• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Jalani Sebagai Kades, Ngiat Hiung Bangkitkan Semangat Kebhinekaan

9 January
14:00 2017
8 Votes (4.1)

KBRN, Trubus; Sedikit tanda kasih, banyak tanda berlebih. Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Begitulah mutiara kata yang tertanam dari sosok lelaki Ngiat Hiung (45) hingga dia pun berkeyakinan; apa yang kita beri dalam kehidupan ini, itulah yang akan kita dapatkan kembali sekalipun sedikit adanya.

Berbekal keyakinan itu pula Ngiat Hiung yang beretnis Tionghoa memutuskan  jalan hidupnya menerjunkan diri ke ranah birokrasi dengan menerima amanah dari masyarakatnya sebagai Kepala Desa Trubus Kabupaten Bangka Tengah di tengah kesibukannya sebagai petani lada. Sementara dari sesama etnisnya, mereka sibuk mengejar obsesi dalam dunia usaha dan pilihan ragam niaga lainnya.

Kalangan etnis Tionghoa yang memilih jalan hidupnya sebagai kepala desa di Kabupaten Bangka Tengah, jumlahnya boleh jadi sebatas hitungan jari saja. Jalan hidup Ngiat Hiung itu menjadi suatu bukti tingkat kerukunan umat beragama di Kepulauan Bangka Belitung nyata tak diragukan lagi. Pembauran antar agama dan etnis menjadi bagian dari dinamika penduduk yang harmonis, nyaris tanpa intrik di tanah melayu yang dikenal dengan sebutan Negeri Serumpun Sebalai.

Dipercaya menjadi kades oleh warga Desa Trubus, diakui Ngiat Hiung sejak dirinya memenangkan Pilkades pada Mei 2016 dan sebulan setelah itu dia dilantik Bupati Bangka Tengah Erzaldi Rosman sebagai tanda syahnya menjadi kades masa bhakti 2016 - 2022,  bersama 27 kades lainnya se Bangka Tengah yang dikenal dengan sebutan Negeri Selawang Segantang.

"Saya mau jadi kades karena saya ingin mewujudkan cita-cita untuk menciptakan suatu kondisi kehidupan yang penuh kebersamaan dan persaudaraan di masyarakat kami yang multi etnis. Hal ini hanya dimungkinkan bila saya menjadi pemimpin di desa kami," kata Ngiat Hiung kepada RRI Senin (9/1/2017) saat mengenang kembali masa-masa Pilkades lalu.

Melewati semester pertama menjalani hidup sebagai kades nyatanya tak semudah membalikan telapak tangan. Namun bagi Ngiat Hiung, itu pula yang menjadi tantangan menuju enam tahun ke depan menapaki tugasnya memimpin sekitar 1.433 warga menuju Trubus sebagai desa yang bersih, santun, unik,  damai, dan ramah (bersaudara).

Kades yang memiliki dua orang putera itu menuturkan untuk mewujudkan kehidupan yang penuh rasa kekeluargaan  di masyarakat yang majemuk itu tak semudah seperti yang dibayangkan sebelumnya. Tidak semua masyarakat mau dibina, belum lagi ada diantara warganya yang kurang memiliki rasa kepedulian dan kebersamaan membangun desanya. 

Dengan semangat kebhinekaan, Ngiat Hiung menjalankan tupoksinya sebagai kades, menatap masa depan desanya penuh optimis. Kerja pun diawalinya dengan kompromi-kompromi dan komunikasi persuasif kepada warganya, baik secara formal maupun informal. 

"Saya yakin dengan pendekatan dan pelayanan yang lebih tulus dan manusiawi lagi, mereka akan menyadari betapa indah dan pentingnya akan suatu hubungan yg saling asih dan asuh di kehidupan ini," ujarnya penuh optimis.

Memutuskan jalan hidup menjadi kades yang nota bene pelayan masyarakat, bagi Ngiat Hiung yang sempat mengantongi izajah SLTA itu berobsesi kuat ingin membuktikan bahwa dari kalangan etnis Tionghoa pun mampu andil dalam pembangunan di daerah. Kemudian langkahnya pun dia lakukan dalam pola pikir yang simultan dan membuang parsialisme untuk mengemban tugas membina 434 KK di desanya. Musyawarah dan mufakat menjadi pondasi dalam upaya mengaktualisasikan segala aspirasi masyarakat, berbungkus program kerja dan rencana strategis pembangunan dengan harapan mampu memberikan andil positif bagi desanya yang berada di wilayah Kecamatan Lubuk Besar itu.

Kades yang juga masih eksis sebagai petani lada itu, menurutnya orientasi sasaran program kerja tak lepas dari pijakan objektif bahwa potensi desanya  selepas dari masa kejayaan timah, Trubus akan lebih fokus pada sektor pertanian, perkebunan dan hortikultura. Ini menurutnya cukup relevan dengan luas Desa Trubus 7.423 Ha dimana sekitar 30% adalah luas lahan perkebunan, yang bila diolah dapat menghasilkan income bagi desa dan masyarakatnya.

Tanpa harus selalu mempertimbangkan profit oriented, menjalankan tugas sebagai kades memang diakuinya  dia menerima gaji bulanan sebesar Rp. 2,5 juta . Namun lebih dari itu tugas yang diembannya  memikul tanggung jawab moral yakni amanah yang diberikan masyarakat dan tak dipungkiri sekaligus ladang amal juga nafkah untuk memenuhi kewajiban seorang suami yang bertanggung jawab pada seorang istri berikut kedua puteranya.

Perjalanan Ngiat Hiung memimpin desanya menggapai Trubus sebagai desa "Bersaudara" relatif masih jauh. Namun itu takan terwujud bila tanpa diawali  langkah pertama  untuk memberikan andil bagi pembangunan daerah dalam kerja nyata; membangun harus dimulai dari desa.

Adanya perbedaan  warna kulit, etnis dan agama  bagi aktivis Organisasi Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Bangka Belitung itu bukan menjadi halangan untuk membina persatuan dan persaudaraan dalam membangun daerah dan bangsa Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

"Alangkah luar biasanya corak ragam kehidupan kita, semoga Bhineka Tunggal Ika bukan hanya sebatas retorika belaka," pungkas Ngiat Hiung. (LG/AA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00