• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kuliner Nusantara

Hoklay, Nikmatnya Lunpia dan Cwimie Dibalut Suasana Malang Tempo Dulu

3 November
10:28 2018
4 Votes (5)

KBRN, Malang: Suasana Malang Tempo Dulu terasa ketika memasuki Depot Hoklay, yang terletak di Jalan Kiai Haji Ahmad Dahlan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Lantai berwarna oranye dan deretan kursi kayu jati dihiasi rotan masih tetap utuh, sejak berdirinya depot di tahun 1946 silam. Aroma Lunpia Rebung dan Pangsit Cwimie khas Malang juga menyambut pengunjung yang datang ketika masuk ke rumah makan yang berada di jantung Kota Malang ini.

Di masa pasca kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1946 silam, di Kota Malang memang hanya ada tiga rumah makan. Selain toko Oen yang legendaris, Depot Hoklay juga masih eksis hingga sekarang. Depot bernuansa warna coklat tersebut kini dikelola oleh genersi ketiga, yakni Budiman Surya Widjaja. 72 tahun yang lalu, depot ini didirikan oleh kakek Surya bernama Tio Hoo Poo. Di era tahun 1960-an, Depot ini memang menjadi tempat ‘nongkrong’ favorit pemuda di Malang.

Budiman menjamin jika cita rasa makanan khas Hoklay tidak berubah sejak 1946 silam. Hal itulah yang menjadi kunci depotnya masih tetap eksis hingga sekarang. Hoklay sendiri berasal dari kata Hoki Lay yang artinya keberuntungan. Keberadaaanya diharapkan memberikan keberuntungan.

“Sejak awal harus konsisten soal rasa, resep masakannya sama seperti saat kakek saya yang mengelola. Bangunan heritage juga dipertahankan, karena ini juga menjadi ciri khas depot kami,” tuturnya, Sabtu (3/11/2018).

Lunpia Semarang, Pangsit Cwimie Malang, dan minuman ‘Fosco’ memang menjadi menu favorit pengunjung yang datang ke depot ini. Untuk Lunpia, meski berasal dari Semarang, namun cita rasanya telah disesuaikan dengan lidah warga Malang.

Lunpia di depot ini berukuran lebih besar dibandingkan lunpia pada umumnya. Isinya merupakan campuran olahan rebung, wortel dan ayam dibalut dengan kulit lunpia renyah. Lunpia itu disiram saus tauco serta dilengkapi daun bawang dan cabai.

“Kalau lunpia khas Semarang rasanya cenderung manis, tetapi kalau di Hoklay ada asinnya. Karena orang Malang tidak terlalu suka kalau manis,” ungkap Surya.

Tak hanya lunpia, pangsit Cwimie juga menjadi incaran pecinta kuliner. Tekstur mie yang kenyal berpadu dengan bumbu pangsit khas Malang membuat kuliner ini menjadi salah satu menu yang paling laris.

Sedangkan es ‘Fosco’ merupakan racikan minuman perpaduan antara susu sapi murni, coklat, gula, dan garam. Sehingga rasanya menjadi manis dan asin.

“Resep minuman Fosco ini dibuat oleh kakek saya, sampai saat ini rasa dan racikannya tetap sama. Kalau pengunjung senang, karena rasanya unik, seperti susu salted caramel,” kata pria berusia 59 tahun ini.

Pengunjung depot ini tidak hanya berasal dari warga lokal Malang, namun wisatawan juga banyak yang berkunjung, terutama ketika akhir pekan. Sejumlah tokoh nasional seperti Tinton Soeprapto, Moreno, Wiliam Wongso, hingga keluarga Bung Tomo juga pernah merasakan makan di Depot Hoklay.

“Beberapa warga dari luar negeri yang dulu pernah tinggal di Malang juga beberapa kali datang kesini. Mereka ingin bernostalgia,” ujar Surya.

Surya berharap, depot ini tetap eksis hingga nanti. Ia pun berpesan pada generasi penerusnya untuk tetap mempertahankan rasa dan suasana heritage yang kini menjadi ciri khas depot.

Meski awalnya pengunjung depot ini mayoritas orang dewasa, namun di era perkembangan teknologi seperti saat ini, banyak kaum milenial yang makan di depot ini. Sebab suasana heritage di Depot Hoklay memang ‘instagramable’.

“Adanya perkembangan internet, banyak remaja-remaja jadi tertarik. Mereka bisa foto, lumayanlah menambah pengunjung yang datang,” imbuhnya.

Salah satu pengunjung, Fisca Tanjung mengaku gemar makan di Depot Hoklay. Lunpia dan Fosco menjadi menu favoritnya.

“Ketika makan disini, saya lebih suka ke lumpianya. Selain rasanya enak, ukurannya juga besar. Saya sampai pesan dua kali karena rasanya enak,” tutur wanita asal Madiun ini.

Tak hanya soal menu, Fisca pun juga menyukai suasana makan di Depot Hoklay. Sebab wanita berkacamata ini menyukai tempat yang bernunasa tempo dulu.

”Saya suka tempat berbau vintage, bangunannya heritage mulai dari kursi dan ubinnya. Jadi untuk orang dari luar kota atau dari Malang sendiri jika ingin menikmati Susana tempo dulu sangat cocok jika makan di Hoklay,” pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00