• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Geluti Sampah, Mantan Jurnalis Kini Beromset Rp 240 Juta Per Bulan

9 December
05:42 -0001
0 Votes (0)

KBRN, Purwokerto : Meskipun belum banyak anak muda yang berkeinginan mengelola sampah menjadi suatu usaha yang menguntungkan, namun berbeda dengan Guntur Wibowo, mantan pewarta di sejumlah media, kelahiran Banyumas 29 tahun silam, masih tergolong muda saat menentukan pilihan menjadi pengusaha daur ulang sampah, yakni pada usia 26 tahun.

Dalam usahanya yang dia bangun di desa Gununglangit, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara itu, Guntur menghadapi sejumlah permasalahan dari awal pendirian usaha mulai dari tertipu nominal ratusan juta, pasokan bahan tidak berkualitas, hingga didemo pegawainya sendiri karena manajemen yang amburadul.

Dari perjalanan waktu ke waktu, pria yang pernah memenangkan perlombaan-perlombaan penulisan esai tingkat nasional di sejumlah daerah, sudah mulai menemukan ritme usaha persampahannya.

Dengan membenahi aturan kerja, neraca keuangan, manajemen pekerja, dan hubungan dengan rekanan-rekanannya, kini omset usahanya mencapai Rp 240 juta per bulan.

Guntur Wibowo mengatakan, keputusannya untuk terjun ke dunia usaha daur ulang sampah plastik itu boleh dibilang cukup nekat. Akan tetapi sebenarnya ia ingin menujukkan bahwa mendaur ulang sampah plastik memiliki nilai ekonomi tinggi.

"Saya memutuskan terjun ke dunia usaha dibilang cukup nekat. Saya tidak punya background pengusaha. Keluarga besar, tempat saya dilahirkan semuanya pegawai. Tapi saya sendiri yang hanya menggeluti wiraswasta. Sebenarnya, saya sebelumnya pernah menjadi pegawai di sebuah perguruan tinggi, tapi saya mengundurkan diri, sebab saya ingin menggeluti usaha persampahan ini," ujar ayah satu anak ini kepada RRI yang menghubunginya, Jum'at (12/1/2018).

Usaha daur ulang sampah plastiknya, meski baru berusia tiga tahunan, kini telah memiliki 20 pegawai yang terbagi di bagian sortir, operator mesin, ekspedisi, dan administrasi.

"Awal saya memulai usaha ini, saya hanya memiliki empat pegawai. Kini ada 20 orang yang bekerja. Khusus untuk bagian sortir, saya sengaja memilih ibu ibu yang sudah cukup tua dan tidak bekerja, karena saya ingin usaha saya bisa bermanfaat untuk sekitar," ungkap Owner UD Bumi Jaya Abadi tersebut.  

Menurut dia, pasokan pasokan produksi cacahan plastiknya dikirim kepada sejumlah pabrik ekspor di pulau Jawa.

"Kami kirim hasil produksinya ke pabrik di Jakarta, Jawa Barat, Semarang, DIY, Pekalongan, Pemalang, dan Surabaya. Untuk bahan bakunya, kami ambil dari sejumlah kota di Pantura," paparnya. 

Usahanya saat ini, lanjutnya, tidak hanya mencacah sampah plastik sendiri. Tapi, ia juga membeli hasil cacahan dari tempat lain.

"Kami juga telah membuka kemitraan, jadi siapapun kini dapat membeli mesin pencacah dari kami, karena kami sekarang juga merakit mesinnya, dan hasil cacahannya tentu kami beli," tandasnya. (RPW/HF)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00