• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Pemerintah Terus Lakukan Efisiensi Anggaran

10 August
19:21 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kenaikan impor yang terjadi di semester I tahun 2018 memiliki dampak terhadap neraca perdagangan, dan komponen impor tertinggi adalah bahan baku infrastruktur.

Berangkat dari sana, menunjuk langsung pencapaian skala nasional terkait infrastruktur terus dilakukan, Meskipun, di tengah perjalanannya tidak sedikit menemui kendala. Salah satunya mengenai permodalan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono memandang hal tersebut disebabkan Indonesia adalah negara besar dengan jumlah pulau yang sangat banyak, sehingga harus ada konektivitas yang besar tapi dengan tingkat keselamatan yang tinggi.

"Kebutuhan anggaran untuk infrastruktur hampir Rp 370 triliun, tapi yang tersedia sampai 2019 hanya ada sekitar Rp 250 triliun. Atas kondisi ini, kita harus mencari cara-cara lain yang tidak membebankan," jelas Joko dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (Dismed FMB'9) dengan tema “Efisiensi Anggaran, Meninjau Ulang Proyek Infrastruktur” di Ruang Serba Guna Kemkominfo, Jakarta, Jumat (10/8/2018).

Salah satunya, dengan melakukan shafting dari belanja barang menjadi belanja modal. Cara-cara ini sudah lazim dilakukan. Pola ini juga sudah sesuai arahan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Selain itu, timnya juga mendorong peran BUMN. Terlebih dirinya mengaku Kemenhub baru belajar mengenai skema-skema yang baru di KPBU di semua sektor, yakni sektor laut, darat dan udara. 

"Contohnya transportasi laut, Pelabuhan Anggrek di Sulteng dan Bau-Bau di Sultra, dan lainnya. Ini cara-cara yang kita lakukan. Tidak jauh berbeda juga dengan Kementerian PUPR," ungkap Joko. 

Tentunya, diharapkan kehadiran kompetensi dalam negeri menjadi hal yang utama. Untuk mendorong industri dalam negeri terus menjadi potensi utama, di bidang transportasi, dirinya berharap ada dukungan dari industri dalam negeri dan melakukan efisiensi dengan terus menerus, tidak pernah berhenti.

"Kebutuhan tidak tercukupi, membuat kita untuk mencari skema-skema lain yang memang sesuai dengan peraturan yang ada," pungkas Joko.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00