• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Ketika Bumi Andalas Tak Lagi Berseri, Prajurit Sejati Menghentak Sejuta Inovasi

22 February
09:27 2020

KBRN, Padang : Deru kendaraan memecah keheningan rerimbunan belantara dengan deretan pepohonan meraksasa,  menjulang di ketinggian cakrawala. Hijau dedaunan menabur gelora, berpacu  dengan irama mesin kendaraan roda empat yang  ketika itu  melaju di jalanan yang  baru saja dibuka prajurit Korem 032 Wirabraja. Di sela angin yang berhembus, sayup tercium aroma juang, kerja keras bermandikan  keringat pahlawan  berseragam hijau loreng. Enam bulan lebih kurang satuan tempur itu bertahan di sudut belantara  tidak terjamah. Siang malam meretas setapak, menukik bebatuan dan terjalnya perbukitan, menghalau hawa dingin yang merasuk tulang serta  panasnya terik,  demi mewujudkan harapan masyarakat, secepatnya  memiliki akses transportasi  yang layak.

Ya, Jalan Trans Mentawai sepanjang 29 klometer yang dimulai dari Siberut Utara hingga Siberut Barat di  Labuan Bajau, Politcoman, Simalegi sampai ke Simatalu baru saja diretas. Senyum bahagia terpampang nyata di raut wajah pribumi. Tidaklah sia-sia, pemerintah pusat melalui APBN mengucurkan dana 29 miliar untuk mengejar ketertingalan daerah yang dijuluki Bumi Sikerei itu. Pembangunan infrastruktur jalan ibarat jenjang masa depan untuk masyarakat bisa  menata kehidupan yang lebih layak.

Terbukti, sejak dibukanya jalur darat yang menjadi  penghubung antar  desa dan kecamatan, aktifitas perekonomian perlahan menggeliat. Tidakada lagi hasil kebun yang membusuk dan terbuang percuma. Durian dan pisang yang bertandan-tandan sudah bisa dijual ke desa lain. Begitu juga pinang dan kakao yang selama ini menumpuk  di kebun, mulai dipasarkan ke luar daerah. Rupiah menggelinding, seirama laju roda kendaraan roda empat yang  kini bebas mengangkut aneka hasil bumi ke luar Mentawai.

Saguruk,  warga Desa Terekan Hulu, Siberut Utara ini optimis dengan perkembangan desanya saat ini. Meski belum rampug secara utuh, Trans Mentawai sepanjang 29 kilometer serta merta  mendorong aktifitas perekonomian masyarakat di daerah pedalaman. Petani bisa  langsung menikmati penjualan hasil bumi dan sebagian tentunya bisa disisihkan untuk biaya pendidikan anak serta kebutuhan lainnya. Pada intinya, pembukaan jalan Trans Mentawai menambah nilai pendapatan masyarakat dari jalur darat.

“Jalan Trans Mentawai menghubungkan antar desa dan kecamatan. Otomatis warga kini lebih leluasa menggunakan jalur darat untuk menjual hasil pertanian ke desa lain, bahkan ke luar Mentawai,” ujar Saguruk kepada RRI, Senin, (23/12/2019).

Anak-anak pedalaman yang sebelumnya putus sekolah atau sama sekali belum mengecap pendidikan, bisa segera bersekolah. Demikian pula ibu-ibu hamil dan orang tua, bisa dengan mudah mendapatkan pelayanan medis melalui akses jalan yang baru dirintis. Mereka tidak semata bergantung dengan jalur laut yang penuh risiko. Hanya dengan jarak tempuh relatif singkat, warga bisa memenuhi berbagai kebutuhan,  mulai dari kebutuhan pokok, kesehatan, pendidikan  dan aktifitas lainnya.

Hal senada diungkapkan Camat Siberut Utara, Agustinus yang merasakan dampak positif pembukaan lahan Trans Mentawa,  kerjasama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional – BPJN III Padang dengan Korem 032 Wirabraja selaku pelaksana. Pembukaan jalan dari Desa Tarekan Hulu ke Politcoman, dilanjutkan ke Sigappokna membawa perubahan luar biasa nantinya.

“Seluruh hasil pertanian bisa diangkut dengan menggunakan jalur transportasi darat yang dari segi ekonomi jauh lebih efisien dibanding menggunakan armada laut yang jumlahnya masih terbatas,” papar Agustinus.

Sebutan daerah terisolir pun  perlahan bisa dilepas dari negeri yang dikenal dengan surga wisatanya yang mendunia ini. Tidak hanya berdampak terhadap geliat perekonomian, namun juga merangkul sektor lain, yakni pariwisata daerah. Pulau cantik dengan Taman Nasional Siberut yang oleh UNESCO ditetapkan sebagai cagar biosfer  nyatanya menawarkan kombinasi  wisata unik yang tidak dimiliki daerah lain. Pembukaan jalan Trans Mentawai berkontribusi terhadap geliat industri pariwisata yang ditandai meningkatnya minat kunjung wisatawan, menapakkan kaki di Pulau Siberut.

Seemntara itu, Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet kepada RRI, Senin, (23/12/2019) menegaskan, tiba waktunya masyarakat bangkit mengejar ketertinggalannya. Jalan Trans Mentawai ibarat mimpi yang lama dirindukan warga. Kebutuhan utama yang selama ini terpinggirkan hingga mengapungkan keterbelakangan dalam kurun waktu yang cukup panjang akhirnya terpnuhi.

“Apresiasi kami, warga Siberut Utara kepada prajurit TNI yang  berbuat nyata untuk masyarakat. Trans Mentawai sejatinya menjadi urat nadi pertumbuhan ekonomi masyarakat dalam menuntaskan persoalan kemiskinan dan keterbelakangan. Secara bertahap, akses transportasi ini menuntun warga membangun kemandirian melalui berbagai usaha berbasis pemberdayaan ruang  ekonomi kerakyatan,” urainya.

Menjawab keinginan tersebut, Korem 032 Wirabraja di bawah kepemimpinan Danrem 032 Wirabraja, Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo mengembangkan inovasi dan kreatifitas prajurit TNI AD. Dalam perbincangannya dengan RRI, jenderal bintang satu ini menegaskan, pentingnya sinergitas dalam membangun kemandirian masyarakat di berbagai daerah.

Bermacam inovasi diluncurkan prajurit TNI AD. Slogan bersama rakyat TNI kuat jelas Kunto Arief Wibowo bukan basi-basi adanya. Fakta riilnya menyebutkan, setiap inovasi yang digulirkan, mengisi ruang kosong dalam kehidupan masyarakat dan kelanjutannya bernilai manfaat untuk berbagai kepentingan.

“Prajurit sejati idealnya berjuang untuk rakyat dalam situasi apa pun. Loyalitas yang ditunjukkan adalah bukti nyata kecintaan TNI terhadap rakyat,”tegas Kunto, Kamis, (20/02/2020).

Kecintaan kepada rakyat  tidak hanya ditunjukkan di medan perang. Dalam kehidupan sehari-hari, TNI membantu masyarakat  menyelesaikan berbagai persoalan, seperti halnya inovasi Bios 44 yang telah lebih dulu diterapkan di Sumatera Selatan. Sumatera Barat jelas Kunto memiliki lahan pertanian yang cukup luas  dan dalam pengelolaannya seringkali menimbulkan persoalan lingkungan sehingga diperlukan metode tata kelola lahan  yang ramah lingkungan.

Kecenderungan  yang ditemui, masyaraka lebih terpacu membuka lahan baru  dan meninggalkan begitu saja lahan tidak produktif. Hal demikian adalah perkara serius yang jika tidak segera ditanggulangi, berpengaruh negatif terhadap lingkungan. Lahan tidak produktif semakin meluas dan berakibat terhadap penurunan produktifitas hasil pertanian.

Melalui formula unggulan Bios 44, Korem 032 Wirabraja berupaya  mengedukasi masyarakat di daerah yang dijuluki Lansek Manieh. Ribuan hektar lahan bekas tambang tidak berhumus  di Kabupaten Sijunjung dipulihkan dalam rentang waktu tertentu. Hal yang tidak diduga sebelumnya, lahan tidak produktif selanjutnya bisa dimanfaatkan kembali untuk kegiatan bernilai ekonomi, salah satunya kegiatan budidaya perikanan.

Hampir 70 persen masyarakat di Kabupaten Sijunjung bermata pencaharian sebagai petani. Pembangunan kolam ikan pada lahan bekas tambang diharapkan dapat menjadi solusi tepat mengatasi persoalan  tata kelola lingkungan di samping keinginan memperkuat potensi usaha masyarakat di daerah tambang.

“Tata kelola lahan ibarat menjaga keseimbangan gizi ada seporsi makanan di piring. Mesti ada keseimbangan gizi mencakup  di dalamnya lauk,pauk, sayur, buah dan unsur lain yang dbutuhkan tubuh,”tutur Kunto

Dari hasil budidaya perikanan tersebut, masyarakat bisa merasakan pentingnya tata kelola lingkungan dalam pengunaan lahan pertanian. Lahan yang digunakan  tidak selamanya produktif, pada waktu tertentu perlu dekomposer Bios 44 untuk menormalisasi lahan bekas area tambang tersebut.

Karya nyata prajurit Korem 032 Wirabraja tidak saja diimplementasikan  pada sektor pertanian dan perikanan. Teknologi terapan juga menjadi obat penyembuh derita masyarakat di daerah  terisolir, seperti di pedalaman Mentawai. Kesulitan air bersih pada sejumlah daerah, menuntut prajurit sejati senantiasa mengembangkan inovasi melalui teknologi terapan.

Mesin penjernih air yang dirakit prajurit TNI nyatanya berkontribusi mengatasi kemarau panjang yang terjadi sepanjang tahun 2019. Sejumlah daerah mengalami kekeringan, bahkan gagal panen. Hal yang memilukan, kebakaran hutan pun tidak bisa dielakkan.

Untuk mendapatkan air bersih, warga harus harus antre dengan  membeli air kemasan di depot air minum isi ulang. Bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan ekonomi,  terpaksa meggunakan sumber air dengan kualitas apa adanya. Begitu mirisnya hingga mendorong Korem 032 Wirabraja merakit teknologi mesin penjernih air yang ketika selesai, langsung dikirim ke daerah pulau terluar dimaksud.

Mesin penjernih air tersebut jelas Danrem 032 Wirabraja, Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo memiliki keunggulan luar biasa. Mesin ini bisa mengolah air limbah menjadi air yang layak diminum sehingga mudah digunakan untuk berbagai keperluan.

Hingga kini, mesin penjernih air itu  masih bertahan di Mentawai. Dibanding daerah lain, Mentawai menurut Kunto  jauh lebih membutuhkan. Ia berharap, kebutuhan masyarakat  terhadap air bersih  dapat terpenuhi. Kekhawatiran anak-anak terjangkit wabah penyakit karena mengkosumsi air tidak sehat dapat ditanggulangi dengan tekonologi terapan dimaksud. Kesulitan warga terbantu sehingga pemerataan pembangunan betul-betul dirasakan penduduk di pelosok negeri.

Tidak hanya memacu sinergitas personil, Korem 032 Wirabraja  juga menggalang kemampuan berinovasi kalangan muda, khususnya pelajar sekolah. Belum lama ini, Korem  032 Wirabraja  menggandeng dunia pendidikan dan instansi terkait menghasilkan karya yang bernilai guna untuk masyarakat di daerah.

Tipologi alam Sumatera Barat yang rawan bencana menuntut berbagai pihak mampu berkreasi, menerapkan  nilai-nilai pemikiran yang bermanfaat untuk keepntingan banyak orang, salah satunya dalam penanganan kebencanaan daerah,” urainya kepada RRI.

Pelatihan pembuatan drone mengawali langkah TNI memacu ruang kreatifitas pelajar sekolah. Alhasil, dengan memberdayakan peralatan yang ada, pelajar SMK Kartika mampu menghasilkan produk berdaya teknologi.

Pesawat nirawak yang sebelumnya digunakan sebagai mesin pengintai, melakukan serangan udara, nyatanya juga berperan dominan untuk penanganan mitigasi bencana, terlebih Sumatera Barat yang merupakan daerah rawan dengan julukan supermarket bencana.

Lagi-lagi TNI  gencar berinovasi untuk negeri. Mesin pengolah limbah plastik menjadi bahan bakar minyak pun  kini dalam proses pembuatan. Jika mesin ini rampung, kekhawatiran limbah plastik merusak lingkungan dengan kendala utama,  masa  urai yang  mencapai puluhan tahun dapat segera ditindaklanjuti.

Pada dasarnya, apa yang diperbuat TNI AD khususnya prajurit Korem 032 Wirabraja jelas Kunto Arief Wibowo adalah sumbangsih ikhlas untuk kejayaan negeri. Kesakitan dan derita rakyat ibarat panggilan nurani  agar TNI tak pernah berhenti,  berbuat dan berinovasi.   

 

00:00:00 / 00:00:00