• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Kuota CPNS Khusus Disabilitas Sepi Pelamar

3 December
17:04 2019
0 Votes (0)

KBRN, Palangka Raya: Penyandang disabilitas diberi kuota sebesar dua persen pada formasi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2019. Namun kesempatan tersebut masih belum dimanfaatkan dengan baik oleh para penyandang disabilitas di Kalteng. 

Pada penerimaan CPNS 2019 di lingkup Pemprov Kalteng ada 7 formasi khusus disabilitas. Formasi yang tersedia khusus disabilitas yakni guru Bahasa Indonesia sebanyak 4 formasi, guru Matematika 2 formasi dan guru Sosiologi satu formasi. Namun yang melamar untuk jalur khusus disabilitas hanya 3 orang. 

Menurut Wakil Ketua Karya Disabilitas Daksa (KKDD) Kalimantan Tengah, M. Damuri, kesempatan tersebut belum banyak dimanfaatkan karena terkendala kualifikasi pendidikan. 

“Untuk penerimaan CPNS itu kan ada yang (kualifikasi) pendidikan. Kebanyakan dari kita kendalanya dari pendidikan, rata-rata sampai SMP jarang sampai ke jenjang yang lebih tinggi,” tuturnya kepada RRI pada peringatan Hari Disabilitas Internasional, Selasa (3/12/2019). 

M. Damuri mengungkapkan kurangnya dukungan dari keluarga kerap menjadi penghambat bagi penyandang disabilitas untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Menurutnya masih ada anggapan bahwa sekolah  tinggi bagi penyandang disabilitas tidak berarti apa-apa karena tidak akan mengubah kondisi mereka. Ditambah lagi masih banyak keluarga yang malu dengan kondisi anggota keluarga dengan disabilitas.

Sementara itu, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kalimantan Tengah, Juniar Rendy, mengungkapkan informasi kuota khusus bagi penyandang disabilitas belum tersampaikan dengan baik. Bahkan, meskipun informasi dan proses penerimaan CPNS dilakukan secara online menurutnya justru masih terbilang rumit. 

“Sebenarnya itu hal yang positif untuk penyandang disabilitas terutama dalam rangka memberi peluang yang sama utk bisa duduk sebagai PNS. Hanya dalam pelaksanaannya jangan setengah-setengah hati. Artinya diberikan pintunya tapi gak jelas pintunya,” ujarnya. 

Juniar Rendy juga mengkritisi soal ketidakberpihakan pemerintah terhadap penyandang disabilitas. Menurutnya Kalimantan Tengah khususnya Kota Palangka Raya masih jauh dari kata “inklusi”. Fasilitas fisik di kantor pelayanan publik dan di tempat-tempat umum lainnya tidak mudah diakses bagi penyandang disabilitas. 

Tema yang diusung pada Peringatan Hari Disabilitas Internasional tahun 2019 adalah “Indonesia inklusi, disabilitas unggul”. Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kalimantan Tengah, Nonsihai, menjelaskan bahwa semua warga negara tidak terkecuali penyandang disabilitas memiliki hak yang sama di bidang kesehatan, pendidikan, pembangunan dan lain-lain.

“Jadi kita berharap untuk penyandang disabilitas ini mari kita bersama seluruh masyarakat untuk bersama memberi perhatian penuh kepada penyandang disabilitas ini. Jangan ada stigma penyandang disabilitas ini sebagai beban di dalam masyarakat,” katanya. 

Nonsihai mengatakan penyandang disabilitas memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai Warga Negara Indonesia. Bahkan menurutnya, seorang penyandang disabilitas dapat memiliki kemampuan dan keahlian melebihi orang normal apabila mereka dilatih dan dibekali keterampilan yang sesuai bakat minatnya. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00