• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sorotan Kampus

Indonesia Harus Memperkuat Pertahanan Udara Nasional Dari Senjata Nuklir.

14 March
17:38 2018
0 Votes (0)

KBRN, Bogor: Pertahanan Udara Indonesia masih rentan mendapatkan serangan dari Negara Lain yang mempunyai kekuatan militer mumpuni.

Saat ini Negara Indonesia seakan dikepung oleh sejumlah kekuatan militer yang mempunyai rudal hulu ledak nuklir dan armada udara terkini, Seperti Korea Utara, Singapura, Malaysia, Australia, China dan India.

Posisi Indonesia yang berada di tengah negara dengan kekuatan militer besar itu membuat kewaspadaan bagi Militer dan Pemerintahan untuk mengantisipasi serangan udara.

Hal itu terungkap saat Orasi Ilmiah dari Laksamana Muda - Laksda Amrulla Octavian saat Dies Natalis Universitas Pertahanan Unhan di Kampus Bela Negara, Hambalang Kabupaten Bogor. 

Laksda Amrulla Octavian menjelaskan ancaman serangan itu selalu ada dan nyata dengan adanya kekuatan besar yang mempunyai hulu ledak nuklir, dari sejumlah negara tetangga.

Kekuatan negara itu bahkan bisa masuk ke wilayah udara Indonesia dengan mudah karena sistem deteksi radar TNI belum mumpuni dalam menghalau kekuatan itu.

"Ada Negara lain yang mempunyai kekuatan serangan udara lebih baik dari Indonesia, bahkan berhulu ledak nuklir, hasil penelitian kita maka Indonesia harus antisipasi kekuatan ini," ungkapnya, Rabu (14/3/2018).

Laksda Amrulla Octavian yang juga Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Unhan, itu mengatakan, Pemerintah Indonesia harus memperkuat Komando Pertahanan Udara Nasional Koarhanudnas, dengan adanya penambahan insfrastruktur Sumber Daya Manusia dan Teknologi Persenjataan seperti adanya sistem radar mumpun untuk mendeteksi rudal penjelajah jarak jauh, kemudian juga harus mempunyai rudal penangkis serangan untuk menghalau serangan di wilayah udara Indonesia.

Penguatan pertahanan Udara itu penting untuk mengantisipasi kehancuran yang diakibatkan serangan udara dari negara lain sehingga keutuhan dan kedaulatan NKRI tetap terjaga. (Sonni AS/AKS)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00