• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Menaklukkan Buaya Tubir Masiwang Teluk Waru SBT

13 September
18:36 2017
5 Votes (5)

KBRN, Bula: Pernahkah anda membayangkan berada di sebuah delta yang dikelilingi ribuan ekor buaya tanpa ada jalan untuk menghindar? Tentu anda akan merasa tidak nyaman kan? Nah, di Kecamatan Teluk Waru Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Provinsi Maluku, terdapat sebuah pemukiman warga yang terisolir bersama buaya, si penunggu sungai. 

Memang mengerikan, tapi tidak untuk masyarakat penghuni Kampung Tubir Masiwang, kampung kecil yang terisolasi secara geografis di atas delta Sungai Masiwang. Kampung ini dicap angker oleh penduduk pesisir Seram Timur karena ada buayanya. 

Anehnya, meski potensi serangan buaya dapat terjadi kapan saja, namun masyarakat penghuni Tubir Masiwang tak pernah merasa terancam, bahkan menjadikan buaya sebagai sahabat alam dan penjaga keamanan kampung dari penyusup yang datang dari luar kampung. Hmm.

Dan meski mereka telah berdamai dengan buaya sejak zaman leluhur, tidak ada larangan atau pantangan bagi penduduk lokal mengeksploitasi reftil ganas yang menggunakan ekornya sebagai senjata pelumpuh mangsa tersebut. Hal itu dibenarkan Kepala Dusun Tubir Masiwang Safrudin Ernas kepada RRI, Minggu (10/9/2017), di tepian Sungai Masiwang. 

"Beta punya bapak, dulu sering tangkap buaya di sungai Masiwang jika ada yang pesan kulit buaya. Antua (beliau), sering tangkap buaya pakai umpan satu ekor ayam. Buaya di sini tidak susah ditangkap karena banyak yang tinggal (menghuni) dasar sungai," ungkap Ernas tanpa merasa ngeri ocehannya didengar buaya. 

Lain Ernas, lain Artafa Rumeon, bocah 12 tahun yang putus sekolah di bangku pendidikan dasar. Dari warna kulitnya yang coklat kehitaman, tingkah laku anak ini menggambarkan tingkah laku anak-anak Tubir Masiwang yang gesit berenang di sungai dan laut, serta kuat berlari mengejar rusa dan kasuari yang sering keluar masuk lahan perkebunan di sebelah delta. 

"Katong (kami) tidak takut buaya sama sekali. Anak-anak buaya yang masih kecil sering berenang bersama waktu katong mandi di sungai. Yang besar-besar biasanya jarang keluar, karena dong (mereka) lebih suka cari makan di dasar sungai dan di pesisir sungai untuk menangkap rusa," polos nyong Rumeon yang mahir berburu rusa bersama kakaknya. 

Ada cara unik yang biasa dilakukan penduduk Tubir Masiwang ketika hendak menyeberangi sungai, yaitu menepuk-nepuk tangan selama beberapa kali. Tepukan yang pertama memberi isyarat kepada buaya bahwa mereka hendak menyeberangi sungai dan tepukan berikutnya memberi isyarat kepada buaya untuk bergerak menjauhi tempat itu. 

Cara menaklukkan buaya yang diwariskan oleh para leluhur tersebut, terbukti sangat ampuh dalam menjaga keharmonisan hidup antara masyarakat Tubir Masiwang dan buaya si penunggu Sungai Masiwang. Masing-masing dari mereka menjaga habitat hidup tanpa saling mengusik, setidaknya sampai saat ini.

Dan berdasarkan catatan penduduk lokal, selama mereka menetap di kampung yang wilayah pesisirnya selalu berombak sepanjang tahun, baru satu kejadian di mana seorang anak dimangsa oleh buaya. Namun kejadian itu dipercaya oleh masyarakat lokal sebagai peringatan bagi anak-anak yang membangkang perintah orang tua atau bagi mereka yang sengaja melanggar adat istiadat. 

Misi Relokasi
Ihwal munculnya pemukiman di sekitar muara Sungai Masiwang, menurut penduduk lokal, sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Menurut Hamis Nienlain, warga lokal, leluhur masyarakat Tubir Masiwang awalnya berdiam di sekitar Bandara Kufar yang jaraknya sekitar 8 kilometer dari muara Sungai Masiwang. 

Namun leluhur mereka memindahkan tempat tinggal ke daerah baru yang lokasinya tidak jauh dari kampung lama. Setelah berpindah tempat selama tiga kali, leluhur masyarakat Tubir Masiwang akhirnya memilih delta Sungai Masiwang sebagai pelabuhan terakhir. 

Meski tidak diketahui alasan apa yang mendasari leluhur mereka memilih Tubir Masiwang sebagai kampung terakhir, namun alasan keamanan diduga sebagai faktor kunci karena di masa dulu sering terjadi percekcokan antar suku mengenai hak ulayat. 

Kampung Tubir Masiwang saat ini hanya dihuni 30- an kepala keluarga atau kurang lebih 150 jiwa. Sebagian dari mereka telah berhijrah ke tempat lain yang dianggap nyaman, karena kondisi kampung saat ini tidak lagi nyaman seperti dulu, lebih-lebih di daerah pesisir yang terus-menerus dikikis abrasi. 

Selain ketersediaan lahan untuk pengembangan kampung secara modern seiring diluncurkannya dana desa sangat terbatas, tidak ada seorang pun abdi negara yang mau bertugas di kampung Muslim ini karena sangat terisolasi dan rawan penyakit seperti malaria dan gizi buruk. 

Terbukti, sebuah Sekolah Dasar yang dibangun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) SBT saat ini kosong melompong dan ditumbuhi rerumputan karena telah ditinggal pergi tenaga pengajar sejak 5 tahun lalu. Tidak ada sarana prasarana kesehatan, bahkan pondok atau kios kecil pun tidak ditemukan. 

Itu lah sebabnya, Pemkab SBT melalui Pemerintah Kecamatan Teluk Waru dan Pejabat Pemerintah Negeri Administratif Tubir Masiwang melakukan pendekatan dengan mereka untuk mengikuti program relokasi. Sayangnya, program relokasi, baru disetujui oleh sebagian masyarakat yang ingin anak-anaknya mengenyam bangku pendidikan yang layak seperti anak-anak kampung tetangga. 

"Anak-anak Tubir Masiwang ni kebanyakan sekolah di luar kampung. Kasihan, dari kecil, mereka sudah dititipkan di kampung-kampung tetangga untuk masuk Sekolah Dasar. Di sini rawan segala macam, rawan air bersih, rawan penyakit, bahkan rawan banjir," ungkap Pejabat Desa Tubir Masiwang Nurbaya Sehwaky. 

Namun, melalui pendekatan yang intens dan persuasif, pejabat desa dan Camat Teluk Waru Tutiek Juliniar Menyulu, mampu meluluhkan hati mereka yang tidak mau direlokasi dengan tiga persyaratan yang harus diperhatikan Pemkab SBT. 

Pertama, Pemkab SBT harus menjamin status hukum hak pengelolaan lahan di tempat relokasi agar tidak menimbulkan sengketa lahan di kemudian hari. Kedua, daerah baru yang dipilih harus berdekatan dengan kampung Tubir Masiwang, dan yang ketiga, lokasi yang baru tidak boleh menghambat atau menyulitkan akses mereka ke perkebunan. 

Bertualang Menembus Hutan Mangrove
Pergi dijemput sun rise atau matahari terbit, pulang dijemput sun sit atau matahari terbenam. Demikian riwayat perjalanan dari Kampung Waru menuju Tubir Masiwang pada Minggu, 10 September 2017. Butuh stamina yang kuat untuk sampai ke Tubir Masiwang jika kondisi laut bergelombang. 

Pagi itu, kami bersama rombongan Camat Teluk Waru Tutiek Juliniar Menyulu meluncur dari pesisir Teluk Waru dengan menggunakan Long Boat bermesin 40 PK. Cuaca saat itu terlihat sedikit cerah, namun ketika berada di depan kampung Karai, gerimis mulai datang menjemput. Perairan yang tadinya tenang kini mulai bergelombang. 

Pengemudi Long Boat Idrus Alhamid mulai gelisah melihat kondisi perairan yang mulai bergelombang. Terbukti, selama setengah jam perjalanan, gelombang laut di perairan sekitar Sungai Masiwang terus meninggi. Dia pun memutuskan untuk menghentikan Long Boat di perbatasan antara dusun Karai dan Tubir Masiwang. 

Perjalananpun dilanjutkan dengan jalan kaki menyusuri pantai berpasir coklat sekira 5 kilometer menuju Tubir Masiwang. Beruntung saat itu air laut sedang surut sehingga perjalanan melelahkan terbayar dengan pemandangan pantai tropis yang indah.

Mendekati kampung Tubir Masiwang, langkah kaki kami terhenti di muara sungai. Rasa was was mulai menghantui karena Sungai Masiwang disebut-sebut markas buaya. Seorang perempuan desa yang ikut bersama rombongan mencoba menerobos aliran sungai setelah memberi isyarat kepada buaya dengan menepuk-nepuk tangan, ternyata airnya sangat dalam. 

Dia pun berlari menuju perkampungan untuk meminta bantuan perahu tanpa sayap atau kole kole dalam bahasa lokal. Namun bantuan yang diharapkan tak kunjung tiba. Terpaksa, ditemani seorang pemuda kampung, rombongan Camat Teluk Waru bergandengan tangan menyeberang sungai dengan hati kalut. Pada saat yang sama, seorang nenek berdiri di tepi sungai sambil menepuk-nepuk tangan. 

Tibalah kami di Kampung Tubir Masiwang. Belasan rumah yang dulu terlihat dari laut saat melintasi perairan dengan kapal perintis, kini sudah lenyap. Gedung sekolah yang masih bagus telah ditutupi rerumputan, sedangkan rumah-rumah penduduk kebanyakan dibangun berbentuk panggung seolah memberi ruang bagi buaya berteduh di bawahnya. 

Setelah melakukan tatap muka dengan masyarakat mengenai rencana relokasi, rombongan Camat Teluk Waru berpamitan meninggalkan kampung. Sebagai ungkapan terima kasih, rombongan camat dibekali dengan hadiah burung perkici atau burung urip berwarna merah hijau keunguan yang umum dijumpai dalam kampung. 

Saat meninggalkan kampung Tubir Masiwang, air laut sedang pasang-pasangnya. Gemuruh gelombang mengikis pesisir pantai dan menyergap kaki-kaki kecil yang melangkah penuh wis was. 

Tiba di muara Sungai Masiwang, sebuah kole kole telah siap disiapkan untuk mengantar kami menyeberang sungai yang ada buayanya. Hmm, ngeri sudah pasti, apalagi kole kole tanpa sayap miring kiri miring kanan dihantam gelombang. 

Setelah semua rombongan diseberangkan, ditemani seorang anak kecil, mulailah petualangan menerobos hutan mangrove yang rimbun sekira 2 kilometer karena jalan pesisir telah dikuasai oleh ombak. 

Dalam kondisi tubuh yang mulai kepayahan, kami dikejutkan dengan kehadiran seekor buaya yang kepalanya menyembul di sebuah muara sungai kecil. Dengan hati yang tidak karuan, kami pun berhamburan menyeberangi sungai dengan saling bergandengan tangan agar tidak terpisah. 

Perjalanan pun diteruskan dengan menerobos hutan nipa pantai yang juga rimbun. Sekira 5 kilometer perjalanan, sampailah kami di tempat kami diturunkan, namun kami harus berjalan kaki lagi sejauh 3 kilometer karena Long Boat yang kami tumpangi telah diamankan di sebuah muara sungai yang tenang. 

Setelah bertualang selama 3 jam, sampailah kami di tempat Long Boat diamankan, bersamaan dengan turunnya senja. Kamibpun bertolak menuju kampung Waru dan tiba sekitar pukul 20. 00 waktu setempat. 

"Ibu Camat Teluk Waru ternyata bukan tipe pejabat yang hanya duduk manis di kantor. Beliau mampu berjalan menerobos hutan mangrove tanpa mengeluh sedikit pun, bahkan terlihat enjoy dan menikmati perjalanan panjang, " kagum Mansyur Boinauw, reporter TVRI Ambon yang ikut bersama rombongan. 

"Beliau itu tipe perempuan besi, punya semangat tinggi, siap terjun ke masyarakat kapan saja dan dinana saja untuk kepentingan rakyat. Salut untuk beliau," imbuh Aini Sanaky, wartawan Harian Rakyat Maluku. 

Yang pasti, meski melelahkan, perjalanan menyusuri pantai dan menerobos hutan mangrove merupakan sebuah petualangan yang jarang dijumpai di tempat lain. (AL/AKS) 

  • Tentang Penulis

    Abdullah Leurima

    Reporter RRI Bula peraih Anugerah Pesona Bahari Indonesia 2016 (best of the best) dari Menteri Pariwisata RI

  • Tentang Editor

    Agus K Supono

    Redaktur Puspem

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00