• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Seatap Tiga Tiang, Rumah Orang Basudara di Pulau Teor

1 October
15:02 2018
10 Votes (4.8)

KBRN, Bula : Kapal Perintis KM Fajar Baru tujuan Pulau Geser, Gorom dan Keshwui bertolak dari Pelabuhan Sesar Kota Bula Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Provinsi Maluku, Rabu (26/09/2018) ketika malam mulai menjemput senja, sekitar pukul 19.30 WIT.

Dari toa masjid Kampung Sesar yang berdekatan dengan areal dermaga, sayup-sayup terdengar Adzan Isya berkumandang, namun puluhan kios yang berjejer di dalam areal dermaga, terlihat masih dijejali masyarakat yang asyik menyeruput secangkir kopi sebelum kembali ke rumah.

Tidak seperti biasanya, jumlah penumpang KM Fajar Baru tujuan Geser, Gorom dan Keshwui kali ini boleh dibilang sangat sedikit. Ini terjadi karena kebanyakan warga sedang menunggu pendaftaran seleksi CPNS tahun 2018 di Kota Bula.

KM Fajar Baru sendiri, bertolak dari Kota Sorong Papua Barat dengan rute pelayaran terakhir di Pulau Keshwui Kecamatan Wakate. Selain KM Fajar Baru, ada kapal cepat KM Cantika dari Kota Ambon dan kapal perintis KM Alis Mulia yang rutin melayari perairan SBT dan sekitarnya dalam beberapa tahun terakhir.

Waktu perjalanan dari Kota Bula ke pulau terapung Geser rata-rata 5 - 6 jam, tergantung kondisi perairan, begitu pula dari Geser ke Pelabuhan Ondor atau Pelabuhan Kataloka di Pulau Gorom. Dari Pelabuhan Gorom ke Pulau Keshwui, umumnya ditempuh selama 4 - 5 jam.

Nah, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 14 jam dari Kota Bula, KM Fajar Baru  akhirnya merapat di Pelabuhan Keshwui yang berpasir putih halus. Tiba di Keshwui, perjalanan dilanjutkan dengan speedboat selama 2 jam ke Pulau Teor, karena KM Fajar Baru hanya beroperasi sampai di Pulau Keshwui.

Teor adalah salah satu pulau kecil di Kabupaten SBT. Sebelum dimekarkan menjadi kecamatan, Teor menjadi bagian dari Kecamatan Wakate bersama Keshwui dan Watubela. Meski masih sepi dari hiruk pikuk roda pembangunan, geliat kehidupan orang-orang pulau tampak tenang-tenang saja karena mereka dimanjakan oleh hasil alam.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten SBT tahun 2013, jumlah penduduk di pulau yang berbatasan dengan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) ini sebanyak 2.556 orang dengan rincian laki-laki 1.263 orang dan perempuan 1.293 orang. Namun bilangan penduduk ini telah terkoreksi pada tahun 2017 sebanyak kurang lebih 3.800 orang.

Luas wilayah Pulau Teor tercatat 23,26 kilometer persegi atau 783,645 hektar. Bagian barat pulau ini berbatasan dengan Pulau Keshwui, bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), bagian selatan dengan Laut Banda dan bagian utara berbatasan dengan Laut Papua. 

Mata pencaharian utama penduduknya adalah bertani (kopra, cengkeh, pala) dan melaut. Meski kaya akan sumber daya hayati laut, potensi perikanan di perairan Teor  belum dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber penghidupan utama akibat dari minimnya sarana prasarana penangkapan ikan yang umumnya masih tradisional dan ketiadaan pasar.

Di Teor saat ini terdapat 6 geeung Sekolah Dasar (SD) dan 2 gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan satu Sekolah Menengah Atas (SMA). Satu unit Puskesmas Pembantu (Pustu) baru dibangun, tapi paceklik tenaga medis. Jalan lingkar pulau belum dibangun, sedangkan akses listrik dan telekomunikasi masih sulit didapatkan.

Pulau Tiga Agama

Mayoritas penduduk Kabupaten SBT memeluk agama Islam. Berdasarkan rekapan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil SBT, pada triwulan pertama tahun 2017, jumlah penduduk di kabupaten berjuluk Ita Wotu Nusa tercatat telah menembus angka 131 ribu jiwa lebih, dimana 98 persennya adalah Muslim.

Dari 15 kecamatan yang ada di Kabupaten SBT, hanya tiga kecamatan yang dihuni minoritas Katolik dan Protestan, yakni Teor, Wakate (Keshwui) dan Siwalalat, sedangkan minoritas Protestan, Katolik, Hindu dan Budha yang berdomisili di Kota Bula dan Bula Barat adalah kaum urban dan migran.

Mayoritas penganut Protestan mendiami beberapa kampung di Kecamatan Siwalalat, sedangkan mayoritas Katolik menghuni Pulau Keshwui dan Teor. Meski jumlah mereka sedikit, lebih kurang 5 ribu jiwa,  mereka dapat beradaptasi dan hidup berdampingan secara harmonis dengan komunitas Muslim selama berabad-abad.

Tidak ada sekat yang membatasi pola interaksi antara minoritas dan mayoritas, selain dalam hal ibadah dan keyakinan. Fasih dengan bahasa adat adalah ciri minoritas Katolik dan Protestan Kabupaten SBT, yang membedakan mereka dari komunitas Kristen di Pulau Seram, Ambon dan Lease.

Di Pulau Teor, terdapat 10 kampung (negeri, bahasa lokal) yang dihuni oleh penduduk dengan tiga agama. Sepuluh negeri itu adalah Rumoy Duryar, Ker Ker, Karlokin, Kartutin Kartengah, Rumalusi, Kilwouw, Lapang Kampung Jawa, Wermaf Tengah, Kampung Baru dan Mamur.

Dari 10 negeri itu, 1 kampung dihuni penganut Protestan, 4 kampung dihuni pemeluk Katolik dan 5 kampung dihuni komunitas Muslim. Lima kampung Muslim berada di bagian pesisir Pulau Teor sebelah barat, sedangkan Non Muslim menghuni pesisir bagian barat, menghadap Kabupaten Maluku Tenggara.

Namun ada kampung yang di dalamnya terdapat keluarga-keluarga pluralis dengan keyakinan (agama) yang berbeda, meski tidak dominan. Kebanyakan dari keluarga-keluarga pluralis ini menyandang lima marga adat, yakni Kolatfeka, Kolatlena, Rumatora, Rumagiar dan Rumakilrat.

Parang Teor adalah simbol keperkasaan orang Teor. Bentuknya panjang, tajam dan mengkilap menyerupai Samurai, sehingga sering disebut Samurai Teor. Parang jenis ini dipajang pada dinding rumah dan sering dijadikan sebagai cinderamata bagi kerabat atau orang-orang yang berkunjung ke Pulau Teor.

Berbekal prinsip hidup "Satu Dalam Keberagaman", masyarakat Pulau Teor hidup damai bersama alam sekitar, alam yang membuat mereka hidup berkecukupan dalam gubuk-gubuk sederhana, dan alam yang membuat mereka hidup terisolasi dari dunia luar setiap datang musim timur dengan gelombangnya yang tinggi.

Tokoh muda Pulau Teor Alimuddin Kolatlena dijumpai RRI menyebutkan, di daerahnya terdapat satu kampung yang dihuni mayoritas penganut Protestan, yakni Kampung Rumoy Duryar. Empat kampung lain dihuni mayoritas penganut Katolik, yakni Rumalusi atau Teor yang di dalamnya ada satu dua penganut Muslim, Ker Ker, Karlotin dan Kartutin Kartengah. 

Lima kampung lainnya menganut agama Islam, yakni Kilwouw, Lapang Kampung Jawa, Wermaf Tengah, Kampung Baru dan Mamur. Lima kampung ini berada di pesisir Pulau Teor bagian timur yang berhadapan dengan Pulau Keshwui. Di Pulau Keshwui sendiri, terdapat beberapa kampung Katolik yang diapit negeri-negeri berpenduduk Muslim.

Rumah Orang  Basudara

Teor dan Keshwui adalah rumah bagi orang basudara (bersaudara). Seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir tiada henti, kehidupan masyarakat di dua pulau yang memiliki pesona wisata bahari itu, bergerak mengikuti perkembangan zaman dengan semangat hidup orang basudara.

Namun modal hidup yang demikian, bukan berarti tak pernah luput dari ujian dan terpaan badai. Itu terjadi ketika negeri raja-raja dilanda konflik komunal pada tahun 1999. Jauh dari jangkauan informasi, membuat isu seputar konflik Ambon menghantui semua orang yang hidup berdampingan dengan orang atau karib kerabat yang berbeda keyakinan.

Akibat dari syak wasangka dan saling curiga, tatanan hidup orang basudara di negeri para raja, termasuk di Kabupaten SBT tercabik-cabik, meski pada akhirnya mereka kembali berkumpul dalam sebuah kesatuan dan itu berlangsung secara alami. 

Nah, di Pulau Theor, terdapat keluarga-keluarga kecil yang memberi kebebasan kepada anggota keluarganya menganut  agama dan kepercayaan sesuai dengan hati nuraninya. Tidak heran jika dalam sebuah keluarga di Theor, sedikit di Keshwui, terdapat tiga agama dalam sebuah keluarga, yakni Islam, Katolik atau Protestan.

Tokoh pemuda Teor Constansius Kolatfeka kepada RRI bercerita, meski keluarga besarnya adalah  penganut Katolik yang taat, namun sebagian dari dari  keluarganya ada yang menganut agama Islam. Mereka yang menganut agama Islam tidak dimusuhi, tapi tetap dianggap dan diperlakukan secara baik sebagai bagian dari keluarga. 

“Keluarga besar saya, banyak yang beragama Islam dari marga Rumatora,  Rumagiar, Kolatlena, termasuk Kolatfeka. Tapi kami semua hidup dalam sebuah ikatan kekeluargaan yang kuat, sebab adat yang datang duluan dari agama,” ungkap Constansius Kolatfeka dengan bangga. 

Hal yang sama, tambah dia, juga terdapat di keluarga-keluarga lain seperti keluarga Alimuddin Kolatlena (Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD SBT), yang mana, di dalam rumahnya sendiri terdapat anggota keluarga yang beragama Islam, Katolik dan Protestan.

"Keluarga  pak Ali Kolatlena itu sama dengan saja dengan keluarga saya. Kita tinggal di kampung Protestan, saya Katolik, pak Ali Muslim. Keluarga besar pak Ali ada yang Katolik dan Protestan Rumatora, Rumagiar dan Rumakilrat. Di Kampung Rumoy Duryar hanya  Pak Ali, adik dan bapaknya yang Muslim, yang lain Katolik dan Protsetan tapi mereka hidup rukun,” beber Kolatfeka.

Hidup dalam lingkungan minoritas bagi sebagian orang memang akan terasa sangat sulit karena dibatasi banyak hal dan ruang gerak yang sempit. Namun bagi masyarakat Teor, perbedaan justru membuat mereka saling mengenal satu dengan yang lain, dan belajar ikhlas menerima perbedaan sebagai anugerah dari sang pencipta.  

“Saya hidup di Kampung Rumoy Duryar dengan semua keluarga atau penduduk yang beragama Protestan  Hanya saya dan saudara saudara lain, ada  lima rumah yang Katolik.  Meski begitu, kami hidup seperti adik kakak kandung, tidak ada masalah yang membuat kami tidak nyaman,” ungkap Kolatfeka dengan optimis.   

Rupanya, saling menjaga dan menghargai perbedaan, adalah kunci hidup orang bersaudara di Pulau Teor, kata Kolatfeka. Prinsip hidup seperti itu, ternyata tidak hanya berlaku dalam keluarga-keluarga pluralis dalam satu rumah atau kampung, tapi juga berlaku dalam kehidupan antar kampung.

Alimuddin Kolatlena adalah tokoh muda Pulau Teor yang menjadi perwakilan masyarakat setempat di kursi DPRD SBT. Politisi Partai Gerindra jebolan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon ini, adalah seorang mualaf yang memilih agama Islam sebagai jalan hidupnya pada tahun 1993 di Kota Tual.

Alimuddin bercerita, ketika informasi mengenai kepindahannya dari agama Protestan ke agama Islam sampai kepada keluarga besarnya di Teor, ibunya adalah orang yang paling terpukul. Sang ibu hanya merasa kehilangan karena satu dari lima anaknya telah memilih jalan yang berbeda, mengikuti jejak sang ayah yang seorang Muslim.

Meski sedih dan kehilangan, menurut Alimuddin, sikap sang ibu yang menganut agama Protestan dan keluarga besarnya di Teor tak berubah kepadanya, bahkan belakangan ikut mendukung dan mendorong dirinya menjalankan ibadah shalat dan puasa dengan baik, sesuai dengan tuntunan Islam.

"Sebagian besar keluarga saya di Teor menganut Protestan, sedangkan yang menganut  Katolik dan Muslim, jumlahnya tidak terlalu banyak, tidak sampai seratusan," ujar Alimuddin yang berasal dari kampung Protestan, Rumoy Duryar.

Fakta  yang dikumpulkan RRI dari masyarakat lokal justru memberi petunjuk ke rumah keluarga Alimuddin Kolatlena yang bisa dijadikan sebagai contoh rumah satu atap yang dihuni tiga agama. Sejumlah warga yang disapa, mengungkap damainya kehidupan keluarga Kolatlena yang pluralis dengan semangat.

"Iya benar, rumah keluarga saya memang dihuni oleh anggota keluarga yang berbeda agama, ada yang Islam, Katolik dan Protestan. Satu saudara saya Katolik,  dua Protestan tambah ibu yang sudah almarhum,  dua Islam, yaitu saya dan adik laki-laki tambah bapak yang sudah berhaji tahun 2017," aku Kolatlena.

Perbedaan Adalah Kodrat 

Tokoh Muda Teor Constansius Kolatfeka membagi inspirasi, dalam kehidupan masyarakat pesisir di Pulau Teor, perbedaan adalah kodrat Ilahi yang tidak bisa dilawan atau ditawar, karena yang lebih penting adalah kewajiban membangun, menyambung dan menjalin ikatan persaudaraan secara utuh tanpa melihat perbedaan agama dan status sosial.

Jadi, kata Kolatfeka, bukan hal yang luar biasa jika melihat pemandangan yang jarang terjadi di daerah lain, seperti pemandangan pembangunan masjid dan gereja bersama-sama, tradisi mengantar jamaah haji yang diikuti warga non Muslim, Lebaran dan Natal dirayakan secara bersama, serta tradisi-tradisi adat yang melibatkan semua orang basudara.

"Misalnya lagi, kalau ada saudara kami berpuasa, kami yang tidak puasa, tanpa diminta akan membantu meyiapkan makanan dan minuman berbuka bagi saudara kami itu. Kami bahkan tidak boleh makan minum di hadapannya selama  dia berpuasa,"  ungkap Kolatfeka yang menganut agama Katolik.

Budaya hidup yang demikian, kata Kolatfeka, membuat masyarakat Teor merasa senasib dan sepenanggungan, potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa, siapa balik batu batu balik dia, lebih-lebih ketika berada di luar daerah, termasuk di Kota Bula yang masih satu kabupaten dengan Teor.

Di Bula misalnya, banyak warga Teor yang non Muslim menumpang di rumah-rumah kerabat  mereka yang Muslim, jika tujuan kedatangannya hanya untuk beberapa hari. Mereka hidup  berkelompok tanpa memandang agama dan status sosial, tapi tidak membatasi pergaulan atau interaksi dengan komunitas masyarakat lain.

Hal yang sama terlihat di Kota Ambon, di mana komunitas Muslim dan non Muslim asal Teor, saling berbagi dan menjaga silaturahmi agar tidak putus, dengan saling berkunjung atau melakukan kegiatan yang melibatkan sesama orang bersaudara.

Menurut Constansius Kolatfeka, saat konflik melanda Kota Ambon belasan tahun lalu, berlindung di rumah saudaranya Alimudidin Kolatlena yang  tinggal di kawasan Muslim STAIN Batumerah Merah Ambon. Meski demikian, dirinya sama sekali tidak merasa takut atau khawatir karena berada dalam perlindungan saudaranya. 

“Perbedaan bagi kami masyarakat Teor adalah kodrat Illahi. Kami memaknai perbedaan sebagai sebuah anugerah yang harus disyukuri karena melalui perbedaan kami bisa saling kenal mengenal, serta saling membantu dan saling melengkapi,” tegas Kolatfeka.

Disadari, dalam kehidupan masnusia, perbedaan fisik, rupa, watak, pemikiran, keahlian, keyakinan, kepentingan, status sosial dan falsafah hidup diciptakan oleh penguasa alam agar satu sama lain saling mengenal dan bergantung.  Sama seperti tanaman hias, tanaman itu akan terlihat lebih indah dan menarik jika kembangnya memiliki aneka macam warna.

Menurut Alimuddin Kolatlena, dalam merawat kehidupan yang beragam, masyarakat Pulau Teor menghindari isu-isu sensitif yang dapat menimbulkan perdebatan dan menimbulkan pertentangan. Isu-isu keagamaan, lebih banyak difokuskan pada lingkungan internal dan dalam hal ibadah, masing-masing pemeluk agama didorong untuk menjalankan ibadahnya sesuai dengan tuntunan agama yang diyakininya.

Dukungan dan dorongan kepada mereka yang memiliki perbedaan keyakinan dalam lingkungan mayoritas, tidak sebatas ditunjukkan dalam bentuk lisan, tapi juga dalam bentuk nyata. Itu terlihat dengan dibangunnya Mushollah kecil bagi keluarga–keluarga Muslim, seperti yang dilakukan masyarakat Kampung Rumoy Duryar kepada keluarga Kolatlena. 

Hal yang terlihat ketika ayah Alimuddin Kolatlena diberangkatkan dari Teor ke Kota Bula pada tahun 2017 untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, ibadah haji di tanah suci Mekkah. Suka cita warga Katolik dan Protestan ditunjukkan dengan mempersiapkan segala hal menjelang keberangkatannya, termasuk prosesi adat. Mereka bangga karena ayah Alimuddin Kolatlena adalah calon haji pertama yang keluar dari Pulau Teor, lebih-lebih lagi, keluar dari kampung Protestan.    

Tantangan Zaman Now

Di zaman now, bahkan dari dulu, sejak ada kehidupan di muka bumi, perbedaan sering menjadi penyebab atau biang kerok terjadinya konflik dalam hidup bermasyarakat. Perbedaan bukannya dipandang sebagai sunnatullah atau hukum alam, tapi menjadi pemicu konflik gara-gara selisih paham, beda agama, beda pendapat, bahkan beda partai politik.

Kondisi seperti ini bahkan sedang dialami bangsa Indonesia saat ini, dimana kebhinnekaan Indonesia tengah diusik oleh faham-faham radikal dan sikap intoleransi dari segelintir orang yang membawa-bawa simbol idetntias atau agama untuk menghalalkan tindakannya. Insiden demi insiden yang dilancarkan dalam bentuk teror dan bom, memang tak mampu merobohkan fondasi bangsa Indonesia, namun banyak yang ikut menjadi korban dari insiden-insiden tersebut.

Fenomena seperti ini  lah, yang sekarang menjadi beban pikiran dan kekuatiran Kolatfeka dan Kolatlena dalam membangun peradaban hidup yang harmonis dan berkelanjutan di Pulau Teor. Mereka kuatir karena dampak dari kemajuan teknologi informasi, akan mempengaruhi pola pikir dan karakter budaya baru generasi muda Teor yang jauh dari nilai-nilai kearifan lokal. 

Apalagi saat ini, kata Alimuddin Kolatlena, pengaruh minuman keras (miras) mulai marak dan diperdagangkan secara bebas di Pulau Teor. Dia kuatir, dampak dari mengkonsumsi miras secara berlebihan akan berpengaruh terhadap jalan pikiran generasi muda, hingga tidak terkontrol dalam pergaulan antar sesama. 

“Sekarang ini, miras mulai marak dikonsumsi oleh generasi muda di Teor. Saya hanya kuatir, dampak  dari mengkonsumsi miras secara berlebihan akan menimbulkan gangguan keamanan akibat kehilangan kontrol. Karena biasanya, mereka yang mengkonsumsi miras secara berlebihan tidak dapat mengontrol emosi dan perkataan, sehingga bisa memancing keributan,” risau Kolatlena.

Hal yang sama dikuatirkan oleh Constansius Kolatfeka. Namun pejuang lingkungan dari LSM Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku ini, menekankan pentingnya membina dan membangun mental generasi muda di Pulau Teor, agar mereka mau belajar dan mendalami makna hidup orang basudara di Pulau Teor.      

Menyingkap Tabir Teor

Cerita tentang asal usul penduduk yang menghuni Pulau Teor sejauh ini belum terdokumentasi. Namun berdasarkan cerita-cerita yang menjadi buah bibir masyarakat turun temurun, konon penduduk asli Pulau Teor telah pergi meninggalkan pulau karang itu sebelum leluhur penduduk Teor yang sekarang datang dan tinggal menetap.

Dari beragam cerita yang dihimpun RRI, leluhur masyarakat Teor yang sekarang, sebagian diceritakan berasal dari Kepulauan Banda, sebagian dari Kepulaun  Kur Tayando dan Kei, sebagian lagi dari Kepulauan Gorom. Tidak diketahui secara pasti penyebab kedatangan mereka ke Pulau Teor, namun mereka yang eksodus dari Kepulauan Banda diyakini melarikan diri  setelah tanah mereka dikuasai Portugis dan Belanda.

Dari bukti-bukti peninggalan masa lalu yang tersimpan di rumah-rumah tua, agama Islam adalah agama pertama yang dianut oleh leluhur Teor, sebelum bangsa kolonial datang memonopoli rempah-rempah Maluku sambil menyebarkan agama Katolik dan Protestan di daerah - daerah yang dikuasainya.

"Banyak bukti-bukti peninggalan Islam yang tersimpan dalam rumah-rumah tua di Teor, seperti Alqur'an tua, sorban Arab, pisau untuk sunnat atau khitan dan lain-lain. Benda-benda peninggalan itu bukan saja terdapat dalam rumah-rumah tua milik keluarga yang beragama Islam, tetapi juga di rumah-rumah Katolik," ungkap Alimuddin.

Menurut Contstansius Kolatfeka, benda-benda peninggalan Islam banyak yang tersimpan di rumah-rumah keluarga Katolik, namun benda -benda tersebut tidak dibuang atau dihancurkan, tetapi dirawat dan disimpan secara baik sebagai wujud penghormatan kepada leluhur mereka yang Muslim.

Dalam catatan Balai Arkeologi Ambon, posisi Kepulauan Gorom dan sekitarnya (Kehswui dan Teor) berada dalam jalur lintasan perdagangan rempah-rempah  dari Maluku ke Kepulauan Raja Ampat Papua Barat. Letaknya yang strategis, membuat pengaruh Islam dari Kesultanan Tidore menyebar sangat cepat. 

Dalam beberapa literatur disebutkan Kepulauan Gorom merupakan wilayah ekspansi kekuasaan Kerajaan Tidore, sehingga diduga penyebaran agama Islam berasal dari sana, tetapi tidak menutup kemungkinan Islam dibawa oleh para pedagang Arab karena adanya jalur niaga.

Balai Arkeologi Ambon sendiri, pernah melakukan penelitian di Gorom pada 2006, dan menemukan adanya bekas fondasi dan struktur Istana Kerajaan Amar Sekaru yang merupakan salah satu dari kerajaan tua yang memiliki hubungan dengan kerajaan Tidore.

Amar Sekaru merupakan salah satu dari tiga negeri adat yang ada di Pulau Gorom, dua kerajaan lainnya adalah Ondor dan Kataloka. Dari keseluruhan negeri di Kepulauan Gorom, menurut Balai Arkeologi Ambon, hanya ada bebrapa negeri adat sehingga penelitian tentang struktur istana di Amar Sekaru diperlukan untuk memperoleh tambahan temuan.

Dari bukti-bukti peninggalan Islam yang  terdapat dalam beberapa rumah tua di Teor, boleh disimpulkan bahwa agama Islam telah dianut oleh leluhur Teor sebelum masuknya agama Katolik dan Protestan. Meski belum ada catatan sejarah mengenai penyebaran agama di Pulau Teor, namun diyakini Islam dibawa dari Banda dan Kepulauan Gorom yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Tidore, sedangkan Katolik dan Protestan dibawa dari Kepulauan Kei Maluku Tenggara. 

Yang pasti, apapun itu, dan dari mana pun tiga agama itu berasal, tradisi dan budaya hidup masyarakat Teor yang memaknai perbedaan agama sebagai kodrat Illahi, adalah perilaku hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai universal. Nilai-nilai kearifan lokal seperti ini, tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Maluku yang dibungkus dengan kain pela gandong.

  • Tentang Penulis

    Abdullah Leurima

    Reporter RRI Bula peraih Anugerah Pesona Bahari Indonesia 2016 (best of the best) dari Menteri Pariwisata RI

  • Tentang Editor

    Ninding Yulius Permana

    KBRN Pusat EDITOR 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00