• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sosial

Gelar Rakor Pengendalian Karhutla, Pemkab Kubu Raya Libatkan Perusahaan dan TNI/Polri

14 September
20:54 2019
0 Votes (0)

KBRN, Kubu Raya: Dampak terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menimbulkan kabut asap di sejumlah Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) mulai memprihatinkan dan mengganggu kesehatan, kondisi ini diperkuat dengan semakin bertambahnya pasien Inpeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang tersebar di sejumlah Puskesmas dan Rumah Sakit di Kalbar.

Bahkan untuk memberikan perhatian kesehtan kepada peserta didik, Gubernur Kalbar Sutarmidji, Bupati H. Muda Mahendrawan, S.H Dan Walikota Pontianak pada hari Rabu (11/09/2019) secara bersamaan mengeluarkan surat edaran berisikan agar Kelapa/Pengelola PAUD/TK/SD/SMP untuk meliburkan akivitas belajar mengajar selama 2 hari dari hari Kamis sampai hari Jum'at (12-13 September 2019). 

Tentunya kondisi ini, membuat Pemerintah Kabupaten Kubu Raya bergerak cepat mencari solusi tepat dengan menggelar Rapat Koordinasi Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Lahan Konsesi Perkebunan dan Areal sekitarnya serta Sosialisasi Peraturan Gubernur Kalbar Nomor 39 Tahun 2019 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan dengan melibatkan unsur TNI/Polri, Instansi terkait dan 28 perusahaan perkebunan Kelapa Sawit yang tersebar di sejumlah Kecamatan di daerah itu yang berlangsung di ruang rapat Bupati, Sabtu (14/09/2019).

Bupati Kubu Raya H. Muda Mahendrawan, S.H mengatakan, rakor ini bertujuan sebagai upaya memfokuskan dan memasifkan gerakan agar mampu memprovikasikan fikiran semua pihak agar tergerak dan ikut merasa berkepentingan.

"Muda-mudahan hasik dari rakor ini dapat merubah mindset semua pihak sebagai cara penanganan serta bagaimana kata bisa bersahabat dengan alam," ungkap Bupati Kubu Raya H. Muda Mahendrawan, S.H saat menyampaikan pengatarnya dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Lahan Konsesi Perkebunan dan Areal sekitarnya yang berlangsung di ruang rapat Bupati, Sabtu (14/09/2019).

Bupati Muda menjelaskan, berbagai upaya pencegahan Karhutla ini sudah dilakukan pihaknya dari sejak dulu dengan melakukan upaya bagaimana memperkuat dari diri masyarakat dengan memperbanyak kelompok termasuk di dalamnya Desa Peduli Api, Masyarakat Peduli Api (MPA). Tentunya langkah ini perlu diperkuat dan digerakan lagi di masyarakat tingkat Desa. 

Bupati Muda menambahkan, masalah Karhutla ini juga menjadikan Kabupaten yang ia pimpin saat ini mendapat tantangan besar, mengingat Kabupaten termuda di Kalbar ini memiliki lahan gambut yang sangat luas. Menurut dia, penegakan hukum diperlukan namun saat yang sama sosialisasi yang bersifat praktis harus diperkuat. 

"Sambil memperkuat penegakan hukumnya, tapi kita juga sambil terus mensosialisasikan yang langsung kepada prakteknya. Seperti yang pernah kita lakukan misalnya praktek membuka lahan dengan cara tanpa membakar, dan lain sebagainya," tuturnya. 

Muda menilai kebakaran lahan di Kubu Raya semakin tahun semakin berkurang. Pemerintah daerah, menurut dia, terus berkoordinasi dengan pemerintah desa agar terus berupaya melakukan langkah pencegahan.

"Desa-desa juga sudah banyak memberlakukan aturan internal. Meskipun saat ini masih ada kebakaran lahan, namun sangat volumenya sudah sangat berkurang jauh," paparnya.

Bupati Muda menjelaskan, persoalan Karhutla di Kabupaten Kubu Raya menjadi perhatian serius, karena Pemerintah daerah, terus berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan perkebunan yang ada di daerah ini dengan upaya imbauan dan penguatan sarana dan prasarana. Karena gambut ini bukan tanah tapi dari daun dan belukar yang memang sejak ratusan tahun sudah berproses, sehingga pada akhirnya penanganannya diperlukan yang sifatnya konferhensip.

"Kita terus berupaya agar perusahaan bisa memperkuat sarana dan prasarana serta merekrut lebih banyak lagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran lahan. Sebab kekeringan yang ada sekarang ini, karena memang hutan semakin sudah tidak ada lagi, pembanguan berjalan terus dan pembasahan lahan semakin berkurang, sehingga permukaan bawah tanah menjadi kering sekali. Tuntunya upaya-upaya yang dilakukan diperlukan kanalisasi", jelasnya. 

Di tempat yang sama Kapolresta Pontianak AKBP, Ade Ari Syam Indradi, S.H S.IK, M.H menyatakan kesiapan untuk bersama-sama melakukan pencegahan dan penanganan karhutla khususnya di Kubu Raya.

"Kapanpun kami diundang dan diajak turun kami jajaran Polresta Pontianak menyatakan siap untuk bersama-masa melakukan penangananan kahutla di Kabupaten Kubu Raya ini", tegasnya. 

Ade menegaskan berkomitmen untuk melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Bahkan pihaknya akan terus mencari para pelaku pembakar lahan.

"Semua sudah ada aturannya, tidak ada alasan untuk tidak tahu tentang aturan itu. Pak Bupati jangan takut, karena kami siap pasang badan dan melindungi bapak Bupati terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan ini," jelasnya.

Mantan Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya  ini menerangkan, menurut analisis Kapolda Kalbar, 99,9 persen penyebab kebakaran lahan karena ulah manusia. Bukan karena lahan gambut, angin, dan sebagainya.

"Meskipun lahan gambut yang terbakar, tapi kan ada awalnya. Ada api karena ulah manusia. Ini yang harus kita sadarkan bersama-sama," katanya. 

Sementara itu Kapolres Mempawah AKBP. Didik Dwi Santoso, S.I.K menuturkan, persoalan kebakaran lahan selalu terjadi di setiap tahun. Berulang di bulan Agustus hingga September. Ia mengungkapkan, hingga saat ini titik api yang terbanyak berada di wilayah hukum Polres Mempawah termasuk yang di Kubu Raya yakni di Kecamatan Batu Ampar.

"Keterbatasan personel dan prasarana menjadi hambatan, antara luas wilayah dengan jumlah personel dan jumlah sarana dan prasarana tidak berimbang," tuturnya. 

Menurut dia, kebakaran lahan yang terjadi selama ini selalu berulang di lokasi yang sama. Setiap menjelang musim hujan dari musim kemarau, titik api semakin banyak.

"Jika kita perhatikan sejak Agustus hingga September ini, beberapa pekan terakhir ini titik api semakin banyak," jelasnya.

Di sisi lain, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kubu Raya Mokhtar menuturkan, rakor dan sosialisasi adalah bentuk upaya bersama mencari solusi agar dapat terlepas dari musibah bencana kabut asap yang terjadi sejak Agustus hingga September 2019.

"Bahkan berdasarkan informasi dari BMKG, sampai awal Oktober nanti kondisi kemarau masih terjadi," tuturnya. 

"Kami berharap pihak terkait terus bersama-sama melakukan pencegahan dan penanganan kebakaran lahan. Kita harus bisa bersama-sama mencarikan solusinya," tambahnya.

Kegiatan yang digelar dengan dialog ini juga dihadiri Dandim 1207/BS Pontianak yang diwakilkan Kasdim Letkol CZI Darody Agus, SE, Asisten II Setda Kubu Raya Lugito, Camat, Kapolsek, Babinsa se-Kabupaten Kubu Raya, perwakilan Lanud Supadio, perwakilan dari Badan metreologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supadio 

  • Tentang Penulis

    Rino Kartono Mawardi

    1. Perjuangan Tanpa Pengorbanan adalah Omong Kosong dan Perjuangan Tanpa Do'a Merupakan Suatu Kesombongan...

  • Tentang Editor

    Rino Kartono Mawardi

    1. Perjuangan Tanpa Pengorbanan adalah Omong Kosong dan Perjuangan Tanpa Do'a Merupakan Suatu Kesombongan...

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00