• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Jelang Pilpres, Masyarakat Indonesia Perlu Bijak Sikapi Berita Bohong

11 October
23:08 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Hoax atau berita yang bersifat misinformasi dan disinformasi, merupakan hal yang marak terjadi di belahan dunia manapun.

Kontestasi dalam dunia politik bahkan menjadi ajang yang paling banyak dihiasi dengan beredarnya berita-berita misinformasi dan disinformasi.

Pakar jurnalisme dari Amerika Serikat, Maggie Farley, mengatakan, pemilu presiden di Indonesia diprediksikan tidak akan luput dari beredarnya berbagai berita yang tergolong misinformasi dan disinformasi, seperti halnya yang terjadi di pemilu presiden pada sejumlah negara.

“Ya, mungkin saja hal itu akan terjadi seperti yang terjadi pada pemilu Amerika Serikat,”ujar Maggie Farley yang ditemui usai sesi dialog di @America, di Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Menurut Pakar yang juga merupakan pengajar di Sekolah Jurnalisme di American University itu, mulai dari sekarang masyarakat Indonesia diharapkan bijak, dalam menerima berbagai berita maupun informasi yang berkaitan dengan pemilu presiden tahun depan.

“Jadi, yang terpenting adalah masyarakat untuk dapat melihat secara seksama atas isu yang ada. Bukan tentang para kandidat ini berdiri untuk apa. Jadi, jangan terlalu dibuat bingung atas drama ataupun kontroversi yang sebenarnya tidak nyata,”tegasnya.

Farley menjelaskan, hoaxer atau pembuat berita bohong akan memanfaatkan momentum menjelang pemilu presiden 2019, dengan tujuan membodohi masyarakat daripada mengajak mereka berpartisipasi memberikan hak suara.

Utamanya tentu masyarakat harus sadar betul bahwa ini adalah suasana pemilu, dan tentunya akan banyak misinformasi dan dis informasi. Kemudian, orang-orang ini akan mencoba untuk membodohi masyarakat, daripada untuk mendapatkan suara (dalam pemilu),”imbuh Farley.

Maggie Farley menyatakan, meski sulit dicegah namun hoax dan berita sejenisnya dapat “diserang” dari berbagai sisi.

“Memang sangat sulit untuk melakukan pencegahan, karena para pembuat berita bohong itu selalu selangkah lebih maju daripada mereka yang mencoba untuk melakukan pencegahan. Ini juga merupakan suatu hal yang reaktif,”terangnya.

Farley menjelaskan, dalam “penyerangan” itu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak yang menjalankan perannya dengan baik.

“Tapi, apabila Anda mencoba untuk menyerangnya maka Anda harus memulainya dari banyak sisi. Jadi, bisa lebih akurat bagi media dari cara dia melaporkan dan menyampaikan berita. Pemerintah bisa memberikan dukungan dengan menyelenggarakan pelatihan lebih banyak lagi bagi para jurnalis, termasuk juga memberikan informasi publik tentang bagaimana berhati-hati terhadap berita bohong. Jadi, Anda harus menyerangnya dari berbagai sisi. Tapi, elemen terpenting dalam upaya mencegah berita bohong adalah Anda sendiri, yaitu secara individual. Harus ada sikap skeptis akan berita yang Anda terima dan bertanya pada diri Anda sendiri apa tujuan dibalik informasi ini?, darimana sumbernya? apakah bisa diandalkan? dan bagaimana saya bisa mengeceknya?,”tutup Maggie Farley. (RM)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00