• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Kiprah Ai Xin Berbagi Kasih Tanpa Melihat Suku Bangsa

17 October
09:35 2018
0 Votes (0)

KBRN, Pontianak : Pontianak : Perbedaam suku bangsa dan agama tidak menjadi penghalang bagi Wadah Himpun Kasih (Ai Xin) Pontianak untuk memberikan bantuan sosial kepada masyarakat tidak mampu atau yang tertimpa musibah. Komunitas beranggotakan warga Tionghoa ini tidak membedakan suku bangsa dan agama saat memberikan bantuan.

“Saat kami dapat informasi ada yang memerlukan bantuan, kami akan langsung bergerak untuk membantu,” kata Frendys Lu, Sekretaris Umum Ai Xin Kota Pontianak, Rabu (17/10/2018).

Frendys mengatakan, selama ini Ai Xin tidak pernah absen untuk membagi kasih di hari-hari besar keagamaan. “Ini sebagai bukti, jika kami ada untuk semua golongan,” kata Frendys.

Ai Xin yang berdiri sejak 13 Oktober 2014 lalu itu terus mengembangkan jaringan, sehingga keberadaan mereka dapat menjadi cahaya dalam kegelapan. “Ai Xin adalah hati penuh kasih. Motto kami adalah membagi kasih tiada batas,” ujar Frendys. 

Selama lima tahun di Kota Pontianak, Ai Xin banyak menggelar kegiatan sosial. Tiga event besar yang menjadi agenda rutin tahunan masyarakat Kota Pontianak, yaitu Idulfitri, Natal dan Tahun Baru Imlek adalah momen khusus bagi Ai Xin untuk bergerak membagi kasih. Saat bulan Ramadan, Ai Xin juga bergerak dari masjid ke masjid untuk memberikan bantuan bagi para duafa. 

Bahkan Ai Xin juga kerap turun membagi kasih seraya menemui langsung warga yang membutuhkan dan dalam kondisi sulit. Sejumlah rumah sakit menjadi target pergerakan wadah himpun kasih ini.

“Kita datangi orang yang sedang sakit. Misalnya ada seorang suami sakit, sementara istrinya menjaga. Tentu mereka kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Kita bantu dengan uang yang tidak banyak, tapi saya rasa itu sangat berarti,” ungkapnya.

Tidak cukup sampai di situ, Ai Xin juga komit membantu korban kebakaran, tertimpa musibah atau warga tidak mampu yang sakit berat. Tak jarang Ai Xin ikut menyebarluaskan informasi tentang kondisi warga tersebut agar lebih banyak yang membantu.

“Kami sebarkan informasi tentang kondisi warga tersebut ke sejumlah jaringan kami. Memanfaatkan media sosial juga tentunya dan media massa,” imbuh Frendys.

Frendys mencontohkan, ada seorang anak usia 12 tahun yang divonis mengidap stroke. Setelah dibawa berobat, ternyata anak tersebut harus dibawa ke rumah sakit yang memiliki peralatan lebih canggih. Ada penyumbatan oksigen dalam darahnya akibat terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat.

“Saat itu dibutuhkan dana sekitar Rp. 120 juta. Tentu kami tidak sanggup. Tapi kami tidak lantas diam. Kami share kondisi anak tersebut di media massa dan media sosial. Hasilnya, ada sekelompok ibu-ibu yang menyiapkan dana tersebut. Akhirnya anak itu pun berangkat ke Malaysia untuk diobati dan sembuh,” kenangnya.

Dalam menjalankan organisasi sosial ini, Frendys Lu dan kawan-kawan sepakat untuk tidak ada yang dapat mengambil keputusan dominan. Semua gerakan sosial Ai Xin diputuskan bersama. Hal inilah yang lantas menjadikan Ai Xin tetap ada dan diyakini akan terus berkembang.

“Saat ini, anggota Ai Xin sudah sekitar 350 orang. Kami berkomitmen untuk menyisihkan iuran Rp200.000 per orang setiap bulannya,” kata Frendys Lu.

Tidak hanya itu, para pengurus Ai Xin juga menerapkan sistem keterbukaan. Semua anggota dapat mengetahui ke mana iuran yang sudah mereka kumpulkan itu disumbangkan. Menurut Frendys, komitmen dan keterbukaan menjadi kunci utama, agar Ai Xin tetap eksis.

“Setiap anggota Ai Xin akan mendapat informasi ke mana dan untuk apa iuran yang mereka sudah sumbangkan. Ini menjadi komitmen para pengurus, sehingga kita bisa menjalankan organisasi ini dengan transparan,” lanjutnya.

Selan itu, pengurus Ai Xin juga sangat selektif dalam memberikan sumbangan atau biasa mereka sebut ‘kasih’ kepada penerima yang berhak menerimanya. Hal ini dilakukan untuk memastikan penyalurannya tepat sasaran.

“Kami pastikan kasih yang kami berikan itu langsung diterima oleh orang yang tepat. Kami datang langsung untuk menyerahkan kasih itu dengan nominal yang sudah disepakati para pengurus terlebih dahulu,” sambung Frendys.

Satu hal yang cukup menarik, dalam membagi kasih Ai Xin hanya menyiapkan uang tunai, bukan bantuan bahan pangan atau lainnya. Hal ini diyakini dapat memudahkan penerima bantuan untuk bisa memenuhi apa yang mereka butuhkan.

“Untuk besarannya kita lihat dulu dengan kondisi warga yang akan kita bantu. Harapannya, kasih yang kami berikan itu dapat meringankan beban dan dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan,” jelasnya.

Anut Ilmu Jet Lee

Wadah himpun kasih Ai Xin Pontianak berharap keberadaan mereka dapat dirasakan oleh masyarakat luas, meski saat ini organisasi sosial tersebut baru ada di wilayah Kota Pontianak.

Sekretaris Umum Ai Xin, Frendys Lu mengatakan, selain bergerak memberikan bantuan kasih, para pengurus Ai Xin juga sering diundang untuk menjadi motivator oleh sejumlah pihak. Kesempatan itu digunakan pengurus AI Xin berbagi ilmu yang sedikit banyaknya berkiblat pada upaya aktor laga asal negeri Tirai Bambu, Jet Lee.

“Jet Lee itu membuat gerakan sosial seperti Ai Xin di China sana. Dengan falsafah One Yen One Man akhirnya organisasi yang dibuat Jet Lee berkembang terus. Sehingga semua warga yang membutuhkan bisa dibantu,” ucap Frendys.

Melihat hal besar yang berawal dari hal kecil itulah, Frendys Lu dan sejumlah tokoh kalangan etnis Tionghoa di Pontianak memutuskan membuat wadah himpun kasih Ai Xin. Ia berharap hal ini bisa dilakukan dengan kekuatan yang lebih besar lagi.

Selain menggugah rasa kebersamaan di kalangan sendiri, pihaknya juga mendatangi sejumlah pihak, seperti sekolah-sekolah yang ada di Pontianak. Dalam kesempatan itu, Frendys Lu membagikan sejumlah pengalaman yang disertai dengan fakta yaitu keberadaan Ai Xin kepada generasi muda.

“Anak zaman sekarang itu perlu bukti. Jadi kita datangi mereka, kita ajak mereka diskusi kemudian memberikan contoh. Harapannya mereka bisa ikut gerakan sosial dalam berbagi kasih ini,” ujarnya.

Setiap berkunjung ke sekolah-sekolah, Frendys Lu selalu menekankan bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang besar berawal dari hal kecil. Dirinya juga mengajak para siswa menabung bersama untuk malam perayaan kelulusan di sekolah mereka.

“Misalnya ada 300 siswa. Setiap bulan kumpulkan uang Rp10.000 jika dikalikan selama 12 bulan dalam kurun waktu tiga tahun, tentunya akan sangat banyak uang yang dapat digunakan untuk malam perpisahan di sekolah. Tidak perlu minta lagi ke orang tua,” pungkasnya.

Apresiasi dari MUI 

Kegiatan sosial yang dilakukan Ai Xin Pontianak adalah sebuah contoh konkret, bagaimana rasa kebersamaan itu ada dan senantiasa dipupuk masyarakat provinsi Kalimantan Barat yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama. 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalbar memberikan apresiasi kepada para tokoh Tionghoa yang mendirikan Ai Xin. Namun, MUI juga memberikan catatan agar Ai Xin tidak keluar dari koridor sosialnya.

“Kalau membantu dengan tulus, siapapun orangnya kita apresiasi, hormati dan hargai. Asal jangan melanggar hukum,” kata Sekretaris MUI Kalbar, Zulkifli Abdillah.

Yang dimaksud melanggar hukum oleh MUI adalah, bantuan yang diberikan oleh Ai Xin itu diganti dengan embel-embel lain, seperti ajakan untuk masuk atau menjadi pengikut ajaran agama tertentu.

Sebagai Wadah Himpun Kasih yang anggotanya mayoritas dari etnis Tiong Hoa, MUI meminta agar Ai Xin dalam bergerak melihat situasi sosial terlebih dahulu. Sehingga niat tulusnya tidak bertabrakan dengan kondisi yang ada.

“Tidak selamanya niat baik itu berdampak baik. Makanya kawan-kawan Ai Xin juga harus melihat kondisi terlebih dahulu sebelum membantu. Kita harus lihat budaya masyarakat Kalbar seperti apa. Jika lingkungan tidak memungkinkan, ya tidak usah,” tandas Zulkifli.

Namun MUI memastikan, jika bantuan yang diberikan Ai Xin itu murni karena rasa sosial dan cermin keberagaman. Karena itu, tidak ada alasan bagi umat muslim menolak bantuan dan keberadaan Ai Xin. “Itu kan bantuan sosial ya. Yang penting tidak terkait dengan akidah kita,” tukasnya. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00