• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Aktivitas Ekonomi Meningkat, Defisit Transaksi Berjalan RI Triwulan II Naik

10 August
21:16 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta :  Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II tahun 2018, tercatat sebesar  USD 8 miliar (3,0 % Produk Domestik Bruto (PDB) ), mengalami kenaikan dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar USD 5,7 miliar (2,2% PDB).

“Secara keseluruhan, defisit neraca transaksi berjalan semester pertama tahun ini sebesar 2,6 % PDB. Angka ini masih berada dalam batas aman, karena masih dibawah 3 persen,”  kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik Yati Kurniati dalam keterangan di gedung BI Jakarta, Jumat (10/8/2018).

Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II, kata Yati, sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi domestik. Peningkatannya dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas.

“Penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas terutama disebabkan naiknya impor bahan baku dan barang modal, sebagai dampak dari kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat di tengah ekspor nonmigas yang turun,” jelasnya.

Peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi naiknya impor migas seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan yang lebih tinggi saat lebaran dan libur sekolah. Pada triwulan II 2018, sesuai dengan pola musimannya, terjadi peningkatan pembayaran dividen sehingga turut meningkatkan defisit neraca pendapatan primer.

Di sisi lain, jelas Yati, surplus transaksi modal dan finansial meningkat sebagai cerminan optimisme investor asing dan domestik terhadap kinerja ekonomi domestik. Transaksi modal dan finansial pada triwulan II 2018 mencatat surplus USD4,0 miliar, lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya dengan surplus sebesar USD2,4 miliar.

Surplus transaksi modal dan finansial terutama berasal dari aliran masuk investasi langsung asing yang tetap tinggi dan investasi portofolio yang kembali mencatat surplus.Surplus investasi lainnya juga meningkat, terutama didorong penarikan simpanan penduduk pada bank di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di dalam negeri. Surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk membiayai defisit pada neraca transaksi berjalan, sehingga pada triwulan II tahun 2018 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan mengalami defisit sebesar USD 4,3 miliar.

“Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2018 menjadi sebesar USD 119,8 miliar. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor,” papar Yati.

Ke depan, kinerja NPI diprakirakan masih tetap baik dan dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. Defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan 2018 diprakirakan masih dalam batas aman yaitu tidak melebihi 3,0% dari PDB.

“Bank Indonesia dan pemerintah berupaya mengendalikan defisit transaksi berjalan,” tukasnya.

Sejumlah langkah telah ditempuh Pemerintah melalui kebijakan memperkuat ekspor dan mengendalikan impor melalui peningkatan import substitution. Pemerintah juga terus memperkuat sektor pariwisata, terutama di 4 (empat) daerah wisata prioritas, untuk menambah devisa dan mendukung neraca transaksi berjalan.

Bank Indonesia juga akan terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI, antara lain ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi, kecenderungan penerapan inward-oriented trade policy di sejumlah negara, dan kenaikan harga minyak dunia.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00