• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Kisah Nursaka, Menembus Batas Lintas Negara Demi Sekolah di Tanah Airnya

10 September
22:12 2018
2 Votes (5)

KBRN, Entikong : "Mau jadi dokter gigi, mau jaga gigi orang. Kalau ketemu Pak Jokowi, mau minta sepeda sama dijadikan dokter," kalimat itu meluncur dari bibir Nursaka (8), siswa kelas 3 SDN 03 Sontas, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Kehidupan anak kedua pasangan Sudarsono dan Julini tersebut viral, setelah aktifitasnya pergi dan pulang sekolah melintasi perbatasan negara di Entikong, Indonesia - Tebedu, Malaysia viral dilinimasa. Aktifitas Nursaka pertama kali diunggah oleh Kantor Imigrasi Entikong.

Nursaka lahir di Sanggau pada 2010 lalu, dari Ayah kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur dan Ibu berasal dari Simpang Aur, Kabupaten Landak, Kalbar. Dulunya, bocah bertubuh gemuk ini tinggal bersama orang tuanya di Entikong namun lantaran usaha ayahnya bangkrut, mereka sekeluarga pindah ke Tebedu, Malaysia dan menumpang di salah satu rumah warga setempat yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Border Perbatasan Malaysia.

"Sekolah di Sontas (Indonesia), pergi sekolah numpang sama kawan bapak ke Border Tebedu (Malaysia), terus jalan kaki ke PLBN Entikong. Dari PLBN naik ojek ke sekolah. Kalau pulang dari sekolah naik oplet dulu ke PLBN, terus numpang mobil sama yang mau ke Malaysia," kata Nursaka, Senin (10/9/2018).

Tiga tahun bolak-balik Entikong-Tebedu dengan seragam merah putihnya membuat bocah yang gemar menabung ini dikenal petugas Imigrasi PLBN Entikong. Sambil menunggu mobil yang bisa ditumpanginya, Nursaka sering menghabiskan waktu dengan mengerjakan PR dan belajar bersama petugas Imigrasi PLBN Entikong.

Ayah Nursaka, Sudarsono mengungkapkan anak keduanya itu punya semangat yang kuat untuk bersekolah meski kehidupan keluarganya pas-pasan. Karena itulah, Sudarsono berani melepas Nursaka bolak-balik dua negara setiap hari untuk sekolah.

"Dia (Nursaka) ini kalau barang (pengaruh) ndak bagus, ndak mau dia. Dia memang maunya sekolah, mau jadi dokter katanya. Kalau ada kawannya yang ndak betul, dia lari, takut dia. Dia suka nabung, kadang kalau dikasih orang duit, ditabung gitu, katanya untuk bantu bapaknya," ungkap Sudarsono.

Ia mengakui, pendapatannya yang tidak menentu sebagai petani tidak dapat diandalkan untuk menanggung biaya pendidikan Nursaka. Beruntung, pihak sekolah menggratiskan semua biaya pendidikan Nursaka.

"Pendapatan saya ndak tentu. Saya tanam lada, sayuran, tapi tanahnya punya orang. Sayurnya saya jual ke rumah makan disekitar sini, kalau laku, uangnya buat biaya hidup sama susu anak-anak. Rumah ini saya numpang, cuma bayar listrik saja. Tapi bagaimanapun anak-anak harus sekolah, ndak apa-apa bapaknya susah yang penting anak-anak sekolah semua," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN 03 Sontas Halijah menuturkan Nursaka termasuk siswa yang aktif dan rajin disekolah. Kemampuan menyerap pelajaran Nursaka, menurut Halijah diatas rata-rata siswa lain.

"Cuma kalau dari cerita ibunya tadi Nursaka ini suka menyanyi, ini yang kita baru tahu, yang menonjol dari dia. Bakat khususnya ini bisa kita arahkan. Anaknya juga rajin, ndak nakal, ndak ngeyel, kalau dikasi tahu nurut," ujar Halijah.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00