• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Peranan dan Inisiatif Indonesia Hingga Diusia 50 Tahun ASEAN

12 August
21:28 2017
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Indonesia memiliki peran besar bagi keberadaan asosiasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Pada pembentukannya melalui deklarasi Bangkok, 8 Agustus 1967, Indonesia bersama 4 negara lainnya Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, sepakat untuk bersama-sama meningkatkan ekonomi, memperkuat sektor sosial hingga pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya.

Tahun ini ASEAN genap memasuki usia emas dan mengusung tema utama “Partnering for change, Engaging the world” atau “Bermitra untuk perubahan dan berperan didunia”.

Perayaan puncak HUT ASEAN ke 50 itupun dipusatkan di Manila, Filipina, pada 8 Agustus ini.

Berbagai kegiatan mengawali perayaannya, seperti berbagai pertemuan yang dihadiri para menteri luarnegeri 10 negara anggota ASEAN serta para menteri luarnegeri mitra wicara.

Dalam berbagai pertemuan di Manila, Indonesia melalui menteri luar negeri, Retno Marsudi, mengambil peran aktif.

Mulai dari pemberian ide hingga berbagai inisiatif bagi keamanan dan stabilitas kawasan serta dunia.

Contohnya, pernyataan bersama ASEAN mengenai kondisi kompleks Al Aqsa di Palestina, yang diputuskan pada Minggu, 6 Agustus 2017.

Menteri luar negeri RI, Retno Marsudi, menyatakan, pernyataan itu merupakan inisiasi Indonesia serta menunjukkan keberpihakan Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.

““Setelah beberapa hari bernegosiasi akhirnya disepakati bahwa Stand alone ASEAN foreign statement in Al Haram Asyarif compound. Ini adalah inisiatif indonesia untuk membuat ASEAN mengeluarkan satu stand alone statement mengenai situasi di Al Aqsa,” tutur Retno Marsudi saat ditemui di Manila, Filipina, Minggu (6/8/2017).

Lebih lanjut Retno Marsudi menambahkan, terdapat sejumlah hal yang ditekankan didalam pernyataan tersebut, seperti meminta seluruh pihak untuk menahan diri dan mendorong untuk terciptanya perdamaian serta stabilitas di kawasan tersebut.

“Jadi, satu lagi inisiatif Indonesia pada akhirnya dapat disepakati oleh para menteri luar negeri ASEAN. Dan, sekali lagi ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk terus membawa perjuangan Palestina didalam diplomasi kita,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Indonesia juga memiliki perhatian besar terhadap stabilitas di sekitar kawasan ASEAN, seperti Semenanjung Korea dan Laut China Selatan.

Kedua wilayah itu dinilai sebagai kawasan yang memiliki peranan besar bagi ASEAN. Apa yang terjadi di Semenanjung Korea beberapa bulan terakhir ini, dengan diluncurkannya misil Korea Utara, bahkan menjadi perhatian seluruh negara anggota ASEAN dan mitra wicara.

Topik itupun tidak luput dari pembicaraan antara menteri luar negeri Retno Marsudi yang menggelar pertemuan bilateral dengan menlu Amerika Serikat, Rex Tillerson, disela-sela perayaan HUT ke 50 ASEAN.

Retno Marsudi mengatakan, kedua negara secara intensif membicarakan langkah baik seperti apa yang dapat diambil dalam menyelesaikan situasi di Semenanjung Korea.

““Bicara how to approach (bagaimana mendekati) situasi di kawasan, terutama kita bicara tentang masalah Semenanjung Korea,” ujar Retno Marsudi ketika dikonfirmasi di Manila, Filipina, Selasa (8/8/2017).

Menurut Retno, Indonesia meminta Amerika Serikat untuk dapat berperan didalam upaya menyelesaikan situasi di sana.

“Jadi, kita bicara hal baik yang harus kita lakukan seperti apa. Karena, kalau kita salah mendekati. Maka, mungkin situasinya akan lebih buruk. Intinya begitu, tapi i could not say in details. Tapi, kami (Indonesia) yang minta,” paparnya.

Sementara, presiden Joko Widodo, mengimbau, seluruh negara anggota ASEAN untuk tetap menjaga persatuan dan stabilitas di kawasan.

Terlebih, menurut presiden, ASEAN memiliki peluang untuk menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi dunia.

“Saya melihat tantangan yang dihadapi oleh ASEAN dimasa mendatang tidak mudah. Dari sisi politik keamanan, ASEAN akan menghadapi revalitas negara-negara besar yang saling berpengaruh di kawasan Asia Tenggara maupun dilevel global. Ditengah revalitas kepentingan negara-negara besar itu, ASEAN harus mampu menjaga kesatuan dan setralitasnya,” tegas Presiden Joko Widodo ketika menghadiri perayaan 50 tahun ASEAN di sekretariat ASEAN di Jakarta, Jumat (11/8/2017).

Dalam perayaannya ke 50 tahun ini, pertemuan tingkat menteri luar negeri ASEAN maupun bersama negara-negara mitra wicara di Manila, Filipina, menghasilkan berbagai kesepakatan.

Terutama “pernyataan bersama ASEAN” terkait aksi Korea Utara di Semenanjung Korea, “pernyataan bersama ASEAN” terkait kompleks masjid Al Aqsa serta berhasil diadopsinya kerangka kerja kode etik Laut China Selatan oleh ASEAN dan Tiongkok.

Sedangkan, bagi Indonesia keberadaan ASEAN tentu erat kaitannya dengan menjaga stabilitas kawasan serta menciptakan kesejahteraan bersama.

Seperti, yang tertuang didalam visi ASEAN 2025 termasuk dengan ditekankan konsep “People Centered” atau dipusatkan kepada masyarakat.

Disana ditekankan bahwa masyarakat perlu merasakan langsung kehadiran dan mendapatkan keuntungan dengan keberadaan ASEAN. (RM)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00