• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Mimpi Kecil si Anak Bati Memaksa Mereka Turun Gunung

10 August
15:08 2018
4 Votes (5)

KBRN, Bula :  Medio Oktober 2017, publik Maluku dibikin geram dengan tayangan salah satu stasiun televisi nasional yang mencap komunitas adat Bati di pedalaman Pulau Seram Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Provinsi Maluku, seperti kelelawar dan pemangsa bayi. 

Tapi sebelumnya, legenda tentang 'manusia terbang' orang Bati, dipopulerkan oleh penulis Amerika Karl Shuker dalam bukunya  'Is Batman alive and well and living on the island of Seram?'. Shuker mengait-ngaitkan orang Bati di Pulau Seram dengan Mothman atau manusia bersayap di Amerika. 

Bukan kebetulan, jika informasi buruk tentang Bati memicu kegeraman masyarakat Maluku, lebih-lebih masyarakat di pesisir Seram Timur.  Pasalnya, sebagian dari mereka adalah keturunan orang Bati yang hijrah ke pesisir dan beranak pinak sebelum Indonesia merdeka.

Lagi pula, image negatif tentang orang Bati tidak semuanya benar, karena berdasarkan hasil penelitian akademisi Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon Pieter Jacob Pelupessy (1985-2007) terungkap, masyarakat Bati adalah masyarakat  budaya yang berhati bersih. Mereka sanggup menghadapi tekanan karena mensakralkan hutan, tanah dan gunung sebagai wilayah bernyawa. 

Turun Gunung Untuk Sekolah

Jalan menanjak sepanjang kurang lebih 3 km yang dibangun tahun 2012 adalah satu-satunya jalan menuju perkampungan Bati di pedalaman Seram Timur. Namun jalan lakpen yang mulai rusak ini tidak melewati perkampungan warga karena komunitas adat Bati hidup menyebar di kaki Gunung Bati, sekitar Kian Darat dan Tutuktolo.

Setidaknya terdapat 7 perkampungan dengan karakteristik yang berbeda, yakni Bati Kelusi, Bati Kilwouw, Bati Rumbouw, Bati Sayei, Bati Tokonakat, Bati Arweul dan Bati Tabalean. Hidup dari hasil alam dan perkebunan pala cengkeh membuat mereka tidak pernah kelaparan.

Tinggal tanpa listrik di rumah-rumah papan bantuan pemerintah, anak-anak Bati hidup damai bersama alam.  Satu-satunya akses informasi yang mereka peroleh sejak tahun 2013 adalah siaran RRI Bula. Pada awal 2018, baru lah jaringan selular mengisi handphone mereka yang dibeli untuk mendengarkan lagu dan radio.

Terdapat satu sekolah dasar  yang dibangun Pemkab SBT, yakni SD Persiapan Bati Kilwouw tiga kelas.  Ada lagi SD Rumoga di daerah pesisir, namun sekolah itu hanya diakses oleh anak-anak Bati Rumbouw dan Bati Kelusi karena wilayahnya berdekatan.

Walau terisolir dari dunia luar selama berabad-abad, komunitas Bati memiliki budaya dan prinsip hidup yang menjunjung tinggi ajaran Islam, alam dan etika. Pantang merampas hak orang dan arif terhadap alam membuat mereka dipercaya memiliki kekuatan supranatural.

Solid dalam komunitas, saling percaya dan berbagi adalah modal hidup anak-anak Bati. Ini membuat mereka mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan mampu bertahan menghadapi situasi sulit, seperti anak-anak Bati yang turun gunung untuk sekolah.  

Hamid Rumalean, 23 tahun, adalah potret anak Bati yang gigih melawan isolasi. Memulai pendidikan di SD Persiapan Bati Kilwouw tahun 2007 sampai kelas 5, Hamid kecil dkk turun ke wilayah pesisir untuk menyelesaikan pendidikan dasar di Madrasah Ibtidayah Negeri Kilbat.

Hamid kemudian melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Tutuktolo hingga tamat tahun 2014. Selama belajar di sekolah,  hampir tiap minggu, Hamid dkk bolak balik jalan setapak pulang kampung membantu orang tua mencari nafkah.

Sempat berpikir untuk kuliah dengan biaya sendiri, langkah Hamid tertahan karena tidak punya uang. Harapan mengumpulkan biaya kuliah dari kerja bangunan atau jalan, pupus  di Kota Bula karena proyek fisik yang diharapkan tak kunjung didapat.

"Beta (saya) ingin jadi guru supaya bisa mendidik anak-anak Bati. Beta sekarang lagi cari uang untuk biaya masuk kampus, cuma belum dapat pekerjaan,” miris Hamid kepada RRI di Bula, Rabu (6/8/2018).

Meski tak punya uang, Hamid dkk tidak terlantar karena mereka menumpang  di rumah warga.  Untuk memudahkan interaksi dengan orang kebanyakan, identitas ke-Bati-an mereka disembunyikan, karena kepercayaan orang terhadap kekuatan supranatural yang dimiliki oleh orang Bati masih kuat. 

Didukung keluarga dan komunitas, anak-anak Bati milenia bertekad membangun diri dan peradabannya melalui pendidikan formal.  Terbukti banyak dari mereka yang nekat merantau ke Fak Fak dan Sorong Papua Barat, ada yang ke Ambon dan Ternate, bahkan ada yang sampai ke Makassar untuk menimba ilmu. 

Di Bula sendiri,  terdeteksi ada dua anak perempuan Bati yang menimba ilmu di Kampus STIKIP Ita Wotu Nusa. Dua anak Bati yang lebih dulu menimba ilmu di kampus yang sama sekarang telah menjadi guru PNS dan mengajar di sekolah-sekolah yang berdekatan dengan perkampungan Bati. 

Samiun Rumasala, 25 tahun, adalah anak Bati Kilwouw yang merantau ke Kota Fak Fak. Cita-citanya menjadi anggota TNI kandas akibat salah satu giginya bermasalah. Pemuda hitam manis bertubuh tinggi ini, akhirnya masuk Kampus  STAIS Fak Fak dan tamat tahun 2015, kini sedang mencari kerja di Bula.

Samiun tidak sendiri, karena beberapa saudaranya lebih dulu menginjakkan kaki di Fak Fak untuk sekolah. Satu dari mereka bahkan telah kembali ke kampung halaman dan menjadi guru honor di SD Persiapan Bati Kilwouw.

"Anak-anak Bati itu dong {mereka} rajin dan cerdas, tapi masih tertutup dalam hal-hal tertentu. Teman beta satu sekolah, anak Bati, pintar Matematika, satunya lagi pintar Fisika. Yang pintar Matematika sekarang ada lanjut kuliah di Makassar, yang lain hilang kabar,” kata Musyakrim Rumaru, mahasiswa STIKIP Ita Wotu Nusa.

Hingga tahun 2018, menurut Hamid, banyak dari mereka telah memperoleh gelar sarjana, namun tak satu pun dari mereka mengabdi di Kantor Pemkab SBT. Dari sekian sarjana yang ada, baru tiga orang yang berstatus guru PNS, beberapa guru honorer, sisanya masih mencari kerja. 

"Saya ikut terharu dan bangga, saya hanya bisa menyarankan kalau ada program beasiswa, tolong diprioritaskan buat  mereka. Saya yakin kalau mereka diberi kemudahan dan kesempatan dari sekarang, kehidupan mereka akan semakin membaik,” haru Husen Kelian, Kepala SD Negeri Banggoi.

Bagi Tanggungjawab

Bati adalah gambaran peradaban hidup masyarakat SBT. Budaya dukung mendukung dan berbagi seperti di Bati, faktanya telah mengakar dalam kehidupan masyarakat SBT. 

Seperti dialami Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten SBT Ahmad Rumaratu. Ditinggal pergi sang ayah saat masih berumur 4 tahun, Rumaratu yang kini berusia 47 tahun, bangkit melawan keterbelakangan berkat dukungan ibu dan keluarga besarnya.

"Dulu SMA hanya ada di Geser, belum ada di Gorom, Bula dan Werinama. Saya memilih sekolah di Ambon biar bisa belajar sambil kerja. Saya pernah jadi kenek oto, kerja bangunan, bahkan dayung perahu Poka - Galala. Mama dan keluarga di kampung semua mendukung dan Alhamdulillah saya bisa, seperti sekarang," jelas Rumaratu.

Menurutnya, ada tiga hal yang berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan seorang anak, yaitu peran orang tua, satuan pendidikan dan pemerintah. Namun peran dan tanggungjawab orang tua lebih efektif karena dari keluarga, seorang anak belajar mengenal dunianya dan lingkungan.  

Dari keluarga pula, mental dan pribadi anak ditempa dan dibina dari nol, dibekali dengan nilai-nilai agama dan etika sebagai modal hidup dalam berinteraksi sosial, hingga tercipta energi positif dalam membangun diri dan menatap masa depan.

Mendukung dan berbagi adalah budaya hidup yang lahir dari rahim orang bersaudara di Negeri Ita Wotu Nusa. Budaya ini memungkinkan keluarga-keluarga dengan penghasilan rendah berkompromi agar minimal satu atau dua anggota keluarga disekolahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. 

Kompromi yang umum dilakukan adalah membagi tanggungjawab antara yang kuliah dan tidak kuliah. Anggota keluarga yang tidak kuliah mempunyai tanggungjawab mengusahakan biaya kuliah bersama orang tua, sedangkan yang kuliah nantinya bertanggungjawab menanggung biaya pendidikan anak-anak anggota keluarga yang mengalah. 

Budaya hidup ini menjadikan kompetisi pendidikan di daerah-daerah pesisir SBT telah menggeliat sejak dulu, hingga tercipta ekosistem pendidikan yang kondusif. Pendidikan bagi masyarakat SBT adalah jalan menuju perubahan dan perbaikan status sosial. Tidak di pesisir atau pun di gunung, kaya atau miskin, semua berlomba menjadi yang terbaik.

  • Tentang Penulis

    Abdullah Leurima

    Reporter RRI Bula peraih Anugerah Pesona Bahari Indonesia 2016 (best of the best) dari Menteri Pariwisata RI

  • Tentang Editor

    Evie

    Redaktur RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00