• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Museum, Sarana Edukasi dan Pelestarian Benda Bersejarah

28 September
20:32 2018
0 Votes (0)

KBRN, Padang : Pagi itu, langit cerah merona, hangat menyambut kedatangan  pengunjung yang tidak hentinya memenuhi bangunan dengan ornamen berupa ukiran kayu bermacam motif.

Hampir beberapa pekan ini, bangunan yang populer dengan sebutan Museum Adityawarman seakan menjadi pusat perhatian banyak orang, khususnya pelajar sekolah. Decak kagum, bercampur rasa ingin tahu memenuhi alam pikiran anak-anak berseragam sekolah. 

Keingintahuan dan rasa peduli tersebut pada akhirnya menuntun anak-anak melangkahkan kaki ke museum yang didirikan tahun 1974 itu. 

Ya, begitulah. Terhitung sejak tanggal 28 Agustus lalu, pusat pelestarian benda bersejarah  tidak pernah sepi pengunjung. Setiap hari, kecuali Senin, ratusan pelajar memenuhi museum yang bangunannya menyerupai rumah gadang. Di dalamnya, 72 senjata tradisional dari beberapa daerah dipajang dalam wadah kaca transparan berbentuk persegi empat.

Kepala Museum Adityawarman Provinsi Sumatera Barat, Adi Saputra, Jumat, (28/9/2018) di sela-sela pameran menuturkan, bermacam jenis senjata tradisional dari berbagai daerah di Indonesia dipajang di museum urang awak itu. Tahun 2018 menjadi tahun keberuntungan bagi Sumatera Barat, ditetapkan sebagai tuan rumah penyelenggara event berskala regional itu.

''Berlatar belakang keinginan untuk  mengenalkan sekaligus melestarikan benda-benda bersejarah, secara bergiliran museum di Indonesia menggelar pameran bertajuk pengenalan benda-benda bersejarah dengan sasaran generasi muda,'' ujarnya.

Sudah seharusnya, generasi muda dibekali pengetahuan yang lebih dalam mengenai karakteristik suatu daerah. Dengan demikian, apa pun benda-benda bersejarah yang dimiliki daerah dapat dilestarikan sekaligus  sarana edukasi untuk menambah wawasan. 

Untuk tercapainya sasaran tersebut, dari pihak museum, jelas Adi Saputra, memberikan kesempatan kepada kepada pengunjung, khususnya pelajar sekolah dalam rentang waktu enam bulan tersebut. Pada waktu yang telah ditentukan, pelajar tidak dikenakan biaya masuk museum. Alhasil, museum tidak pernah sepi dari pengunjung,  bahkan  berdasarkan pengamatan,  tercatat  ratusan pelajar  dari 7 hingga 8 sekolah  berburu pengetahuan ke museum.

Rio, salah seorang pengunjung Museum Adityawarman mengaku puas dengan penyelenggaraan ajang tahunan dimaksud.

''Sebelumnya, tidak terlintas dipikiran mengenal keberadaan benda-benda bersejarah seperti rencong, trisula, keris, tombak bahkan senjata dari batu yan dipergunakan para pendahulu,'' paparnya.

Dipercayanya Sumatera Barat selaku tuan rumah penyelenggaraan event diharapkan dapat memotivasi generasi muda untuk peduli dan menghargai barang-barang peninggalan sejarah yang mestinya dilestarikan dan diwarisi secara turun temurun ke anak cucu.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00