• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Berita Olahraga

PB Forki Perlu Evaluasi Target Asian Games 2018

22 July
20:02 2018
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Target tiga medali emas Asian Games 2018 yang dicanangkan Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Karate-do Indonesia (PB Forki), Jenderal (Purn) Gatot Nurmatyo selayaknya dijawab dengan penyiapan program latihan yang bagus bagi skuat Tim Karate Indonesia. Bukan malah sebaliknya program latihan yang telah disusun sejak awal diubah sesuai selera oknum petinggi PB Forki. 

"Saya melihat ada oknum petinggi PB Forki yang mengendalikan persiapan Tim Karate Indonesia menuju Asian Games 2018 sesuai seleranya. Tindakan one man show ini harus secepatnya dievaluasi pak Gatot Nurmantyo jika ingin Tim Karate Indonesia meraih prestasi sesuai harapannya," kata mantan Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB Forki, Madju Daryanto Hutapea di Jakarta, Minggu (22/7/2018). 

Evaluasi itu, kata Madju, sangat penting dilakukan mengingat masih ada waktu untuk perbaikan prestasi karateka yang tergabung dalam skuat Tim Indonesia. "Belum terlambat. Masih ada waktu sebulan untuk menggenjot prestasi mereka yang sedang menjalani trainning camp di Ukraina. Intinya kerja keras mutlak dibutuhkan dalam mencapai target 3 medali emas di Asian Games 2018 nanti," tegas Madju yang juga memberikan masukan perlu dilibatkan ahli psikolog melekat dalam membangun mental karateka. 

Pernyataan Calon Legislatif DPR-RI dari Partai Perindo Dapil 2 DKI Jakarta  cukup beralasan. Apalagi, dia mengetahui persis program persiapan menuju Asian Games 2018 yang telah disusun Bidang Pembinaan Prertasi PB Forki. 

"Saya tahu persis program persiapan Asian Games 2018 itu telah disusun Binpres PB Forki. Program itu merupakan kelanjutan dari program SEA Games XVII Kuala Lumpur, Malaysia 2017 yang sukses melampaui target dua medali emas. Saat itu, Indonesia sukses meraih 3 emas, 3 perak, dan 7 perunggu dan masuk empat besar cabang olahraga penyumbang medali terbanyak bagi Kontingen Indonesia pada pesta olahraga dua tahunan negara-negara Asia Tenggara," jelasnya.

Persiapan Tim Karate Indonesia menuju Asian Games 2018, kata Madju Daryanto Hutapea, sudah melenceng jauh dari program persiapan terdahulu. Contohnya, pertandingan uji coba di luar negeri yang tidak pernah diagendakan tetapi dilaksanakan sejak adanya pergantian personil yang menangani Tim Pelatnas Karate Asian Games 2018.

"Uji coba di Gothenberg Open yang digelar Mei 2018 itu tidak ada dalam agenda. Sebab, event itu tidak layak menjadi ajang uji coba bagi atlet karate yang dipersiapkan menuju Asian Games 2018 karena kualitasnya lokal. Kalau Indonesia meraih 14 emas itu wajar mengingat kualitas karateka yang turun tidak bisa dipertanggungjawabkan dan event tersebut tidak masuk dalam kalender tetap Federasi Karate Dunia (WKF)," katanya. 

Akibat kualitas event uji coba yang tidak sesuai itu, jelas Madju, berdampak terhadap prestasi Tim Karate Indonesia yang diterjunkan pada Kejuaraan Karate AKF di Amman Jordan, Juli 2017. 

"Di Amman, Indonesia hanya meraih 1 perak dan 4 perunggu. Hasil ini menurun dibandingkan pada Kejuaraan Karate AKF di Kazakhstan 2017 yang meraih 3 perak dan 5 perunggu," ujarnya. 

Yang lebih menyakitkan lagi, kata Madju, posisi Indonesia yang berada di peringkat 10 itu di bawah Malaysia dan Vietnam yang masing-masing meraih 3 perak dan 1 perunggu. 

Sebanyak 15 medali emas yang diperebutkan di Kejuaraan Karateka AKF di Amman itu, Jepang merebut 7 emas, Iran (3), Jordan (2), China Taipei (1), China (1) dan karateka yang tidak membawa nama negara tetapi Federasi (1). 

"Di AKF itu sudah jelas gambaran begitu beratnya persaingan di Asian Games 202l18 nanti. Kalau persiapan tidak dilakukan dengan baik maka akan semakin sulit meraih medali emas," tandasnya. 

Sebenarnya, kata Madju, peluang karateka Indonesia cukup terbuka. Apalagi, trio karate Indonesia sudah menunjukkan prestasi di berbagai event internasional dan masuk dalam peringkat dunia. 

"Srinita Sari Sukatendel itu tadinya di peringkat 8 menjadi peringkat 10, Chok Gede Istri Agung Saristarani peringkat 12, dan Ahmad Ziki (peringkat 29). Semua itu akibat kesalahan langkah dalam menjalankan program sehingga kemampuan mereka menjadi tidak terasah dan peringkatnya tidak merangkak naik," tandasnya. (yongki/AKS)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00