrove,” katanya. 

Selain itu, Slaman juga membentuk kelompok-kelompok di beberapa desa lain untuk menjaga wilayah pesisir di Pamekasan agar terhindar dari abrasi dan mempunyai fungsi ekologi, ekonomi, sosial budaya dan pendidikan. Dari keuletannya, Slaman telah memperoleh 8 penghargaan mulai dari tingkat kabupaten hingga internasional.

Untuk pertama kalinya penghargaan itu diterima pada tahun 2008 sebagai terbaik kedua perintis lingkungan tingkat Provinsi Jawa Timur. Bahkan sekarang hutan mangrove yang dikelolanya menjadi sering dijadikan objek penelitian oleh mahasiswa dan dosen.

Salah satu dosen perguruan tinggi swasta di Pamekasan, Endang Tri Wahyurini menyebutkan, kalau Slaman adalah tokoh lingkungan yang sangat peduli dan tanpa pamrih dengan banyaknya tantangan, mengingat saat ini tidak banyak orang yang peduli terhadap mangrove. 

“Ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa bagi saya, dimana saya juga membina kelompok ini sudah sejak tahun 2011, selain di dalam penanaman atau konservasinya, kami juga dalam manajemennya bagaiman kelompok ini bisa tetap eksis dan memang benar-benar menjadi inspirasi bagi kelompok yang lain,” terangnya. 

Di akhir perjumpaan kami, Slaman menyampaikan bahwa bagi dirinya ukuran sukses itu bukan seberapa banyak penghargaan atau seberapa besar keuntungan yang diperoleh, tetapi menurut Slaman sukses yang sebenarnya itu berdasarkan konsep lingkungan adalah seberapa banyak orang yang bisa menikmati hasil karya kita dan seberapa banyak orang yang diselamatkan dengan kegiatan atau pekerjaan kita.  

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00