• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

“Tanggomo” Sastra Lisan Budaya Gorontalo

26 January
08:33 2017
1 Votes (5)

KBRN, Gorontalo : Tanggomo bukan sekedar nyanyian biasa tapi memiliki makna yang besar bahkan dijadikan refensi peristiwa maupun fakta-fakta sejarah yang terjadi di tanah Gorontalo.

Tanggomo berasal dari kata Molangomo atau menampung berbagai peristiwa yang terjadi dikalangan masyarakat maupun fakta sejarah. Istilah menampung ini memang beralasan. Menampung segala peristiwa di alam ingatan manusia.

Harap maklum, pada awal mula Tanggomo taggomo sekitar tahun 1942 masyarakat Gorontalo belum sepenuhnya mengenal buku dan pena sebagai alat untuk menulis,  mendokumentasikan suatu peristiwa.

Gorontalo sempat memiliki Generasi penerus Tanggomo dialah sosok Manuli As Ali yang saat ini sudah Almarhum. Meninggalnya Almarhum seakan Tanggomo hilang dari budaya Gorontalo.

Kami mencoba mendatangi Budayawan yang masih melestarikan Sastra Lisan Tanggomo.  Meski sempat diguyur hujan deras, kami mendatangi Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango untuk menemui Yamin Husain. Ia menceritakan pengalamannya yang sempat hidup bersama dengan Almarhum Manuli.

“Yang mulai mengenalkan Tanggomo ini itu Manuli itu, nama lengkapnya Manuli As Ali/ dia meniggal nanti tahun 70 an/ tapi awal dari itu terkenal sekali Tanggomo ini,” ungkap Yamin Husain, Kamis (26/1/2017)

Tanggomo ini sama halnya dengan pendokementasian.

“Sastra lisan daerah yang berhubungan dengan pendokementasian, Pilu, Hungguli, Tanggomo,” tambahnya

Yamin Husain mengaku, sempat dilombakan sastra Tanggomo ini, namun hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata sudah lari dari konsep yang sebenarnya sebagai dokementasi peristiwa tetapi berisikan himbauan maupun pesan-pesan.

“Kalau sekarang itu, kebanyakan Tanggomo hanya himabuan, kalau itu himbauan berarti sudah lari dari definisinya asal kata melanggomo menampung,” tegasnya

Satu hal yang luput dari pandangan warga terhadap Tanggomo. Sastra lisan ini ternyata juga pernah digunakan para Da’I untuk diajak bersama dalam berdakwah.

Karena isi dari Tanggomo menarik, mampu mengundang perhatian warga untuk berkumpul lalu para Da’I setelahnya menyapaikan dakwah Agama, yakni Agama Islam.

“Karena dia sudah dibawakan dengan bahasa berirama dia menarik sehingga mengumpul orang banyak to artinya misalnya sebagai pengisi selingan dari dakwah itu jangan langsung dakwah dipancing dulu dengan itu Tanggomo,” kata Yamin

Tanggomo dapat menceritakan apa saja yang berhubungan dengan aktivitas masyarakat Gorontalo pada zaman dulu. Di bidang pendidikan, Tanggomo menceritakan dinamika yang terjadi pada orang zaman dulu ketika bersekolah.

“Temanya pendidikan, dia menceritakan bagaimana orang-orang dulu bersekolah misalnya dipo hisolopuwa (Belum memakai alas kaki),” pungkasnya

Lain dulu lain sekarang. Mungkin kalimat itu yang tepat terhadap eksistensi Tanggomo.

Pada hal jika kita menyaksikan penampilan Tanggomo seakan mampu melupakan sejenak liku dunia ini. Selain penyajian yang menarik juga budaya tutur warga Gorontalo tetap terjaga hingga dunia sekarang.(TU)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00