• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Bea Cukai Kalimantan Bagian Barat Musnahkan 62,8 Ton Gula Ilegal

17 February
15:19 2017
0 Votes (0)

KBRN, Entikong : Bea Cukai Kalimantan Bagian Barat memusnahkan 62,8 ton gula ilegal asal Malaysia. Puluhan ton gula itu merupakan barang sitaan hasil penindakan Bea Cukai Entikong serta Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan dan Polisi sepanjang tahun 2014–2016 yang diserahkan ke pihak Bea Cukai.

“Barang (Gula-Red) ini tidak saja masuk melalui Pos Lintas Batas Negara Entikong, namun juga ada yang masuk dari jalan-jalan tikus yang ada disekitar Kecamatan Entikong dan Sekayam,” kata Kepala Kanwil Bea Cukai Kalimantan Bagian Barat, Syaifullah Nasution dalam keterangannya kepada awak media di Entikong, Jumat (17/2/2017).

“Berdasarkan Undang-Undang Kepabeanan harusnya hasil penindakan ini dilakukan penyidikan, tapi karena tersangkanya tidak ada maka ada peraturan di Kemenkeu yang membolehkan barang hasil penindakan (Gula-Red) ini untuk digunakan sebagai peruntukan lain, bisa dihibahkan atau di musnahkan,” jelasnya.

Namun, Syaifullah menuturkan dari hasil pengujian laboratorium di Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Pontianak, Kalimantan Barat, gula tersebut sudah tidak layak konsumsi sehingga dilakukan pemusnahan.

“Semula Bea Cukai Entikong akan menghibahkan gula ini kepada masyarakat di Kecamatan Entikong dan Sekayam lewat Pemerintah Daerah setempat untuk tujuan sosial, tapi berdasarkan kondisi fisik kemasan dan tanggal kadaluarsa, gula ini tidak memenuhi standar SNI,” urainya menjelaskan alasan pemusnahan.

Importasi komuditas gula diatur tata niaganya oleh Kementerian Perdagangan dan pemasukannya ke Indonesia harus memiliki ijin. Pengaturan ini bertujuan melindungi usaha perkebunan tebu, industri pengolahan gula dan pasar di dalam negeri. Karena itu sebagai Community Protector dan Industrial Assistance, Bea Cukai bertanggung jawab mengendalikan gula impor sebagai barang tata niaga. (DW/WDA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00