• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Badan Karantina Ikan Sukses Selamatkan Sumber Daya Perikanan Senilai Rp 306,8 Miliar

11 January
16:50 2017
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta:Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM)  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berhasil menyelamatkan sumber daya ikan Indonesia senilai Rp 306,8 miliar dalam upaya penggagalan penyelundupan.

Kepala BKIPM Rina mengatakan  nilai sumber daya ikan ataupun jenis produk perikanan yang berhasil diselamatkan pada 2016, lebih tinggi dibandingkan 2015 yang senilari Rp 37,2 miliar.

“Dalam penanganan pelanggaran dan penegakan hukum, BKIPM telah berhasil menyelamatkan sumber daya ikan Indonesia senilai Rp 306,8 miliar dari pencegahan penyelundupan. Ini menjadi kinerja yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Rina, dalam keterangan pers  Refleksi 2016 dan Outlook 2017 BKIPM di Gedung Mina Bahari (GMB) II Kantor KKP Jakarta, Rabu (11/1/2017).

Sumber daya tersebut terdiri dari benih lobster, kepiting, lobster, rajungan bertelur, kepiting dan lobster berukuran kurang dari 200 gram, mutiara, koral, produk hasil perikanan dan hasil perikanan lainnya seperti kuda laut, penyu, kura-kura, sirip hiu, ketam tapak kuda, ikan hias. Rina menambahkan, penanganan pelanggaran 2016, ada 153 kasus dengan rincian 119 kasus telah selesai, 14 kasus masih dalam proses penyidikan, dua kasus P19 atau dikembaikan ke pihak kepolisian.

Keberhasilan lain yang dicapai BKIPM adalah minimnya kasus untuk ekspor yang ditolak negara lain.  Tahun ini hanya ada 4 kasus ekspor yang ditolak oleh Rusia.   

“Empat negara tidak boleh melebihi 10 kasus. Satu negara tidak boleh dari 10 kali menolak. Rusia 4 kali. Rusia persoalan  minyak ikan dan kandungan air raksa atau merkuri,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Sertifikasi Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Widodo Sumiyanto mengatakan kasus penolakan ekspor semakin menurun. Secara global, peringkat Indonesia untuk kasus penolakan ekspor oleh negara lain yakni peringkat 21. Bandingkan dengan Spanyol berada di posisi teratas 115 kasus, Vietnam 38 kasus, India 31 kasus dan Thailand 19 kasus.

“Indonesia ada tujuh kasus. Jerman, Spanyol, Italia satu kasus. Belanda dan Prancis dua kasus. Kasus dari tahun ke tahun bisa dilakukan penekanan. Kalau 5-10 tahun lalu, kasus bisa mencapai diatas 50. Kalau sekarang belum pernah tembus diangka 10. Tahun ini kita menjaganya hanya 4 kasus,” ujar Widodo. (Sgd/Foto:Sugandi/AKS)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00