• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya dan Wisata

Ada Legenda di Balik Sukses Winduaji Sebagai Desa Wisata Jateng

17 July
18:31 2018
0 Votes (0)

KBRN, Brebes :  Sebuah proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Ungkapan ini tepat menggambarkan apa yang tengah dirasakan masyarakat Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes.

Sebuah desa di ujung selatan Kabupaten Brebes dan berbatasan dengan Kabupaten Banyumas ini baru saja menikmati hasil dari kerja keras dan proses panjang, menjadi juara 2 Desa Wisata Provinsi Jawa Tengah.

Predikat ini diperoleh dalam Festival Desa Wisata Jawa Tengah di alun-alun Bung Karno Ungaran, Sabtu – Minggu (14 – 15/7/2018).

Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah penampilan Seni Drama dan Tari (Sendratari) teatrikal berjudul Yu Welah dan Mas Jukung dalam festival tersebut.

Sebuah teatrikal tentang legenda pembuatan Waduk Penjalin yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

 “Waduk Penjalin adalah ikon terbesar Desa Winduaji. Di dalamnya ada transportasi air warga turun temurun yang semakin tersisihkan, yakni perahu yang disebut Jukung dan dayungnya yang dinamakan Welah. Pentas Yu Welah dan Mas Jukung sebagai upaya menjaga dan melestarikan kearifan lokal” terang Ayub Solikhin, relawan Waduk Penjalin sekaligus konseptor sendratari.

Pentas berdurasi sekitar 12 menit bernuansa epik ini kemudian sukses dibawakan  oleh 14 pemain, diantaranya Indah Riskiana (Yu Welah), Mas Jukung (Mirza Akmal), Wahyono dan Nurul Iman (Ikan Betutu dan Mujaer), Angga Alon dan Yolan (karakter Hitam Putih), Yoga dan Prasetyo (karakter Lumpur), Bahaudin (Kaki Dayun), Linda, Dila, Aya dan Elok (karakter pohon) serta Ki Windu Suwarto (narator).

“Ada karakter mitos kaki Dayun dalam legenda ini yang selalu dikambinghitamkan terutama ketika terjadi kecelakaan di perairan Waduk Penjalin, kemudian menjadi sosok bijak penjaga waduk. Bahwa kecelakaan itu adalah faktor kesalahan manusia, cuaca, kondisi geografis air dan ekosistem air, serta takdir, bukan karena Kaki Dayun” ujarnya.

Maka melalui pentas ini pihaknya ingin menjaga kelestarian Jukung dan Welah sebagai bagian penting dari masyarakat Desa Winduaji yang tidak boleh hilang.

Senada relawan lainnya, Rahmat W. Sukoco menilai sangat penting bagi Desa Winduaji memiliki kesenian khas yg diambil dari kearifan lokal.

“Penting bagi desa ini memiliki kesenian khas aseli produk lokal agar semakin dikenal di dunia luar baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya dalam konteks pariwisata” ucap Rahmat.

Ditambahkan dengan prestasi ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi yang ada untuk kepentingan masyarakat Desa Winduaji.

“Kami memandang predikat juara 2 ini bukan tujuan akhir, justru mejadi awal bagi kami dan masyarakat untuk semakin kreatif mengoptimalkan potensi.. Lebih jauh lagi untuk menahan laju urbanisasi, karena ada potensi di desa sendiri yang butuh kerja sama semua pihak dalam pengembangannya” tegasnya.

Bagi Siti Mubaedah, perwakilan Diaspora yang turut mendampingi kontingen Desa Winduaji menilai kesuksesan ini sebagai hadiah terindah dari Yang Maha Kuasa.

“Ini adalah hadiah terindah dari Allah SWT bagi para relawan Waduk Penjalin untuk tetap bergerak dengan niat ikhlas dan semangat. Semoga dengan hadiah ini menjadi keberkahan bagi seluruh masyarakat Desa Winduaji” katanya kepada RRI, Selasa (17/7/2018).

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Winduaji Basudin mengapresiasi keberhasilan ini dan berharap menjadi salah satu kekuatan ekonomi kerakyatan.

“Kami berharap semua pihak untuk semakin bersinergi, pemerintah dan lembaga terkait harus lebih memperhatikan. Sehingga Winduaji menjadi desa wisata unggulan yang akan menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan,  sekaligus memotivasi desa-desa lain”  tuturnya.

Pejabat (Pj) Kepala Desa Winduaji, Seger sebeumnya menyebutkan selain sendratari Yu Welah dan Mas Jukung dalam festival tersebut juga memamerkan berbagai macam potensi lain, sepeti kuliner hingga seni dan budaya khas desa.

“Untuk potensi daya tarik wisata, kami memperkenalkan Waduk Penjalin, wisata tuk Sirah Pemali dan wisata petualangan Wadas Mlasah”  jelasnya.

Sedangkan bidang kuliner antara lain berbagai olahan ikan betutu (salah satu ikan khas Waduk Penjalin –red), bestak melinjo, hingga kopi aseli Desa Winduaji.

“Ada kopi khas Dusun Karang Anyar dengan luasan lahan 50 hektar dibuat dengan campuran rempah-rempah, menghasilkan aroma khas” ungkapnya.

Di bidang seni dan budaya juga ditampilkan stand pembuatan tokoh wayang kulit oleh dalang aseli Desa Winduaji, Ki Windu Suwarto. (Sandy/Evie).

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00