• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Luar Negeri

UEA Tawarkan Rekonstruksi Masjid Bersejarah di Mosul

12 March
09:59 2018
0 Votes (0)

KBRN, Baghdad-Irak:  Uni Emirat Arab (UEA) menawarkan untuk membangun kembali Masjid Agung Al-Nuri, masjid bersejarah yang dikenal dengan menara miringnya, menurut Pemerintah Irak.

Pernyataan dari Kantor Perdana Menteri Irak Haider Al-Abadi menyebutkan  Duta Besar UEA untuk Irak Hassan Ahmed Ash-Shihi mengajukan permohonan tersebut atas nama negaranya,  ketika ia diterima oleh Al-Abadi di kantornya, Senin (12/3/2018).

Menurut pernyataan itu, Sheikh Mohammed bin Zayed An-Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi, menggagas tawaran untuk membangun kembali Masjid Al-Nuri dan menaranya yang disebut Al-Hadbaa, salah satu tonggak sejarah paling terkenal di Kota Tua Mosul yang porak-poranda akibat perang.

Shihi mengatakan bahwa seorang utusan khusus dari UEA akan datang ke Baghdad untuk tujuan itu.

Pada gilirannya, Al-Abadi mengonfirmasi keinginan Irak untuk memperkuat hubungan dengan UEA berdasar kepentingan timbal-balik rakyat kedua negara.

Mosul, 400 kilometer sebelah utara ibu kota Irak, Baghdad, telah berada di bawah kendali ISIS sejak Juni 2014, ketika pasukan pemerintah meninggalkan senjata mereka dan melarikan diri, memungkinkan petempur kelompok itu menguasai banyak bagian Irak Utara dan Barat.

Pada 21 Juni 2017, petempur ISIS meledakkan Masjid Al-Nuri serta Menara Al-Hadbaa, sementara pasukan Irak mendesak ke dekat Masjid di sisi barat Mosul itu.

Masjid Al-Nuri dibangun tahun 1172 dengan menara miringnya yang terkenal, yang memberi kota tersebut julukan "Al-Hadbaa", atau "si bongkok". Masjid itu memiliki nilai sombolis, sebab itu adalah tempat pemimpin ISIS Abu Bakr Al-Baghdadi mengumumkan "kekhalifahan" lintas-perbatasan di Irak dan Suriah dalam penampilan tunggalnya di hadapan umum pada Juli 2014.

Pada 10 Juli, Al-Abadi secara resmi mengumumkan pembebasan Mosul dari petempur ISIS, setelah hampir sembilan bulan pertempuran sengit untuk mengusir militan ekstremis dari kubu utama terakhir mereka di Irak, demikian siaran kantor berita Xinhua. (Ant/Evie AD/AKS)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00