• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Koperasi Kultura Kalamansi Kembangkan Sirup Kalamansi Lewat OVOP

19 July
16:00 2018
0 Votes (0)

KBRN, Bengkulu : Saat ini, banyak kita jumpai sebuah koperasi yang maju dan berkembang karena mengangkat keunggulan produk khas di wilayahnya. Salah satunya, Koperasi Kultura Kalamansi yang berlokasi di Bengkulu. Koperasi produksi yang berdiri sejak 2009 itu, Sukses mengembangkan jeruk kalamansi (citrus microcarpa) menjadi sebuah produk ciri khas daerah tersebut.

Hingga saat ini, Koperasi Kultura Kalamansi terus mengembangkan produk utama berbentuk sirup. Sirup Kalamansi, bahkan saat ini sudah menjadi salah satu produk yang dijadikan oleh-oleh khas Kota Bengkulu.

Meski demikian, Ketua Koperasi Kultura Kalamansi Kota Bengkulu, Djaelani berharap agar pemerintah terus melakukan pembinaan terhadap koperasi itu, terutama dalam pengawasan kualitas produk dan tambahan modal serta pemasaran. 

“Optimalisasi budi daya jeruk kalamansi sangat mendesak, karena produk sirupnya sudah mulai dikenal masyarakat luas. Bahkan masyarakat luar yang berkunjung ke Bengkulu, sudah mulai melirik sirup kalamansi dijadikan oleh-oleh khas Bengkulu," ujar Djaelani, di rumah produksi Koperasi Kultura Kalamansi, di Bengkulu, sebagaimana dalam siaran pers, Kamis (19/7/2018).

Dia mengatakan, Kementerian Koperasi dan UKM memiliki andil besar dalam mengembangkan budi daya jeruk kalamansi di Bengkulu. Kini, permintaan terhadap komoditas tersebut untuk bahan sirup semakin meningkat. 

“Pemerintah tentu saja mendukung peranan Koperasi Kultura karena pemerintah sejak awal mendukung dijadikannya jeruk kalamansi sebagai produk unggulan,” katanya.

Kementerian Koperasi dan UKM telah memberikan bantuan berupa mesin produksi atau pengolahan jeruk kalamansi menjadi komoditas sirup. Kemenkop dan UKM bahkan menjadikan jeruk kalamansi masuk program optimalisasi melalui pendekatan One Village One Product (OVOP). 

“Sebelumnya, budi daya jeruk kalamansi ini ditangani melalui program OVOP, Pemerintah Bengkulu menyerahkan bibit kepada setiap warga yang mempunyai lahan di sekitar rumahnya. Langkah tersebut dilakukan, untuk meningkatkan populasi jeruk kalamansi,” papar Djaelani.

Kelezatan sirup kalamansi yang telah dinikmati masyarakat, akhirnya membuat permintaan pasar meningkat. Budidaya harus dilakukan untuk memenuhi permintaan masyarakat.

Pemerintah Bengkulu juga mendukung budidaya yang ditandai dengan penyerahan ribuan bibit pohon kepada Koperasi Kultura Kalamansi. Sebelum program OVOP dilaksanakan di Bengkulu, harga jeruk kalamansi di pasar Rp3.000 per kg.

Saat ini, nilai jualnya ikut terangkat, karena di pasar harganya naik pada setiap kilonya. Rencana bisnis yang diusung Koperasi Kultura Kalamansi, adalah melakukan pembibitan, penamaman, pengolahan, serta pemasaran.

"Kami masih mengembangkan produk turunan lain, seperti selai jeruk, hingga manisan sampai sari buah jeruk kalamansi," Chandra Kesuma, Ketua Devisi Kalamansi, di koperasi produksi itu.

Dia mengatakan, untuk selai dan manisan sudah berhasil dibuat hanya saja produksi dalam jumlah banyak belum dilakukan. Menurutnya, produksi dalam jumlah besar akan dilakukan jika promosi produk turunan itu sudah gencar dilakukan dan mulai diminati masyarakat.

“Sayangnya, kami belum berhasil melakukan inovasi pembuatan sari atau ekstrak. Karena memang kandungan vitamin C-nya sangat tinggi, sehingga kami masih terus melakukan uji coba," kata Chandra. (SHS/WDA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00