• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya

Potensi Museum di Indonesia Belum Digarap Serius

19 May
15:32 2017
2 Votes (5)

KBRN, Malang : Bagaimana Indonesia menghargai dan mengagungkan budaya dan sejarah bangsa? Itu dapat dilihat dari bagaimana museumnya. Kepada RRI Malang, Jumat (19/05/2017), Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Jawa Timur, Dwi Cahyono, menuturkan bahwa di Indonesia saat ini ada 460 museum yang eksis dan tersebar di berbagai kota-kabupaten. Jumlah tersebut masih belum mewakili seluruh peristiwa budaya dan sejarah bangsa Indonesia. Bahkan mayoritas museum belum mampu menarik keingintahuan masyarakat untuk berkunjung karena bentuk bangunannya yang masih kaku dan kurang “eye catching” layaknya museum terkenal di berbagai negara lain di dunia.

“Baru sekitar 30 persen yang sudah berubah lebih kekinian tampilannya dan menarik, setelah 2 tahun belakangan fenomena museum bergeliat di Indonesia karena adanya studi museum ke seluruh dunia dari pemerintah dan pengelola museum,” terangnya.

Selain itu dari 3 fungsi museum sebagai tempat hiburan, belajar dan konservasi, di Indonesia museum masih dianggap sebagai tempat hiburan. Karenamya perlu banyak pembenahan mulai dari koleksi, story line, lay out, dan activity room nya yang dapat menjadi pusat studi budaya dan sejarah.

Ia mencontohkan, di Kota Malang banyak potensi museum yang seharusnya dapat digarap.

“Ada sekitar 27 peristiwa nasional dalam sejarah Indonesia yang terjadi di Malang. Lahirnya KNIP yang menjadi cikal bakal DPR RI, lahirnya istilah AKABRI, dan berbagai peristiwa besar lainnya. Tapi belum digarap. Kalau semua dibuat museumnya pasti menarik. Misalnya Museum Kantor Pos, atau Bank Indonesia Malang dapat membuat museum Javas Bank,” jelasnya.

Dwi menambahkan bahwa saat ini ada 6 museum di Kota Malang yang tercatat dikelola pemerintah, perusahaan swasta, maupun yayasan pribadi, di antaranya yakni Museum Mpu Purwa, Museum Malang Tempo Doeloe, Museum Zoologi Frater Vianney, Museum Brawijaya, dan Museum Musik Indonesia. Ada pula museum Bentoel dan museum Pendidikan milik Diknas Kota Malang yang sedang di “face off”.

Untuk menarik orang berkunjung ke museum, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang tidak tinggal diam. Kepala Seksi Sejarah Seni Tradisi Dan Permuseuman Disbudpar Kota Malang, Wiwik Wiharti Rodiyah, memberitahukan bahwa museum Mpu Rurwa telah selesai direvitalisasi.

“Museum Mpu Purwa saat ini sudah dibangun kembali gedung penunjang, dan fasilitas tata pamer. Ada pemutaran 3D movie, patung, dan prasasti yang ditata menggambarkan sejarah Hindu-Budha Singasari dan Majapahit. kami tinggal menunggu launching sehingga pelajar dan masyarakat umum bisa berkunjung secepatnya.

Wiwik menjelaskan bahwa selama ini kendala terbesar dalam pengelolaan museum adalah sumber daya manusia yang terbatas dan anggaran sangat minim. Dwi Cahyono mengiyakan hal ini.

“SDM yang memenuhi standar internasional di Indonesia masih sangat terbatas. Biaya maintenance juga sangat besar. Harus ada kemauan dari pelaku, komunitas dan pemerintah,” imbuh pria yang memiliki  museum Malang Tempoe Doeloe ini.

Terlebih masalah perijinannya yang detail dan rumit, karena konsekuensi dan keistimewaan bagi pemegang ijin, maka Disbudpar Kota Malang harus benar-benar selektif dan hati-hati.

Banyak yang ingin mendirikan museum, maka dinas harus hati-hati. Kalau cuma corner tidak terlalu masalah, tapi kalau sudah ijin museum dikeluarkan Dinas harus menyeleksi dengan baik. Jangan hanya karena seseorang punya uang, ijin diberikan,” pesan Dwi Cahyono serius. (Est)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00