• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Meriam Bambu, Tradisi Menanti Berbuka Puasa Remaja Sintang

14 June
13:26 2017
2 Votes (5)

KBRN, Sintang : Anak- anak  bertelanjang dada yang di penuhi lumpur hitam  itu berteriak girang ketika letusan pertama meriam berdentum.

Sore yang cerah ini membuat mereka leluasa berperang menggunakan meriam berisi karbit suaranya menggelegar hingga kesebrang sungai yang di balas oleh kelompok lainya dari sebrang sungai kapuas dengan dentuman serupa.

Perang meriam karbit seperti sebuah tradisi saat ramadhan di kota Sintang, anak –anak di pesisir sungai melawi dan kapuas memanfaatkan bibir pantai untuk tradisi perang meriam karbit yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Budi warga Kapuas kiri hilir Sintang mengatakan ini sebuah tradisi ramadhan di kampung sekitar pantai di kota Sintang kendati  pernah  ada upaya penertiban oleh pihak kepolisian namun selalu saja tidak berhasil di tertibkan satu titik  justru tumbuh lagi lebih banyak dititiklainya.

“ Ini semacam tradisi yang tidak bisa dilarang, bahkan anak- anak ini kalau dirazia polisi mereka berhenti di satu titik tapi di titik lainya justru menyala semakin banya,” cerita budi rabu (14/06/2017) sore.

Bagi orang- orang tua kegiatan meriam karbit ini dinilai menganggu warga karena bunyinya sangat keras dan dapat membuat orang kaget.

Uti Syahrir budayawan kraton Sintang mengakui meriam karbit ini sebelumnya adalah  meriam bambu atau bedil buluh yang dahulu masa kecilnya juga dimainkan olehnya.

“ Meriam bambu sebelum kami lahir sudah ada, tapi kalau meriam karbit ini baru pada tahun 60-an,” Ungkapnya.

Tradisi ini kata Uti Syahrir  kadang- kadang menganggu, apalagi pada saat ibadah terlebih pada saat malam lebaran detuman meriam ini tidak henti sejak magrib hingga pagi.

“ Cukup menganggu kalau dinyalakan pada saat ibadah, namun tradisi ini berlangsung sudah lama bahkan kalau malam hari raya sampai pagi,” Ungkapnya.

Meriam bambu ,bagi para lelaki melayu di kota Sintang bukan hal yang asing, sebagian besar para orang tua disini mengaku pernah merasakan sensasi. menyalakan meriam bambu ini menjadi sebuah hiburan pada saat ramadhan.

Ridwan (55) mengaku masa  kecil saat bulan ramadhan Ia dan teman- temanya  selalu menghibur diri menanti saat berbuka puasa dengan menyalakan meriam bambu.

“ Oh, dulu pake bambu, kalau pake karbit harus menggunakan batang enau sekitar  lima meter panjangnya lalu  di belah dan dibuang isinya, kemudian di ikat rotan,” ujarnya.

Ridwan mengatakan tradisi ini dilaksanakan turun temurun dan sulit di musnahkan, sebab secara sepontan anak-anak dari generasi-kegenerasi menyalakan meriam tepat saat bulan ramadhan, tapi setelah ramadhan berlalu meriam karbit ini pun hilang dengan sendirinya.

“ Tradisi ini cukup menganggu tapi tidak bisa dilarang,karena tumbuh spontan” kilah Ridwan.

Bunyi- bunyian meriam bambu bagi warga melayu Sintang memang menjadi warna bulan ramadhan, sehingga bisa saja ini sebagai sarana hiburan untuk membedakan bulan ramadhan dengan bulan- bulan lainya.

Budayawan Sintang Syamsul Bahri mengatakan kekompakan anak- anak muda di Sintang terlihat pada bulan ramadhan mereka bergotong royong mewujudkan permainan ini, tapi pada bulan lainya mereka secara otomatis meninggalkan permainan meriam bambu ini.

“ Ini bagi mereka hanya dilakukan pada bulan ramadhan kalau bulan lainya diupah pun mereka tidak mau melakukan ini, itulah uniknya teradisi ini,” jelas Syamsul Bahri.

Kerabat Keraton almukaramah Sintang Ade Muhammad Iswadi menceritakan sejarah meriam bambu ini dahulunya untuk menakut-nakuti pasukan Belanda, Meriam bambu ini di nyalakan oleh para wanita, pada masa itu saat para lelaki bergeriliya mengusir penjajahan Jepang di bumi Sintang.

Ini terjadi pada masa pahlawan Sintang Pangeran kuning yang mengusir penjajah di Sintang pada masa perang geriliya.

“ Maka kami pun mengangkatnya dalam kegiatan ramadhan kali ini di salah satu cabang yang di pertandingkan yaitu bedil buloh  oleh remaja masjid jamik Sultan nata,” paparnya.

Tahun ini untuk kedua kalinya meriam bambu atau Bedil buluh  di masukan dalam ajang festivalkan oleh Remaja Masjid Jamik Sultan Nata sekaligus menjadi penegasan kalau meriam bambu bagi masyarakat melayu Sintang seperti sebuah sejarah masa lalu yang masih menjadi tradisi hingga saat ini.

Saat menjelang sore saat satu meriam bambu berdentum, anak-anak Sintang yang berada seputar pantai kapuas dan Melawi yang hidup  dalam tradisi ini meninggalkan keasyikan memainkan  gadget yang berhamburan ke pantai sungai kapuas dan Melawi mereka menyalakan semangat gotong royong dengan menyalakan meriam bambunya membalas tembakan di seberang sungai dengan dentuman serupa. (Fik)

Rekomendasi Berita
tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00