• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kolom Bicara

Demokrasi: Kebebasan Berekspesi dan Anarki

17 September
10:59 2018
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Pileg dan Pilpres semakin dekat, suasana perpolitikan semakin memanas, upaya saling memprovokasi dan mendiskreditkan lawan semakin terbuka. Terutama di media sosial yang sampai saat ini dijadikan media alternatif penyaluran aspirasi publik. Bagi pihak pihak yang tak terbiasa melihat perdebatan di media sosial tentu akan sangat pilu menyaksikan pertikaian yang tidak hanya muncul dalam sumpah serapah tapi tidak jarang diluncurkan informasi yang kurang bisa dipertanggungjawabkan alias hoax. 

Memang, salah satu bentuk demokrasi yang dilindungi undang-undang adalah kebebesan berekspresi menyamnpaikan pendapat bahkan mengorganisir diri melakukan unjuk rasa, dalam demorkasi partisipasi non konvensional seperti unjuk rasa atau demonstrasi tersebut, merupakan bagian yang terpisahkan dari kebebasan berekspresi sehingga segala bentuk pelarangan kebebasan berekspresi tidak diharapkan.

Namun persoalannya sebagaimana diperingatkan para filsuf Yunani kuno, terutama yang melihat demokratis secara lebih kritis misalnya Socrates, Plato, atau Aristoteles, adanya bahaya berupaya tergelincirnya sistem demokrasi ke dalam sistem yang tidak terkendali yaitu anarkisme, yang tidak hanya membahayakan demokrasi, tapi juga sistem sosial dan kenegaraan. Anarkisme tidak hadir secara sistematis, sehingga tidak mudah dikenali pentahapannya maupun prosesnya, anarkisme hadir secara tiba-tiba, dalam momen momen tertentu dan seringkali tidak diketahui dan dikhendaki oleh pelakunya sendiri. Anarkisme dapat merusak seluruh tatanan sosial maupun kenegaraan termasuk legasi-legasinya karena secara ideologis gerakan ini menolak kehadiran negara dan tatanan sosial politik lainnya yang dianggap membatasi pencapaian tujuannya yaitu kebebesan dan persamaan individu secara fundamental.

Apabila itu terjadi tidak bisa kita byangkan kerugian yang akan ditanggung berbagai pencapaian yang ada dan kita perjuangankan selama ini akan lenyap tak berbekas yang ada hanyalah penyesalan yang tidak ada artinya, tentu hal ini tidak kita inginkan. Semakin mendekat proses perhelatan politik yang menghadapkan kembali kandidat lama 2014 dan semakin memanasnya ruang publik akan semakin mengintai bahaya anarkisme tersebut untuk itu semua pihak harus menahan diri mari kita jaga tatanan politik yang sudah dalam jalur benar ini dalam arti pemilu yang digulirkan pasca reformasi sudah dapat difungsikan sebagai sarana sirkulasi elit.

Terlepas proses tersebut memuaskan atau tidak, apakah kepemimpinan tersebut telah sesuai dengan yang kita harapkan, tetapi yang jelas pemilu-pemilu pasca orde baru lebih baik dan fungsional untuk melakukan rekrutmen pejabat publik secara lebih jujur dan adil. Mari kita jaga proses yang baik dan fungsional tersebut jangan sampai kita mengalami kemunduran agar proses rekrutmen pejabat publik benar-benar memenuhi harapan masyarakat jangan sampai masyarakat terbawa arus dan terjurumus ke dalam anarkisme hanya karena kita tidak bisa menahan diri, ingin cepat menang, ingin cepat berkuasa ingin cepat berubah tanpa berfikir dampak yang bisa ditimbulkan. Mari kita perbaiki sistgem demokrasi mari kita tinggalkan cara-cara yang serba instan meskipun kita menyadari bahwa demokrasi bukan suatu sistem yang paling baik, tapi sampai saat ini demokrasi sistem yang terbaik dari sistem-sistem yang kurang baik. (Oleh: Dr Tuswoyo Giri Atmojo-Pakar Ilmu Politik)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00