• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Kisah Eks Lurah NII Dirikan Republik Ngapak Tangkal Radikalisme

22 September
11:11 2018
1 Votes (1)

KBRN, Banyumas : Badannya kurus. Aslinya Kebumen, Jawa Tengah. Rabu (19/9/2018), ia diundang sebagai pembicara di hadapan ratusan mahasiswa IAIN Purwokerto.

Saat mendengar materi yang dibawakan, semua pasti sedikit terbengong. Ya, Ken Setiawan, nama lelaki itu, ternyata tengah menyampaikan tema yang berat sekaligus sensitif: radikalisme.

Lebih-lebih Ken, yang secara perawakan tampak kurang mumpuni, bicara soal radikalisme berdasar pengalamannya sebagai mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII), salah satu organisasi yang menjadi basis gerakan radikal di Tanah Air. Tak tanggung-tanggung, jabatannya waktu itu Lurah NII wilayah Jakarta periode 2000-2003. 

Tugas utamanya merekrut ratusan orang dalam sebulan. Caranya mempengaruhi pemikiraan calon dengan mempergunakan dalil agama dan mencari pembenaraan di kehidupan nyata.

“Di kelompok radikal yang saya ikuti Negara Islam Indonesia itu, bicara tentang negara Islam. Tapi banyak hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Hukum Islam diubah, katanya Islam yang rahmatan lilalamin. Kerjaan kita setiap hari menipu mencuri, merampok harta orang lain, yang kita anggap kafir," Ken bercerita membuka kembali memorinya.

Merasa ajaran, pejabat dan tata pemerintahan NII tidak sesuai hati nurani, Ken mulai memberontak untuk lepas dari NII. Butuh waktu empat tahun bagi Ken untuk bisa benar-benar keluar dari NII. Masalahnya tidak selesai disitu, dirinya harus menghadapi ancaman penyiksaan hingga pembunuhan. Namun tekad Ken sudah bulat untuk keluar, tepatnya pada tahun 2007.

Penebusan Dosa

Menebus dosa karena telah menjerumuskan ratusan orang untuk masuk NII, Ken membalasnya dengan cara mengumpulkan rekan-rekan sesama mantan aktivis untuk membentuk NII Crisis Center tahun 2010. 

Selain untuk membendung bahaya NII, wadah ini juga berfungsi untuk memberikan perlindungan dan terapi bagi korban NII. Sadar tidak bisa sendirian, Ken mengandeng aparat pemerintah untuk mensosialisasikan bahaya NII ke seluruh Indonesia.

“Modus ini gagal ganti lagi, masyarakat waspada ganti lagi. Mereka (NII) memanfaatkan era demokrasi ini, dengan legalisasi organisasi, dan ini masyarakat agak susah. Mereka masuk sekolah dengan kegiatan-kegiatan bagus,” ujarnya.

Setelah mendirikan NII Crisis Center, Ken juga melihat kawan- kawannya yang berhasil keluar dari NII butuh wadah untuk bisa bertukar pikiran, teman ngobrol dan lainya. 

Sebab dari pantauannya, 90 persen yang keluar dari NII dalam kondisi stres atau depresi. Untuk itu perlu adanya wadah untuk bersilaturahmi, dan bersosialisasi menuju kehidupan yang baru. 

Ken kemudian mendirikan Paguyuban Ngapak pada 1 Agustus 2010.  Setelah tiga tahun perkumpulan ini berbadan hukum dengan akta notaris tertanggal 19 Oktober 2013. Paguyuban Ngapak ini kemudian lebih dikenal dengan Republik Ngapak. Menurut Ken, hingga saat ini ada puluhan mantan anggota NII yang menjadi anggota bahkan menjadi pengurus Republik Ngapak.

Dengan pendekatan kedaerahan akan lebih efektif untuk menarik masyarakat, terutama anak muda. Lebih mudah pula menarik masa, untuk bergabung karena memiliki persamaan asal wilayah dalam hal ini penggunaan bahasa ibu yang sama. Sehingga bisa bergerak lebih leluasa, dalam penguatan ideologi bangsa, ajaran agama yang benar, budaya dan lainnya.  

Caranya ketika melakukan pertemuan rutin, atau lebih dikenal dengan kopi darat (kopdar) akan disisipi penguatan nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, penguatan ajaran agama yang benar dan juga olahraga bersama. Selain itu dengan mengangkat kearifan lokal, sudah terbukti menangkal budaya atau ajaran yang tidak sesuai dengan budaya bangsa termasuk paham radikal. 

“Kenapa saya mempergunakan pendekatanya kedaerahan karena lebih mudah. Kearifan lokal ini sudah terbukti menahan idiologi yang tidak sesuai. Sehingga ini bisa ditiru oleh daerah-daerah lainya, untuk mengantisipasi adanya paham yang bertentangan dengan bangsa dan budaya kita. Sehingga benteng dan perekat bangsa untuk melawan paham radikal, yakni keafiran lokal dan budaya daerah salah satunya bahasa Ngapak,” terang Ken. 

Dari Ken perjuangan deradikalisasi dijejaki mantan anggota NII lainnya, Andri. Sama seperti Ken, warga Kaliori, Patikraja, Banyumas, ini beralasan gabung dengan Republik Ngapak untuk menebus dosa. 

Masa lalu Andri tergabung dalam gerakan Negara Islam Indonesia (NII), bahkan sempat menjadi asisten Camat NII wilayah Banyumas, meliputi area Kabupaten Banyumas dan Banjarnegara, membuatnya kini ingin kembali ke jalan benar melalui Republik Ngapak. 

Sudah lima  tahun terakhir Andri melakukan edukasi dan sosialisasi antisipasi paham radikal dan ajaran menyimpang melalui seni, budaya dan olahraga dalam paguyuban Republik Ngapak wilayah Banyumas.

Dulu Andri, selain melakukan perekrutan, juga menjadi penerima setoran anggota NII lainya dengan target perangota perbulan Rp700 ribu. Andri mengatakan awal dirinya terlibat dalam NII sejak tahun 2004 atau saat duduk di  kelas 1 SMK hingga tahun  2010. Ia terjerumus ke gerakan itu karena pengaruh pergaulan selepas sekolah di tempat persewaan komputer tidak jauh dari sekolahnya.

Dalam kurun waktu enam tahun itu, Andri bisa merekrut sebanyak 27 orang, 17 orang di antaranya merupakan perempuan yang masih berusia muda. Belum lagi ratusan juta rupiah, uang yang telah dikumpulkan oleh Andri, baik dengan cara halal maupun cara yang melanggar aturan agama maupun negara. 

Kini Andri mengaku sering memberitahukan kepada temannya melalui bahasa Banyumasan mengenai bahaya paham radikal, yang mempergunakan dalil tertentu untuk pembenaran. Kemudian mempergunakan dalil tersebut, untuk mencuci otak agar mengikuti kelompok radikal seperti NII dan lainya. 

“Jadi ternyata nggak semua yang diomongin potongan-potongan ayat itu bener semua. Tafsirnya banyak yang menyimpang. Itu harus bersyariat islam dan bernegara Islam. Mereka berusaha mendirikan Negara Islam Indonesia," ucapnya. 

"Setelah saya sadar saya, ingin agar orang di Indonesia tidak seperti saya. Makanya melalui wadah Republik Ngapak saya menyalurkan hobi saya, dan juga membantu orang-orang Banyumas yang berbahasa Ngapak kalau lagi kesusahan,” imbuh Andri.

Usia anggota Paguyuban Ngapak, yang rata-rata muda, 20-an-30an tahun membuat organisasi ini efektif menangkal bahaya radikal sejak dini.

Kepala Badan Penangulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Suhardi Alius di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed ) Purwokerto beberapa waktu lalu mengatakan, generasi muda menjadi sasaran utaman paham radikal dan terorisme. Pola perekrutan dilakukan dimana pun dan melalui berbagai cara, mulai dari interaksi langsung, maupun dengan mempergunakan sosial media. 

Kemudian calon anggota dicuci otak, setelah itu diajak untuk mengikuti kegiatan mereka. Untuk itu BNPT melakukan upaya pencegahan dengan melakukan kampanye paham radikal, terorisme, penguatan nilai- nilai berbangsa, bernegara, dan pembentukan duta damai.

“Peluang infiltrasi ini dari media sosial, nah ini yang kami rekrut adalah duta-duta damai generasi muda. Kenapa? Yang menjdi sasaran cuci otak adalah generasi muda. Macem mereka- mereka ini, kenapa? Masih mencari identitas, masih labil emosinya, mudah dipengaruhi. Oleh sebab itu, kita bentuk duta- duta damai, yang seumuran mereka. Sehingga pesan damai, pesan anti radikal itu, diberikan dalam bahasa mereka. Duta damai sudah kita gelar di delapan kota diseluruh Indonesia,” papar Suhardi.

Paguyuban Ngapak juga Lakukan Kegiatan Sosial 

Republik Ngapak awalnya berkembang di wilayah perantauan, seperti Jakarta, Bandung dan kota-kota besar di Indonesia. Namun seiring waktu, saat ini telah berkembang ke ibu kota provinsi di Indonesia hingga luar negeri. Seperti di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan dan Jepang. 

Selain itu Republik Ngapak juga berkembang di wilayah asal bahasa ini ada. Mereka rutin melakukan pertemuan dan kegiatan sosial. Salah satunya aktif melakukan pengalangan dana untuk membantu permasalahan sosial di kampung halaman. Seperti melakukan bedah rumah, bantuan untuk berobat dan lainya.

Republik Ngapak selain ajang untuk bersilaturahmi, juga sebagai wadah untuk berprestasi dalam bidang olahraga khususnya futsal di 12 Kabupaten atau Kota di Indonesia. 

Tim Futsal Republik Ngapak bahkan sudah masuk nasional dengan beberapa katagori usia putra dan putri, U-10, U-13, U-16, U-19 dan kategori open atau umum. Prestasi terbaru, tim futsal Republik Ngapak menjuarai turnamen futsal di Jepang. 

Selain itu Republik Ngapak telah mendirikan pantai asuhan untuk anak yatim piatu di Purbalingga Jawa Tengah, dengan sumber pendanaan selain iuran anggota, juga dari menjual kaus dan batik bertuliskan Republik Ngapak. 

Seiring dengan masifnya media sosial, Republik Ngapak juga mempunyai akun media sosial dengan jumlah pengikut puluhan ribu. Media sosial ini, sangat efektif untuk menginformasikan berbagai kegiatan, termasuk untuk pengalangan dana untuk membantu warga yang membutuhkan. Untuk anggota Republik Ngapak baik di Indonesia dan luar negeri, Ken menyebut mencapai 14 ribu orang. 

Kenapa Kearifan Lokal Efektif Tangkal Radikal?

Perkumpulan Republik Ngapak dengan salah satu tujuannya menangkal gerakan radikalisme, disebut oleh budayawan Banyumas Ahmad Tohari sebagai salah satu sarana efektif.

Menurutnya, karakter egaliter masyarakat Banyumas atau yang mempergunakan bahasa Ngapak, menjadi modal yang penting ikut menumpas radikalisme.

“Budaya Banyumas itu mempunyai karakter egaliter, kekeluargaan dan sederajat atau tepatnya terjaganya harmoni. Sehingga dengan cara mempergunakan bahasa ini, sangat bagus untuk menangkal paham radikal. Sedangkan paham radikal itu melawan harmoni,” kata Ahmad Tohari, Jumat (21/9/2018).

Untuk diketahui Bahasa Ngapak digunakan oleh sedikitnya delapan kabupaten wilayah Jawa Tengah bagian barat. Yakni Kabupaten Kebumen, Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, dan Cilacap. Ditambah Pemalang, Brebes, sebagian Wonosobo.

Ahmad Tohari lebih senang dengan menyebut bahasa Penginyongan, ketimbang mempergunakan kata Ngapak. Karena kata Ngapak merupakan sindirian dari orang di luar Banyumas. Namun demikian tidak terlalu mempersoalkan hal tersebut, terpenting baginya, dengan perkumpulan masyarakat dengan didasarkan persamaan bahasa daerah akan melestarikan bahasa dalam hal ini bahasa Banyumas.

Menurut Ahmad Tohari, bahasa Banyumas merupakan penerus dari bahasa Jawa Kuno yang mulai hilang pada abad ke-16. Bahasa Pengiyongan atau Ngapak ini, tidak memiliki tingkatan. Sehingga pemakai bahasa ini, mempunyai ciri tegas, egaliter atau sederajat.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00