• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Cegah Masuknya Narkoba, BNN Gandeng Angkasa Pura I

17 February
13:22 2017
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta:  Badan Narkotika  Nasional  (BNN) menjalin kerjasama dengan menandatangi nota kesepahaman atau memorandum Of understanding (MOU) dengan PT Angkasa Pura I.

MoU ditandatangani oleh Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso dan Direktur Utama AP I Danang S Baskoro. Penandatanganan berlangsung di Hotel Grand Mercure, Kemayoran, Jakarta, Jumat (17/2/2017).

Kepala BNN, Budi Waseso mengatakan kerjasama dengan AP I sangat penting karena selain keterbatasan BNN untuk memerangi narkotika tetapi juga karena bandara udara merupakan pintu awal masuknya barang haram itu ke Indonesia.  

"Keluar masuknya barang terlarang diawali dari bandar udara khususnya internasional. Ini harus serius. Mari kita pahami bersama. Bandara merupakan tujuan masuknya barang terlarang," kata Budi Waseso dalam sambutannya, Jumat (17/2/2017)

Budi Waseso juga mengatakan saat ini, Indonesia berada diambang kehancuran karena narkoba. Indikator peredaran uang  untuk belanja narkoba  di Indonesia sangat besar. Budi Waseso menggambarkan ada 72 jaringan narkoba  internasional di Indonesia. Satu jaringan belanja narkotika mencapai Rp 1 triliun. Berarti dalam satu tahun, mencapai Rp 72 triliun. Selain itu, pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5 juta orang. Itu pun yang diketahui karena melapor . Korban meninggal mencapai 50-60 orang perhari. Korban dari berbagai kalangan termasuk anak-anak dan balita.

"Bicara  narkotika , negara ini lampu kuning. Tinggal berubah saja apakah merah atau hijau. Kita inginnya hijau tapi ancamannya merah. Persoalan narkotika tidak sederhana, hanya penyalahgunaan tapi yang perlu didalami adalah narkoba sebagai alat penghancur negara. Perang modern. Negara diambang kehancuran. Tinggal menunggu waktu. Sekarang lampu kuning larinya. Tinggal kita mau merah atau hijau. Kalau merah maka kita tidak punya generasi dan selesai lah bangsa ini".

Ironisnya, kata Budi, kendati narkoba sebagai ancaman bagi bangsa, korban meninggal terus berjatuhan akibat terpapar narkotika, barang haram itu belum mendapat perhatian serius. Selain itu, penanganan narkoba di Tanah Air oleh kementerian/lembaga dan stakeholder, masih mengedepankan egosektoral.

"Selama ini kita bekerja egosektoral. Yang pernah disadari bahkan ego sektoral membuat celah untuk bertempur gontok-gontokan. Sampai hari ini kita belum melihat NKRI, semua bicara kepentingan kelompok. Narkotika juga. Bicara narkotika, yang ada di bayangan adalah tugas BNN," tuturnya.

Sementara itu, Dirut AP I Danang menyambut baik kerjasama dengan institusi yang dipimpin oleh Budi Waseso. Pemberantasan narkoba bukan hanya tugas BNN tetapi seluruh komponen termasuk AP I.

"Kami menyampaikan terima kasih kepada Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso yang sudi meringankan langkah bersama.  Kami tidak tau update pengedar narkotika. Kami mohon diarahkan. Kiranya peran untuk menanggulangi barang terlarang melalui bandara antisipasi bagaimana"

"Harapan kami perlu ditindaklanjuti, perlu didik, peralatan perlu diupgrade maka kami siap. Agar barang terrlarang bisa dihindari, kami tidak tau banyak dibandingkan BNN. Kami tau, barang terlarang bukan hanya kepada target market pemuda dan pemudi yang baru tumbuh tapi segala profesi. Terakhir adalah profesi pilot," ujar Danang.

Ruang lingkup kerjasama antara PT AP I dengan BNN yaitu penyebarluasan informasi pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan peredaran gelap narkotika (P4GN), kedua adalah kampanye anti narkoba di lingkungan kerja dan lingkungan bandar udara dibawah pengelolaan PT AP I, ketiga peningkatan peran aktif AP I sebagai pegiat anti narkoba, pertukaran data dan informasi, keen pemberian akses kepada BNN terkait penyelidikan dan penyidikan terkait tindak pidana narkoba.

"Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dapat menjadi hambatan bagi pembangunan sumber daya manusia dan merusak penerus bangsa. Kami berharap dapat menjadi mitra yang baik bagi BNN dalam memberantas penyalahgunaan dan peredaran narkotika sampai ke akar-akarnya," ujar Danang.

" Indonesia menjadi salah satu sasaran terbesar dalam peredaran narkotika yang dikendalikan oleh jaringan Nasional dan internasional. Bandara sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan para penumpang pesawat terbang serta kargo sangat rawan untuk digunakan sebagai jalur masuk pengirimN narkoba dari berbagai daerah dan negara. Kami sangat mendukung BNN dalam memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Tanah Air melalui bandara yang dikelola AP I," tegasnya.

Budi Waseso menambahkan sejumlah bandara yang menjadi perhatian khusus BNN diantaranya adalah bandara di Manado karena terdapat penerbangan langsung dari dan ke Cina. Diketahui Cina merupakan produsen terbesar di dunia untuk sabu walau sebenarnya sabu di pergunakan untuk kedokteran.

"Cina produksi terbesar untuk jenis sabu. Kalau minta 100 ton, akan dikirim. Mereka tidak salah karena tujuan untuk obat. Yang salah kita karena menyalahgunakan. Untuk bandara besar salah satunya Bandara Manado karena ada penerbangan langsung dari Cina ke Manado. Ini jadi  perhatian khusus termasuk  Bandara Internasional  Bali. Jadi target ini kita. Tapi juga domestik. Setelah transit pindah pesawat, barangnya dioper pesawat domestik," terang Budi Waseso.

AP I menaungi 16 bandara seperti di Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Jayapura, Ambon, Labuan Bajo, Sulawesi, Kalimantan Tengah. (Sgd/AA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00