• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Pengrajin Genteng di Desa Citeko Purwakarta keluhkan kualitas menurun

22 January
12:38 2016
0 Votes (0)

KBRN, Purwakarta : Tingginya curah hujan saat ini  sangat berdampak terhadap menurunnya kualitas genteng yang dibuat oleh para pengrajin genteng  di Desa Citeko, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Lambatnya proses pengeringan karena cuaca buruk berakibat pada menurunnya jumlah produksi genteng dari tanah liat tersebut.

“Curah hujan cukup tinggi, membuat genteng yang dijemur susah kering, selain berdampak pada kualitas genteng juga menurunnya jumlah produksi,” kata Ade Hamid (53) salah seorang Pengrajin  Genteng di Desa Citeko kepada wartawan, Jumat (22/1/2016).

Menurutnya, selain merugi, kualitas genteng juga dikhawatirkan menurun karena proses pengeringan yang tidak sempurna.

“Biasanya kita membutuhkan waktu selama dua hari untuk proses pengeringan, tapi karena sering hujan, prosesnya jadi membutuhkan waktu paling sedikit empat hari. Jika tidak kering betul nanti saat pembakaran tidak bisa sempurna, genteng akan mudah pecah,” ungkapnya.

Selain itu pada proses pembakaran genteng di musim hujan seperti sekarang biayanya menjadi bertambah dimana satu kali pembakaran menghabiskan kayu jati kering hingga 1 mobil colt diesel, dengan harga sekitar Rp2,5 juta, kalau musim panas satu mobil kayu jati biasanya dapat digunakan untuk dua kali pembakaran.

“Kalau musim panas lebih irit karena satu mobil kayu jati kering bisa di peruntukan dua kali pembakaran",tuturnya.

Terkait harga genteng Ade menjelaskan, kini harganya Rp1.100 perbuah, masih tetap tidak ada penurunan walaupun ada penurunan harga BBM belum lama ini. Sedangkan distribusinya berdasarkan pemesanan seperti ke Karawang, Bekasi, Subang dan Banten. Hal itu bukan tanpa alasan, karena persaingan di Purwakarta cukup tinggi dan pemesanan menurun dari beberapa tahun ke belakang karena, pemerintah setempat sendiri menggunakan genteng metal dibanding genteng yang terbuat dari tanah putih yang sudah menjadi ikon Kecamatan Plered.

“Terlihat dari kantor-kantor yang di bangun oleh pemerintah lebih memilih mengunakan genting metal dan itu menjadi faktor negatif kepada pengrajin genteng yang terbuat dari tanah,” keluhnya.

Dia berharap, pemerintah setempat bisa membantu mengembangkan pemasaran genteng Plered,sehingga para pengrajin genteng bergairah kembali. (Esa/WDA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00