• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Presiden Ajak Ulama Jaga Kondusivitas Jelang Tahun Politik 2018 dan 2019

13 September
20:47 2017
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Para ulama dan pimpinan pondok pesantren dari Jawa Tengah dan Jawa Timur mendapat undangan dari Presiden Joko Widodo untuk bersilaturahmi di Istana Merdeka pada hari ini, Rabu (13/9/2017). Kepala Negara mengundang mereka untuk membicarakan berbagai isu penting yang tengah dihadapi kini. Kepada para ulama dan pimpinan pondok pesantren, Presiden Jokowi mengajak semua pimpinan pondok pesantren dan para ulama untuk menjaga kondisivitas wilayah, khususnya memasuki tahun politik, yaitu pemilihan umum di tahun 2018 dan 2019 mendatang. 

"Kami ingin sedikit mengingatkan kita semuanya bahwa tahun depan sudah mulai tahun politik. Jadi kami mohon bantuan kepada seluruh pimpinan pondok pesantren, para ulama, kiai, pimpinan ormas, semuanya, agar tahun politik baik tahun depan maupun tahun depannya lagi itu kita jaga bersama. Karena di Jateng ada pemilihan Gubernur. Kemudian pada September tahun depan itu sudah penetapan, saya juga baru sadar. Sudah penetapan capres dan cawapres," jelas Presiden. 

Kepala Negara berharap, para ulama dan pimpinan pondok pesantren dapat tetap menjaga kerukunan antar umat, serta mencegah hal-hal yang tidak baik, merusak tali persaudaraan.

"Oleh sebab itu, kami mohon agar kondusivitas di daerah kerukunan antar masyarakat antar umat betul betul kita jaga bersama. Jangan sampai ada lagi usaha untuk memecah belah mengadu domba kabar kabar yang tidak baik yang mengakibatkan masyarakat menjadi terpecah. Padahal itu adalah perhelatan politik lima tahun sekali. Jangan sampai karena perhelatan politik antar tentangga nantinya tidak rukun apalagi antar umat menjadi tidak kelihatan persaudaraan nya kembali," ujar Kepala Negara.

Selain itu, Presiden Jokowi juga menyampaikan kepada para ulama bahwa Penguatan Pendidikan Karakter juga menjadi pekerjaan besar semua pihak termasuk para ulama dan pimpinan pondok pesantren dalam membentuk karakter para santri untuk menjadi pribadi yang tidak mudah terintervensi dengan budaya asing, yang dikhawatirkan dapat menggerus budaya kesopanan, kesntunan, integritas, kejujuran, serta budaya hormat kepada guru, para kiai, dan ustadz. (PR/AKS)     

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00