• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

KKP Gandeng BPPT Rancang Kapal Perikanan Tangkap 120 GT

18 April
18:24 2017
4 Votes (3.8)

KBRN, Jakarta : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyepakati kerja sama pengembangan dan pemanfaatan teknologi kemaritiman untuk mengoptimalkan sumber daya kelautan dan perikanan serta perancangan kapal yang sesuai dengan kebutuhan nelayan Indonesia.

"Teknologi dan inovasi yang siap dikembangkan dan dimanfaatkan dalam kerja sama ini antara lain desain kapal perikanan tangkap dan ikan Nila Salina yang dapat dibudidayakan laut," kata Kepala BPPT Unggul Priyanto kepada wartawan, usai menandatangani MoU di Gedung Mina Bahari I, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Selasa (18/4/2017).

Unggul menjelaskan, BPPT memiliki rancang bangun desain kapal perikanan tangkap dengan kapasitas 120 Gross Ton (GT) yang sudah bisa diproduksi untuk memenuhi kebutuhan kapal perikanan tangkap di tanah air.

Dari segi jumlah armada kapal yang diproduksi per tahun, lanjutnya, Indonesia kalah jika dibandingkan dengan Filipina dan Thailand. Jika rancang bangun sudah dikuasai tentu harapannya bisa membuat target produksi kapal perikanan tangkap per tahun.

Sedangkan teknologi perikanan budidaya yang siap dimanfaatkan adalah ikan Nila Salina yang bisa dikembangkan di air asin, dan sudah berhasil diujicobakan di Kepulauan Seribu. KKP, menurut Unggul, bisa memanfaatkan ini untuk perikanan budidaya.

"Selanjutnya akan kita coba udang galah termasuk sampai ke pakannya, karena kita tahu pakan udang saja masih impor," ujar dia.

Sementara, Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi Hardjanto mengatakan, untuk perikanan Budidaya Indonesia juga kini tertinggal dengan Vietnam, apalagi soal pakan. Sedangkan ketergantungan dengan impor Indonesia untuk urusan pakan ikan dan indukan udang bahkan peralatan tangkap seperti jala dan kail juga masih tinggi.

"Ketergantungan barang impor bahkan teknologi yang sederhana, yang dasar, harusnya dikurangi. Kita sudah capek-capek dapat devisa masak dikeluarkan hanya untuk alat-alat dasar," ujar dia.

Rantai bisnis budidaya perikanan begitu besar, kata Rifky. Kerja sama dengan BPPT persoalan-persoalan tersebut bisa terpecahkan.

Terkait dengan desain kapal perikanan tangkap, menurut dia, nelayan Indonesia membutuhkan kapal berukuran kecil yang modern dengan preferensi kearifan lokal karena masing-masing daerah memiliki ciri khas berbeda.

"Kalau bisa BPPT buat desain kapal tangkap yang bercirikan kearifan lokal tersebut, dengan nomenklatur standar baku khas Indonesia supaya berbeda dengan kapal-kapal nelayan asing. Kalau desain kita beda tentu akan mempermudah identifikasi kapal-kapal asing pencuri ikan," ujar dia.

Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Erzi Anson Gani mengatakan selain desain kapal perikanan tangkap yang sudah siap diproduksi dalam kerja sama ini ke depan BPPT mengembangkan desain kapal angkut ikan dan dilanjutkan dengan kapal angkut ikan hidup. Desainnya tentu sesuai dengan bisnis model yang dibuat KKP.

"Kajian teknologi lain tentu akan juga dikembangkan bersama dalam kerja sama ini, seperti untuk desain pelabuhan dan teknologi untuk mengatasi abrasi pantai," kata Erzi. (red/HF)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00