• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Perdagangan Orang Bisa Muncul Akibat Himpitan Ekonomi

5 November
12:52 2019
0 Votes (0)

KBRN, Palangkaraya : Di tengah himpitan ekonomi, masyarakat diminta mewaspadai modus modus perdagangan orang, mengingat dampak yang ditimbulkan bisa mengancam keselamatan jiwa.

Kabid Humas Polda Kalimantan Tengah Kombes Pol Hendra Rochmawan terus mengingatkan kepada generasi milenial, terhadap bahayanya kasus perdagangan orang, bukan hanya menjadi isu nasional tetapi juga menjadi isu internasional yang harus dicegah sedini mungkin. Untuk bisa mencegahnya masyarakat diimbau tidak mudah tergiur dengan ajakan segelintir oknum yang menawarkan pekerjaan dengan iming iming gaji besar ke luar negeri, sebab berawal dari hal tersebut, kasus perdagangan orang muncul.

Masih kata Hendra, akibat lilitan hutang bisa juga membuat seseorang masuk dalam jebakan batman kepada perdagangan orang, karena berkaca pada kasus sebelumnya, human trafficking bisa saja diarahkan untuk menjadi budak, pembantu, prostitusi, disiksa sampai diambil organ tubuh, bahkan tak sedikit yang sudah menelan korban jiwa, seperti kasus yang sedang viral di Inggris ditemukan puluhan orang terbujur kaku di dalam truk dampak dari perdagangan orang.

“Kita ingatkan kepada generasi muda khususnya yang kurang mendapatkan perhatian dari keluarga, tidak mudah tergiur dengan ajakan orang tak dikenal, apalagi sampai ditawarkan pekerjaan ke luar negeri,” kata Hendra kepada RRI Selasa (5/11/2019)

Ia menambahkan, upaya menyetop perdagangan orang semakin marak, Polda Kalteng melakukan gerakan nyata dengan mengunjungi sekolah sekolah tingkat pertama dan atas, menyampaikan terkait bagaimana modus modus munculnya perdagangan orang bisa terjadi, dengan harapan lebih waspada dan selektif dalam memilih pekerjaan yang belum jelas arahnya, apalagi sampai dibawa ke luar negeri.

Sementara itu, hukuman pelaku perdagangan orang akan dijerat dengan kurungan penjara paling singkat 3 tahun, maksimal 15 tahun, denda uang paling sedikit Rp 120 juta paling banyak Rp 600 juta, ini diberikan bagi siapapun yang membawa kabur anak orang, kemudian di eksploitasi ke luar dari wilayah hukum Republik Indonesia .

  • Tentang Penulis

    Edy Suroso

    Reporter RRI Palangkaraya : hari hari saya, saya habiskan untuk kegiatan keagamaan, mencari berita dan dunia pendidikan non formal.

  • Tentang Editor

    Edy Suroso

    Reporter RRI Palangkaraya : hari hari saya, saya habiskan untuk kegiatan keagamaan, mencari berita dan dunia pendidikan non formal.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00