• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Budi Waseso: Indonesia Diambang Kehancuran Karena Narkoba

17 February
19:17 2017
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Narkotika menjadi ancaman serius untuk bangsa Indonesia. Persoalan barang haram itu bukan hanya penyalahgunaan namun merupakan alat untuk menghacurkan bangsa Indonesia.

Kepala Badan Narkotika  Nasional  (BNN)  Komisaris Jenderal Pol Budi Waseso mengatakan saat ini Indonesia berada di ambang kehancuran karena narkoba. Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri memberikan bukti, di Indonesia terdapat 72 jaringan narkoba internasional. BNN pernah mengungkap kasus satu jaringan dengan Tindak Pidana Pencucian uang (Money Laundry) Rp3, 6 triliun.

Jika rata-rata belanja narkotika Rp1 triliun untuk satu jaringan maka satu tahun, ada Rp72 triliun uang untuk belanja narkotika. Kondisi tersebut membuktikan pangsa pasar narkoba di Indonesia besar.

Selain itu, pengguna narkotika di Indonesia mencapai 5 juta orang. Itu pun yang terdata. Jumlah yang tidak melapor, yakini lebih besar. Jumlah yang meninggal akibat narkoba, 50-60 orang perhari. Berarti dalam setahun, lanjut Budi Waseso, 15 ribu orang Indonesia mati sia-sia karena narkoba.

“Perlu dipahami bahwa narkoba adalah penghacur negara. Perang modern atau prxy war. Negara diambang kehancuran. Bicara narkotika, negara sudah lampu kining, tinggal kapan selesai. Apakah lampu kuning menjadi merah tetapi kenyataannya merah. Ini ancaman serius. ” kata Budi Waseso kepada wartawan, Jumat (17/2/2017).

Permintaan narkotika dari Indonesia besar. Berapa jumlah narkotika yang dikirim ke Indonesia selalu ludes, laris manis. Ada 11 negara yang memiliki peran aktif untuk memasukan narkoba ke Indonesia seperti Thailand, Eropa, Amerika Serikat, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Taiwan. Narkoba masuk ke Indonesia melalui Batam, Aceh dan Sumatera Utara.

“Tidak ada barang narkotika yang kembali ke negara asal karena sisa tidak ada. Habis terserap bahkan Australia dapat dari kita tetapi bagian kecil yaitu dari Bali dan Yogya. Seluruhnya habis di Indonesia”.

Sindikat narkoba dari Cina, biasanya singgah terlebih dahulu di Singapura atau Malaysia, kemudian dibawa melalui pesawat atau jalur pelabuhan seperti Aceh, Meda, Kalimantan. Sindikat Malaysia dengan ranah lokasinya adalah melalui Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Aceh, Batam, perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia, Perbatasan Kalimantan Timur dengan Indonesia.

 Budi Waseso juga menyoroti penanganan narkoba yang terkesan masih ego sektoral. Perhatian terhadap penanganan narkba juga dinikai masih kurang.

“Penanganan narkoba di Tanah Air oleh kementerian/lembaga dan stakeholder masih mengedepankan egosektoral . Para pemimpin mah nyenyak tidur dengan narkoba. Saya melihat narkoba merupakan ancaman bersar. Narkoba terserap semua dan selalu kurang. Disuplai berapapun tetap kurang, Permintaan terus meningkat,” tuturnya. (Sgd/WDA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00