• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Jope, Payung Lokal yang Trendy dan Mendunia

26 March
13:28 2018
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Musim hujan datang, maka senjata yang paling utama adalah payung. Di Indonesia, salah satu merek payung yang cukup dikenal adalah Jope. Produk ini merupakan karya anak bangsa, Johanes Paulus, yang merintis usahanya sejak 2008. Melalui Istana Payung, perusahaan yang dibangunnya, ia memproduksi payung Jope antara 1.000-2.000 buah setiap bulannya.

Diakuinya, potensi bisnis payung di Indonesia masih sangat besar. Sebab, iklim di Tanah Air sangat mendukung, ditambah lagi dengan jumlah penduduk yang juga besar. Selain di musim hujan, payung juga bisa dimanfaatkan untuk menghalau panas terik matahari.

Yang menjadi kelebihan payung lokal besutan Johanes adalah daya tahannya. Selain itu, varian warna dan desain yang memikat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap konsumennya. Jope sangat kental dengan warna-warna yang cerah, sementara payung yang lain umumnya lebih didominasi warna-warna gelap. Modelnya juga beragam dari payung lipat, payung panjang, payung golf, dan payung terbalik.

Johanes menyebut, selama ini konsumen Jope banyak berasal dari kalangan perusahaan dan instansi pemerintahan. Banyak konsumen yang merasa puas dengan kualitas yang dihadirkan oleh Jope.

"Bagi sebuah perusahaan atau instansi tertentu, kualitas payung, yang biasanya dijadikan souvenir, itu penting. Sebab, kalau payungnya mudah rusak, kesan perusahaan tersebut akan menjadi jelek. Dengan kata lain, souvenir semisal payung saja, itu bisa menunjukkan citra perusahaan," katanya.

Dengan kualitas yang diberikan, tak ayal banyak konsumennya yang tak mau beralih ke merek lain. Di antara ratusan merek yang ada, Jope selalu menjadi merek payung pilihan sejumlah kalangan. Bahkan, ketenaran Jope tidak hanya di dalam negeri, tapi juga telah bergeser ke luar negeri seperti Singapura dan Maladewa.

"Kami kuat di online, reseller kami berjumlah ratusan, sehingga kami bisa menyasar pangsa mancanegara. Jope selalu fokus untuk membuat produk yang lebih bagus dari yang lain," imbuhnya.

Dalam hal bisnis, Johanes tak melulu mengejar keuntungan. Bikin payung tak asal laku dan murah, tetapi juga bagaimana menciptakan produk yang durability (tahan lama dan tidak mudah rusak-red). Salah satu terobosan yang dilakukannya, misalnya, saat ini sedang ramai payung terbalik, jika yang lain masih manual, Johanes membuat yang otomatis.

"Payung terbalik buat mobil ini sedang banyak dicari. Kami selalu hadir dengan inovasi sekaligus menjadi pembeda dengan merek lain, dimana kami buat yang otomatis," sebutnya.

Selain itu, bahan kain yang dipakainya adalah waterproof, sehingga lebih mudah kering. Dari sisi rangka, ia memilih bahan yang antikarat. Demikian pula dengan kualitas gagangnya, ia selalu menampilkan kesan berkualitas premium nan mewah.

Nah, bagaimana dengan harganya? Johanes menjawab, payung Jope buatannya dibanderol dari harga Rp40 ribu–Rp200 ribu. Bahkan, ia boleh berbangga, sebab beberapa pabrikan payung dari Taiwan, China, dan Srilanka juga pernah datang kepadanya untuk mengajak kerja sama dalam produksi payung. Umumnya, mereka mengenal aneka produk Jope Umbrella dari media online.  

"Bagi saya, membuat produk yang lebih baik dari yang ada di pasaran dengan harga yang sama akan membuat konsumen puas dan memiliki pengalaman tersendiri, sehingga membentuk kesan mendalam dan tak terlupakan. Itulah sesungguhnya yang dinamakan dengan promosi. Ke depan, saya berharap agar Jope menjadi merek terdepan dalam industri payung di dalam negeri," pungkas Johanes. (Rel/HF/WDA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00