• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Presiden: Nilai-Nilai Pancasila Tidak Boleh Hilang dari Jati Diri Bangsa Indonesia

12 August
11:41 2017
0 Votes (0)

KBRN, Bogor : Unit Kerja Presiden Bidang Pengembangan Ideologi Pancasila (UKP PIP) hari ini melaksanakan pembinaan pengembangan Ideologi Pancasila gaya baru di Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat.

Dalam acara Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila di Istana Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (12/08/17) pagi, Presiden Joko Widodo menjelaskan, bahwa infiltrasi budaya sudah masuk secara jelas di Indonesia. 

Oleh karena itu, Kepala Negara menegaskan bahwa Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam melaksanakan pembinaan dan pengembangan ideologi Pancasila.

Kepala Negara menyatakan bahwa pengembangan ideologi Pancasila harus dilakukan secara bersama-sama oleh semua pihak, guna semakin mengukuhkan persatuan dalam keberagaman Indonesia. 

"Perubahan sudah nyata, ada di depan kita.  Apa yang harus kita lakukan? Kita harus memperkuat nilai-nilai karakter bangsa, nilai-nilai keagamaan, semuanya harus kita perkuat. Karena terjangan, petarungan ideologi, infiltrasi ideologi itu nyata ada, baik melalui medsos, entah Facebook, Instagram, videobox, Twitter, Path, bisa lewat semuanya. Sekarang hati-hati, jangan sampai nilai-nilai kita hilang, karena terjangan infiltrasi ideologi," jelas Presiden Jokowi. 

Sebelumnya, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri menjelaskan bahwa moral Pancasila sudah segarusnya menjadi dasar yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan di Indonesia.

"Bagi saya, moral Pancasila harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan bahkan sudah seharusnya menjadi fondasi dari sistem pendidikan Indonesia," jelas Mega. 

Sebelumnya, Ketua UKP PIP Yudi Latief menyebutkan, metode pembelajaran Pancasila gaya baru untuk para pelajar tingkat mahasiswa ini menjadi salah satu cara yang perlu direalisasikan, agar ke depan generasi muda bangsa Indonesia dapat lebih meresapi pengamalan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (PR/HF) 


tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00