• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Sukiman, Pensiunan KAI yang Setia Jaga Perlintasan Tanpa Palang Pintu

18 June
11:33 2017
3 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Menyelamatkan nyawa orang lain menjadi motivasi bekerja Sukiman, laki-laki usia 63 tahun. Warga Pedukuhan Tapen RT 15, Desa Argosari Sedayu, Kabupaten Bantul DIY ini sejak tahun 2013 silam menjadi penjaga perlintasan kereta api tanpa palang pintu, tidak jauh dari rumahnya.   

Meski sudah tidak muda lagi, tetapi pensiunan pegawai PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang bekerja sejak tahun 1980-an itu, seolah tidak bisa dipisahkan dari kereta api. Setiap menjelang lebaran, natal dan tahun baru, menjaga perlintasan tanpa palang pintu menjadi tanggung jawab yang harus dijalaninya.   

”Saya ditugaskan dari Stasiun Rewulu, mulai kemarin tanggal 15 Juni sampai tanggal 11 Juli. Kalau tidak ada penjaganya perlintasan ini berbahaya, karena menghubungkan wilayah Bantul dengan Sleman sehingga ramai,” ungkapnya saat ditemui, Minggu (18/6/2017).

Ia sadar, pekerjaanya penuh resiko, apalagi jika ada masyarakat yang nekat melintas saat kereta api akan lewat. Padahal, di sekitar perlintasan sudah dipasangi rambu-rambu oleh PT KAI berisi himbauan agar berhati-hati, namun seringkali diabaikan.

”Kalau yang nyelonong ya biasa, susah payah mengingatkan tapi mau gimana lagi, ya terserah kalau mau celaka karena nekat, kan dikasih rambu supaya orang hati-hati tengok kanan-kiri aman atau nggak, jadi ngelewati nggak salah,” ucap dia.

Rasa ikhlas dalam bekerja membuat Sukiman tidak berfikir soal upah yang akan diperoleh. Jadwal menjaga perlintasan tanpa palang pintu dilaksanakan dalam dua shift, sehingga bisa bergantian dengan rekan kerjanya.

”Yang jaga disini dua orang dibagi dua shift, saya kerja dari jam 2 siang sampai jam 10 malam, ya harus ikhlas untuk ibadah, tahun lalu diupah Rp 70 ribu per hari, kalau sekarang belum tahu upahnya berapa,” terang Sukiman.                                 

Salah satu warga bernama Muhammad Garjito mengaku tidak takut melintasi perlintasan kereta api tanpa palang pintu, meski dirasa kurang aman, tetapi butuh kehati-hatian agar bisa selamat ketika melintas.

”Ya lebih yakin (perlintasan, red) pakai palang, takut sih enggak asal hati-hati, Insya Allah selamat, kebetulan ini pas jemput anak”, katanya. (WS)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00