• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Pemerintah Kenalka Mekanisasi, Kelola Lahan Tanpa Dibakar

24 September
23:47 2019
1 Votes (5)

KBRN, Pekanbaru: Kebakaran hutan dan lahan di Riau sengaja dilakukan oknum petani atau perusahaan untuk membuka lahan baru. Hal ini dianggap cara paling murah dalam bertani.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan pengolahan lahan dengan cara membakar memang lebih murah namun berdampak pada kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan buruknya hasil panen.

Ia mengembangkan cara pengolahan tanah yang dinamakan mekanisasi. Memang petani perlu biaya lebih untuk melakukannya.

"Kita udah lakukan demo berusaha tani mengolah lahan tanpa membakar hutan yaitu dengan mekanisasi di wilayah Palas. Mekanisasi memerlukan biaya untuk pembelinya. Tapi pemerintah menyanggupi," kata Winarno sebelum menutup KTNA di Pekanbaru, Selasa (24/9/2019) malam.

Dikatakan Winarno, pengelolaan mekanisasi dengan dukungan eskavator yang mampu bekerja cepat untuk mengurai tanah, namun tanpa harus melakukan pembakaran hutan.

"Sama saja dengan lahan rawa. Rawa pun kita eskavator dibantu pemerintah kita hanya membayar solar dan oeprator sehingga mencetak satu hektar lebih murah dari bahan biasa. Dengan catatan eskavator dibantu pemerintah," pungkasnya.

Jika tidak menggunakan cara mekanisasi kata Winarno, maka tak ada cara lain bagi petani untuk membakar hutan atau lahan. 

"Membuka lahan atau menanam di lahan kering ini, di lahan gambut mutlak memerlukan mekanisasi pertanian. Karena tanpa mekanisasi pertanian, ya tidak ada cara lain nanti akan dibakar. Hanya saja antara kost membakar dibandingkan pengelolaan ini memang lebih murah membakar tapi mengganggu semua," bebernya.

Jika kebakaran terjadi maka hasil pertanian akan rusak. Hal ini dikarenakan tidak maksimalnya pencahayaan dari terik panas matahari yang membantu proses pertumbuhan tanaman.

"Kami petani terganggu dengan adanya asap. Karena tanaman holtikultura terganggu, buah pada rontok karena tidak ada matahari. Tidak hanya pada buah-buahan, tanaman pangan kalau tidak ada matahari juga terganggu," jelasnya.

Dirinya berharap petani dan pemilik perkebunan bersama-sama menyelesaikan permasalahan ini. Akibatnya kerugian menghantui para petani.

"Kita masih hitung karena asap belum hilang sekali. Petani disini ada matoa, jambu, durian dan untuk holtikultura ada cabe, tomat jelas terganggu karena asap," tutupnya.

  • Tentang Penulis

    Santi Yunas

    Reporter <br />

  • Tentang Editor

    Santi Yunas

    Reporter <br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00